13

1.2K 122 11
                                        



Setelah kejadian yang tidak sengaja Atlan saksikan antara Renan dan Sean kemarin, Sean belum memunculkan batang hidungnya hingga sekarang. Padahal sudah lewat jam makan siang, ini sudah hampir jam 4 sore.

Harus Atlan akui, itu membuat sesuatu terasa kurang. Mungkin karena hampir dua minggu berturut - turut, hampir tiap hari selama itu direcoki Sean, sehari tanpa bawelnya agak sedikit terasa aneh.

Tapi tenang, Atlan tidak yang sampai berlebihan hingga mencari sosok itu kok, dia tidak sejatuh itu. (Atau mungkin belum)

Atlan menebak, mungkin Sean takut pada Renan.

Peduli bodoh.

Renan bahkan lebih kecil dari Sean. Takut?

Tidak mungkin. Atlan ingat bagaimana Sean menatapnya lurus bahkan ketika ia melukai tangan anak itu, atau hari lain ketika ia mencengkram kasar wajahnya hingga meninggalkan bekas cakaran. Sean, dia tampak tak goyah sama sekali. Jadi tidak mungkin dia ciut hanya karena ulah Renan, iyakan?

"Tapi dia ringan,." Atlan menyuarakan isi kepala tanpa sadar "dan lemah." tambahnya di akhir dengan suara yang tak seberapa besar.

"Siapa?" tanya Celo bangkit dari rebahannya di sofa.

Suara Atlan kecil, tapi ruangan itu sedang tenang - tenangnya. Karina sedang bermain dengan ponsel pintarnya, Celo sedang rebahan sembari menatap langit - langit entah memikirkan apa, dan jauh dari ketiganya, ada Marko yang berbaring tenang dengan mata tertutup di kursi malas.

Terlalu hening hingga Celo yang memang hanya sekedar berbaring mendengar kalimat itu.

"Siapa apanya?" tanya Karina.

"Yang ringan dan lemah." jawab Celo sembari menunjuk Atlan.

"Ringan dan lemah?" Karina.

Ah, sial. Pikir Atlan.

"Hyung, apa yang ringan dan lemah?" ulang Celo dengan berisik.

"Kelinci." jawab Atlan sekenanya.

"Kelinci?" Celo tampak berfikir.

Marko juga yang tadinya menutup matanya, tampak tertarik, dia membuka matanya.


"Kau menyerah?" Tanya Hago dengan ekspresi kager yang berlebihan, tapi itulah Hago.

"Em." jawab Sean tenang.

"Setelah ini?" Hago menaikkan tangan Sean yang masih di perban. Sebenarnya Hago sudah tau kalau itu sudah sembuh, Sean masih menggunakan perban itu untuk terlihat menyedihkan didepan Atlan. Tapi sekedar mengingatkan Sean saja dia pernah benar - benar sakit di sana.

Sean menarik tangannya, lalu memasukkan leptop miliknya kedalam tas miliknya.

"Hei, kemana senangat membaramu kemarin? Kalu bahkan membuat kita mengempeskan ban mobil kak Atlan."

Sean melirik sebentar, tapi hanya sebentar sekali sebelum bangkit dan berjalan meninggalkan kelas. Hago menyusul secepat yang ia bisa.

"Hei, apa perasaanmu hilang secepat itu tumbuh?" tanya Hago lagi di sela langkah mereka. "Wah Sean, padahal siapapun bisa melihat kalau kak Atlan mulai tertarik padamu."

SAMUDRA ATLAN || NOMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang