Beberapa hari setelah percakapan mereka yang canggung, Zainal semakin menarik diri. Perasaan kesal dan kebingungannya terhadap Sarah mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin. Ia tidak lagi mencoba mendekat atau mencari cara untuk berkomunikasi lebih baik. Jika sebelumnya ia masih menunjukkan sikap perhatian, kali ini ia memilih untuk tetap diam, menjaga jarak yang lebih besar.
Sarah merasakannya. Setiap kali ia memasuki rumah, Zainal sudah ada di sana, duduk di ruang tamu atau ruang makan, sibuk dengan ponselnya atau buku yang sedang dibaca. Tidak ada lagi pertanyaan ringan atau percakapan santai seperti dulu. Zainal bahkan tidak menoleh saat Sarah lewat di depannya, seolah ia bukan lagi orang yang dikenalinya.
Malam itu, setelah Sarah pulang kuliah, ia mendapati Zainal sedang duduk di ruang makan, menikmati makan malam sendirian. Hening. Tidak ada kata-kata, hanya suara sendok dan garpu yang berbunyi sesekali. Sarah berhenti sejenak di ambang pintu, melihat Zainal yang tampak tidak peduli. Biasanya, Zainal akan menyapanya atau setidaknya menanyakan tentang harinya. Tapi sekarang, ia tidak melakukan apapun.
Sarah merasa sedikit canggung, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang. "Zainal," panggilnya, mencoba memulai percakapan.
Zainal hanya menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada makanannya. "Hmm?" jawabnya datar, tanpa ekspresi, seperti tidak tertarik untuk berbicara lebih jauh.
"Apa kita nggak perlu ngobrol lagi?" Sarah bertanya, sedikit ragu, namun ada rasa frustrasi di dalam suaranya.
Zainal menatapnya sejenak, lalu melanjutkan makannya tanpa berkata apa-apa. Sarah merasa kesal, namun ia juga tak bisa berkata lebih banyak. Rasanya seperti ada tembok besar di antara mereka. Ia ingin berbicara, mengungkapkan perasaan yang terpendam, tetapi Zainal yang sekarang justru menghindarinya, seperti ia tidak peduli lagi dengan apapun yang terjadi di antara mereka.
Sarah duduk di meja makan, berusaha makan, meski makanannya terasa hambar. Keheningan yang menggelayuti malam itu semakin menyiksa. Zainal tetap tidak membuka percakapan, tidak menunjukkan sedikit pun ketertarikan pada apa yang sedang Sarah rasakan.
Saat Sarah selesai makan, ia beranjak pergi dari meja, berusaha menghindari tatapan Zainal. "Gue mau tidur dulu," ujarnya singkat.
Zainal hanya mengangguk tanpa menatapnya. "Oke," jawabnya dengan suara datar, dan kembali fokus pada ponselnya.
Sarah meninggalkan meja makan dengan perasaan kosong. Keputusan Zainal untuk lebih dingin seolah-olah meruntuhkan harapannya untuk adanya perubahan. Selama ini, meskipun hubungan mereka jauh dari sempurna, ada sedikit rasa hangat dari Zainal yang membuatnya merasa diterima. Tapi sekarang, Zainal berubah menjadi sosok yang begitu jauh. Seperti ada tembok yang dibangunnya sendiri, dan Sarah merasa semakin tersingkir di dalam rumah itu.
Sore harinya, Sarah mencoba untuk mengajak Zainal berbicara lagi, tapi Zainal tetap menjauh. Bahkan saat Sarah menawarkan sebuah pertanyaan sederhana atau ingin berbicara tentang hari-hari mereka, Zainal hanya menjawab dengan nada yang lebih dingin, lebih singkat, dan lebih memilih untuk menyendiri.
Zainal sudah memutuskan untuk menjaga jarak, mengurangi segala bentuk komunikasi, dan membiarkan Sarah merasakannya. Baginya, mungkin ini adalah cara terbaik untuk menyelesaikan segala sesuatunya tanpa harus melibatkan terlalu banyak emosi. Tapi, bagi Sarah, sikap Zainal justru membuatnya semakin bingung dan merasa tersesat di antara segala perasaan yang belum selesai.
Di dalam keheningan yang tercipta, mereka berdua semakin jauh, dan tak ada satu pun yang berani untuk menjembatani jarak yang semakin lebar di antara mereka
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar buku pernikahan
Fiksi RemajaPernikahan Zainal dan Sarah bukanlah hasil dari cinta, melainkan perjodohan. Zainal, pria dingin dan pendiam, telah lama menjalin hubungan dengan Tania, wanita yang tidak mengetahui keberadaan Sarah dalam hidup Zainal. Sementara itu, Sarah, yang tah...
