4

2.6K 247 15
                                        



BRAGH

Satu pukulan, dan perhatian satu kelas tertuju pada satu meja yang berada di barisan paling belakang.

Sean yang terusik tidurnya dengan suara dentuman keras itu, pelan, mengangkat kepalanya.

Satu donggakan, kemudian satu senyum lebar menyusul di wajah mengantuk miliknya.




Hago sedang mengantri waktu itu.

Selepas membeli jajanan dan cemilan ringan, Hago ikut berbaris dibarisan yang cukup panjang.

Kantin mereka cukup luas, tapi ada satu tenant minuman yang populer disana. Nah karena populernya itu, belinya harus antri.

Jangan tanya kenapa Hago disana sendirian seolah tak punya teman. Sean bukan anak yang bisa di ajak kekantin begitu saja. Harus dia yang ingin atau tidak sama sekali. Hago tidak masalah juga sebenarnya, toh meski jalan sendiri, dia mengenal hampir semua orang disana. Hago itu ramah dan baik, dia mudah akrap hampir dengan siapapun yang dia mau.

Tidak heran juga jika sejak tadi ada saja yang menyapanya.

Tak begitu lama berdiri disana, perhatian Hago teralihkan sedikit dari ponselnya. Karena ketika antrian semakin menipis dan gilirannya semakin dekat, Hago tidak sengaja mendengar satu nama yang familiar ditelinganya.

"Kak Atlan."

Hago menajamkan pendengarannya.

Mau bagaimana lagi, agak aneh, tapi karena Sean sering menyebut orang itu belakangan, Hago menjadi lebih fokus ketika nama itu di sebut. Seolah mereka kenal.

"Dia di fakultas kita?"

Hago melirik dan melihat teman dari yang bertanya mengangguk.

"Kau salah lihat. Tidak mungkin seorang kak Atlan jauh - jauh ke fakultas Seni." gadis itu mengibaskan tangannya "sangat tidak mungkin."

"Nah itu. Untuk apa?"

Nah, untuk apa Go? Hago yang memang dasarnya mudah kepo jadi ikut berfikir. Rasanya janggal, dan ingatannya membawanya pada kejadian kemarin, dimana sang sahabat menguras habis angin pada ban mobil milik si presma.

"Tidak mungkin'kan?" ucap Hago dengan mata membulat.

"Hago mau pesan apa?" tanya mba - mba penjaga tenant menyapa Hago sembari menepuk lengannya pelan.

Hago berkedip pelan, tapi tidak lama, karena begitu ia selesai mengolah hal itu dikepalanya yang tidak secerdas milik Sean, dia berdecak pelan.

"Ah Sean, aku ini akan rumit." Selanjutnya, Hago dengan cepat berlari meninggalkan tempat itu, mengabaikan soal antrian yang bahkan baru sampai pada gilirannya.




"Halo." Sapa Sean dengan senyuman ramah ketika menyadari siapa yang baru saja memukul mejanya.

"Halo?" ulang Atlan dengan wajah dingin. Semakin emosi melihat bagaimana pria yang berhasil membuat moodnya berantakan mengatakan kalimat itu dengan senyuman.

Sial, rasanya Atlan benar - benar dipermainkan. Apakah dia mulai tampak mudah karena hidup cukup tanang belakangan ini? Apa karena itu seseorang berani memasuki area tenangnya dan memperlakukannya seperti itu?

Atlan tidak habis pikir, dia terkekeh pelan sebelum selanjutnya semakin menajamkan tatapan sinisnya.

"Kau orangnya, iyakan?" tanyanya Atlan, formalitas, tapi dia butuh kepastian.

Tapi tau yang membuat Atlan lebih kesal? Pria yang duduk didepannya dengan tenang itu tanpa gentar, segera mengangguk dengan wajah tak bersalah sama sekali. Ia mengangguk dengan polos, tanpa repot mempertanyakan kejadian yang mana yang Atlan maksud, bertingkah seolah apa yang ia lakukan kemarin dan minggu sebelumnya itu, sama sekali bukan apa - apa.

SAMUDRA ATLAN || NOMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang