Keramaian pelepasan KKN semakin memadat. Musik pembuka dari pengeras suara bercampur dengan suara MC yang mengatur barisan. Mobil-mobil bak terbuka mulai berjajar di pinggir jalan kampus, siap mengangkut para mahasiswa ke lokasi penempatan masing-masing.
Zainal masih berdiri mematung, matanya mengikuti setiap gerak Sarah dari kejauhan. Ia melihatnya tertawa kecil bersama dua temannya sambil memegang map berisi dokumen KKN. Tas ransel besar berwarna cokelat tergantung di punggungnya, dan sebuah botol minum terselip di samping.
Ketika pengumuman pemberangkatan terdengar, rombongan Sarah mulai bergerak. Derap langkah dan suara roda koper yang beradu dengan lantai semen membentuk irama kepergian.
Zainal menelan ludah, tangannya tanpa sadar mengepal di saku celana. Ada begitu banyak kata yang ingin ia ucapkan, namun jarak dan keadaan membuatnya tak beranjak.
Dari atas bak mobil, Sarah sempat menoleh ke arah kerumunan. Bukan tatapan yang lama, mungkin hanya mencari seseorang—atau mungkin tidak sama sekali. Namun bagi Zainal, momen itu cukup untuk membuat hatinya terasa seperti diremas.
Suara klakson tanda keberangkatan membuyarkan lamunannya. Satu per satu mobil mulai melaju keluar dari area kampus, meninggalkan riuh yang perlahan meredup.
Zainal berdiri di sana, menatap punggung yang semakin menjauh, sambil menyadari bahwa ada jarak yang tak hanya diukur dengan langkah, tapi juga oleh waktu dan rahasia yang mereka simpan.
Mobil terakhir yang membawa rombongan KKN berbelok keluar gerbang kampus, meninggalkan debu tipis yang beterbangan di udara. Sorak-sorai yang tadi memenuhi halaman kini berganti menjadi sisa-sisa suara langkah mahasiswa yang bubar.
Zainal masih berdiri di tempatnya. Tidak ada lagi sosok itu di matanya, tapi bayangannya menempel kuat di kepala. Senyum Sarah, jilbab yang sempat tergerai ditiup angin, dan tatapan singkat yang membuat dadanya terasa berat.
“Empat puluh lima hari…” gumamnya lirih.
Bagi orang lain, mungkin itu hanya hitungan waktu biasa. Tapi bagi Zainal, itu seperti jeda yang menguji hati. Jeda yang bisa memperlebar jarak, atau justru menghapusnya sama sekali.
Ia menunduk, mencoba mengatur napas. Pikiran-pikiran yang selama ini ia tekan mulai mendesak keluar. Tentang pernikahan yang mereka sembunyikan. Tentang jarak yang mereka ciptakan sendiri. Tentang rasa yang kadang ia benci, tapi tak pernah sanggup ia buang.
Di tengah lamunannya, Hasan memanggil dari kejauhan.
“Zan, balik nggak? Kita mau rapat bentar di sekret!”
Zainal menoleh, mencoba memaksakan senyum.
“Iya, nyusul…” jawabnya singkat.
Hasan berlalu, sementara Zainal masih berdiri, menatap jalan yang kini sepi. Di dalam hatinya, ada doa yang tak terucap—semoga Sarah pulang dengan selamat, dan semoga ia masih punya waktu untuk memperbaiki segalanya.
Namun, entah kenapa, ada juga rasa takut yang pelan-pelan menyelinap. Takut kalau saat Sarah kembali, semuanya sudah berubah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar buku pernikahan
Fiksyen RemajaPernikahan Zainal dan Sarah bukanlah hasil dari cinta, melainkan perjodohan. Zainal, pria dingin dan pendiam, telah lama menjalin hubungan dengan Tania, wanita yang tidak mengetahui keberadaan Sarah dalam hidup Zainal. Sementara itu, Sarah, yang tah...
