30

705 75 5
                                        



Renan marah. Ia merasa terhina dengan ucapan Marko tempo hari.

Terlebih saat ini. Saat ini dia sedang bersiap dan melihat memar di leher jengjangnya. Masih merah bekas cekikan Marko. Itu membakar amarahnya.

"Arghh!" Renan melempar cermin didepannya dengan pas yang berhasil ia raih.

Ini menyebalkan dan lebih menyebalkan karena menutupi itu dengan scarf bermotif dengan harga fantastis bahkan tidak membantu moodnya membaik.

"Marko sialan, beraninya dia!" Jeritnya kesal.

-

"Kau yakin akan kembali kekampus?" keluh Hago.

Saat ini, ia sedang memperhatikan punggung Sean yang bersiap - siap kekampus, sedang dia duduk tak jauh dari sang sahabat.

"Apa kau yakin Sam tidak pernah menghubungimu?"

Pertanyaan itu lagi, nama itu lagi. Hago memutar bola matanya malas. Hago tidak berada dalam mood yang baik tapi Sean terus menanyakan hal yang sama beberapa waktu belakangan.

Sekarang hampir seminggu setelah kejadian itu, Sean masih dalam perawatan jalan. Tulangnya belum benar - benar pulih tapi karena tidak ada komplikasi dia sudah diijinkan untuk pulang. Dokter memperbolehkan dengan catatan; tidak boleh beraktifitas berat dan harus rutin meminum obat pereda nyeri.

Sean sebenarnya hanya tak tahan. Dia menunggu Atlan hampir tiap saat selama hampir 4 hari belakangan, tapi bagaimana mungkin sosok itu bahkan tidak pernah menampakkan batang hidungnya setelah kejadian yang mematahkan tulang rusuknya? Dia tak mengirim pesan dan tidak mengangkat panggilannya.

Sangat buruk.

Padahal ini moment langka yang bisa Sean manfaatkan untuk memupuk kedekatan mereka.

Seingat Sean, dulu Samudra-nya tidak begini. Apa kehilangan ingatan juga menghilangkan separuh rasa kemanusiaan pria itu?

Dan lagi, seingat Sean, dia tidak melakukan kesalahan apapun belakangan. Hubungan mereka nyaris terlalu baik.

Ngomong - ngomong kalau di pikir - pikir, bukan hanya Atlan yang tak pernah ia temukan, Marko juga begitu. Kalau ini sebenarnya Sean tak begitu peduli, tapi semuanya terasa mulai sedikit Aneh setelah Sean mengingat Marko.

Terlalu aneh.

Sean menghentikan gerakan tangannya setelah menyadari point ini.

"Hago,." Sean berbalik kearah Hago.

"Em?"

"Apa terjadi sesuatu selama aku tak sadarkan diri?"

Hago tampak berfikir "Aku putus dengan Marko?"

"Apa?!"

Oke berlebihan, Hago mengelus dadanya pelan, agak sedikit kaget mendengar suara Sean yang tiba - tiba meninggi. Apa tertidur dua hari membuatnya menjadi lebih ekspresif?

"Kau mengagetkanku."

Sean berjalan mendekat dan duduk tepat disamping Hago. Sean tidak pernah tertarik tau, bukan karena tidak tertarik, tapi karena dia sadar diri. Dia juga banyak tidak terbukanya pada Hago. Karena itu, dia menunggu Hago untuk cerita.

"Apa itu alasan dari mata bengkakmu belakangan ini?" tanyanya "Apa itu yang membuatmu menangis di rumah sakit waktu itu?" lagi "Apa yang Marko pikirkan sampai dia melakukan itu?" lagi "Apa dia berselingkuh?" lagi "Aku tau ini akan terjadi, kau buruk dalam menilai pria."

Oke, Hago melongo sedikit. Sean menjadi benar - benar ekspresif. Dia tidak terdengar seperti Sean berwajah datar, dengan vibe 'tak tertarik hidup' seperti yang ia kenal.

SAMUDRA ATLAN || NOMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang