33

667 82 14
                                        

Punggung itu lagi.

Nalend berjalan pergi melalui pintu keberangkatan bersama 2 orang pria berbadan besar yang mengawalnya.

Tentu saja dua pria itu adalah suruhan Tiffany.

Dan ini tentang perasaan Marko.

Rasanya de javu.

Terakhir kali Nalend meninggalkan negara itu bertahun lalu, Marko juga berdiri disana, menatap punggung itu diam - diam dari jauh tanpa sepengetahuan siapapun.

Seolah mengucapkan kata perpisahan dalam diam ditengah bising yang mengisi bandara itu.

Faktanya, dalam diamnya, Marko selalu ada untuk Nalend.

Cintanya tidak hanya bertepuk sebelah tangan, dia kalah pada saudaranya sendiri dan tidak punya jalan keluar untuk perasaannya.

Marko adalah seburuk - buruknya jatuh hati.

Tapi kata orang, laki - laki akan sulit melupakan cinta pertamanya. Dan sialnya, Nalend ini adalah cinta pertama Marko.

Jadi jika dikatakan punggung Nalend yang berjalan pergi cukup melukai perasaannya, itu tidak bohong.

🦋

Pukul 3 dini hari, Atlan terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk yang sama seperti biasanya.

Mobil, hujan, dan seseorang yang berlari kearahnya dengan panik.

Dan seperti kemarin - kemarin ketika mimpi itu datang, Atlan akan merasa buruk. Jantungnya berdetak tak nyaman. Dan itu menyebalkan.

Semakin hari, mimpinya semakin lain. Skenarionya berbeda, dan yang paling menyebalkan, wajah yang tidak bisa ia ingat membuat hatinya selalu merasa gelisah.

Tunggu.

Atlan meraba kesamping, ketempat seharusnya Sean berbaring sekarang, berusaha menemukan tenang yang biasanya berhasil ia temukan saat berada disekitar sosok itu.

Tidak ada?

"Ah sial, kemana dia?" ucapnya dengan suara parau.

"Ketempat dimana kau tidak akan menemukannya." seseorang menjawab pertanyaan Atlan.

Lalu mengangkat pandangannya, Atlan menemukan Marko berdiri didepan foto besar milik mereka, dimana dalam foto itu mereka berlima tampak muda dan bersemangat.

Sudah pernah ditulis, base mereka tidak memiliki pembatas kecuali untuk kamar mandi. Jadi Atlan bisa melihat Marko dari posisinya duduk.

Atlan memutar bola mata malas, berniat acuh dengan bangkit dan menggunakan kembali pakaiannya yang sempat tanggal.

Hubungan keduanya sedang tidak baik, kalian tau.

"Helen,." Marko.

Mendengar nama itu, Atlan yang sedang memungut bajunya berhenti, ia kembali berdiri dari jongkoknya.

"Kau tidak bisa ingat kenapa dia pergi kan?"

Atlan diam.

Helen? Ingat foto itu berisi 5 orang? Marko, Atlan, Celo, Karina dan terakhir, namanya Helen.

Helen Assegaf.

Dia gadis campuran. Matanya sipit, hidungnya kecil, rambutnya pirang alami, dia cantik dan dalam pembicaraan tetua keluarga Argon, mereka berdua selalu diandai - andaikan bersama.

Sempurna, katanya.

Setara, alasannya.

Halen juga bukan orang lain. Dia adalah salah satu yang paling dekat dengan Atlan.

SAMUDRA ATLAN || NOMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang