Suasana di kafe malam itu begitu ramai. Gelak tawa dan obrolan dari teman-teman satu tongkrongan mereka memenuhi ruangan, sebelumnya tidak ada rencana pertemuan, semuanya malam ini berkumpul secara kebetulan di caffe ini, menciptakan atmosfer yang penuh kehangatan. Namun, bagi Zainal, semua itu terasa seperti kebisingan yang mengganggu pikirannya.
Sarah duduk di samping Bagas, tertawa lepas mendengar cerita lucu yang baru saja dikatakan pria itu. Senyumnya begitu lebar, matanya berbinar, seakan dunia hanya berputar di sekitar mereka berdua.
Zainal, yang duduk di seberang mereka, hanya diam. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan irama tak beraturan, menunjukkan kegelisahan yang ia coba sembunyikan. Ia tidak suka melihat kedekatan itu. Ia tidak suka melihat Sarah begitu nyaman dengan pria lain—terlebih lagi, pria itu adalah Bagas.
Tania, yang duduk di sebelahnya, tampak asyik berbincang dengan teman-teman yang lain. Sesekali, ia menggenggam tangan Zainal, mencoba menarik perhatiannya. Namun, laki-laki itu tidak terlalu merespons. Sentuhan Tania yang biasanya terasa hangat, kini justru membuatnya merasa terjebak dalam situasi yang membingungkan.
Pikirannya dipenuhi oleh sesuatu yang lain. Atau lebih tepatnya, seseorang.
Sarah dan Bagas terlihat sangat akrab. Bagas dengan santai menyandarkan lengannya di belakang kursi Sarah, menciptakan jarak yang sangat tipis di antara mereka. Sarah, tanpa canggung, melanjutkan obrolannya dengan ekspresi penuh semangat.
Zainal mengepalkan tangannya di bawah meja. Dadanya terasa panas. Ia tidak suka melihat Sarah tertawa seperti itu di hadapan orang lain. Bukankah selama ini ia yang bersikap dingin terhadap istrinya? Bukankah ia yang memilih untuk tidak memperjuangkan hubungan mereka?
Jadi, apa haknya untuk marah?
"Zainal, kamu kenapa sih? Dari tadi diem aja," tanya Tania tiba-tiba, menepuk pelan bahunya.
Zainal tersentak. Ia mengangkat kepalanya dan berusaha memasang ekspresi biasa. "Nggak apa-apa," jawabnya singkat.
Namun, tatapannya tetap tak lepas dari dua orang yang duduk di seberangnya.
Ia ingin menarik Sarah menjauh, ingin menyuruhnya menjaga jarak dengan Bagas. Tapi bibirnya terlalu kelu untuk sekadar berucap.
Sementara itu, Sarah sesekali melirik ke arah Zainal. Ia menyadari perubahan sikap suaminya, tapi memilih untuk mengabaikannya. Jika Zainal bisa bersikap biasa saja di depan Tania, mengapa ia harus merasa bersalah hanya karena dekat dengan Bagas?
Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu Zainal sedang merasa terganggu. Ia melihat cara laki-laki itu menggenggam gelasnya lebih erat dari biasanya. Ia menangkap bagaimana Zainal sesekali menghela napas panjang, seolah menahan sesuatu.
"Jadi, lo masih ingat pas pertama kali kita ngobrol panjang waktu gue jadi panitia ospek angkatan lo?" suara Bagas kembali terdengar, membuat Sarah tertawa kecil.
"Ya ampun, iya! Lo waktu itu sok galak banget! Padahal di balik layar ternyata banyak becandanya," Sarah menimpali dengan nada menggoda.
"Eh, gue harus jaga wibawa lah! Masa senior nggak kelihatan tegas?" Bagas membela diri, tertawa kecil.
Zainal hanya bisa mengamati mereka dengan tatapan dingin. Kenangan masa lalu mereka, tawa yang mereka bagi, semua itu terasa seperti paku yang menusuk dalam ke dadanya.
Tiba-tiba, tanpa sadar, ia meremas gelas di tangannya terlalu kuat hingga air minumnya sedikit tumpah ke atas meja.
"Eh, Zainal! Tumpah tuh!" ujar salah satu temannya.
Zainal menghela napas, meletakkan gelasnya dengan kasar. "Gue ke kasir dulu," katanya, lalu berdiri dan berjalan menjauh tanpa menunggu respons dari siapa pun.
Sarah hanya memperhatikannya tanpa berkata apa-apa. Matanya sedikit menggelap, seperti mencoba membaca apa yang sebenarnya dirasakan laki-laki itu.
Bagas juga melihat kepergian Zainal sekilas, tapi tetap melanjutkan obrolannya dengan Sarah. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya untuk menanggapi sikap Zainal. Tidak ada ejekan, tidak ada sindiran. Seperti biasa, perang dingin di antara mereka hanya berwujud dalam keheningan.
Zainal bersandar di dekat kasir, mencoba menenangkan dirinya. Namun, perasaan itu tetap menggerogoti dadanya. Ia tidak ingin mengakui bahwa ia cemburu, tapi apa yang dirasakannya kini terlalu jelas untuk diabaikan.
Malam itu terus berlanjut, tapi bagi Zainal, semuanya terasa begitu lama. Cemburu yang tak bisa diungkapkan, marah yang tak bisa dilampiaskan—semua itu hanya bisa ia pendam dalam diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar buku pernikahan
Novela JuvenilPernikahan Zainal dan Sarah bukanlah hasil dari cinta, melainkan perjodohan. Zainal, pria dingin dan pendiam, telah lama menjalin hubungan dengan Tania, wanita yang tidak mengetahui keberadaan Sarah dalam hidup Zainal. Sementara itu, Sarah, yang tah...
