29

115 7 4
                                        

Sarah menutup gerbang perlahan, matanya sempat menatap mobil Zainal yang terparkir rapi di garasi. Langkahnya menapak menuju rumah dengan perasaan campur aduk. Setelah dua minggu meninggalkan rumah dan hidup di posko KKN, hari ini ia kembali hanya untuk mengambil beberapa barang.

Begitu pintu terbuka, pandangan Sarah langsung tertuju pada seorang perempuan muda yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Sarah sempat terkejut, begitu pula perempuan itu. Namun tak lama, keduanya saling melempar senyum canggung.

"Mbak Sarah?" tanya perempuan itu hati-hati.
"Halo," sahut Sarah ramah, meski masih menyimpan tanya.

Beberapa detik kemudian, Zainal muncul di antara mereka dengan nampan berisi dua cangkir teh hangat. Tatapannya sempat gugup, sementara wajah Sarah jelas menyiratkan kebingungan.

"Kenalan, Dek," ujar Zainal singkat.

Perempuan itu segera bangkit dan menghampiri Sarah, menjabat tangannya sambil memperkenalkan diri. Namanya Nasya. Saat itu juga, Sarah baru tahu ternyata Zainal memiliki adik perempuan.

Berbeda dengan Zainal yang pendiam dan kaku, Nasya justru tampak ceria dan hangat. Hanya dalam waktu singkat, mereka berdua sudah bisa berbincang akrab. Obrolan mengalir ringan, hingga tanpa sadar Sarah kini duduk di sofa yang sama bersama Zainal dan Nasya.

Namun suasana berubah ketika ponsel Nasya berdering. Ia menatap layar sebentar, lalu berkata pelan,

"Umi, Mas."

"Angkat aja," sahut Zainal.

Dari seberang terdengar suara ramai disertai lantunan lagu islami. Umi berbicara cukup panjang, memberi berbagai arahan. Tapi ada satu kalimat yang membuat dada Sarah terasa sesak:

"Biarin kalau dia nggak ikut, Kamu sama Mas Zainal saja."

Sarah tahu pasti "dia" yang dimaksud adalah dirinya. Begitu kalimat itu terdengar, Zainal spontan menatap Sarah. Sekilas saja, tapi cukup untuk menciptakan jeda panjang yang menegangkan.

Nasya menutup telepon, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Ia mencoba tersenyum, berusaha mencairkan suasana.

Zainal menatap Sarah berharap. Namun, dalam hati Sarah tahu kemungkinan ia akan ikut terasa sangat kecil.

--------------

Begitu Nasya beranjak ke kamar untuk bersiap, ruang tamu mendadak terasa sunyi.
Hanya terdengar detik jam dinding dan suara samar televisi yang belum sempat dimatikan.

Sarah masih duduk di tempat yang sama, pandangannya kosong menatap cangkir teh di meja. Uap hangatnya mulai hilang, menyisakan aroma samar yang ikut tenggelam dalam diam.

Zainal ingin bicara, tapi lidahnya terasa berat. Ia sempat menarik napas, namun tak satu kata pun keluar. Sementara Sarah tetap diam, menahan tatapan pada teh yang tak disentuhnya.

Keheningan itu bukan sekadar tanpa suara ada banyak hal yang tak terucap di dalamnya.
Tentang jarak yang makin terasa, tentang kalimat "biarin kalau dia nggak ikut" yang masih terngiang di kepala Sarah, dan tentang penyesalan kecil yang berputar di benak Zainal.

Akhirnya, Sarah yang lebih dulu berdiri.

"Gue cuma ambil beberapa barang. Nggak lama," ucapnya pelan, tanpa menatap Zainal.

Zainal hanya mengangguk, menatap punggung Sarah yang beranjak ke arah kamar.

Kamar itu masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan.
Seprei yang sedikit kusut, tumpukan buku di meja belajar, dan aroma lembut sabun cuci yang samar-samar tertinggal di udara. Tapi ada sesuatu yang berbeda—kehangatan yang dulu terasa kini entah menguap ke mana.

Lembar buku pernikahanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang