I am so sory best
Sebenarnya aku bisa aja up satu minggu tiga kali, bahkan everyday juga aku bisa hehehehe......
Tapi aku nunggu cerita ini sampe banyak reader aktifnya, aktif gimana kak maksudnya? Ya komen tah, kasih bintang tah. Jadi buat kamu yang nunggu cerita mas zee ini boleh dong share dan aja temen²nya buat aktif di work ini hehehe thank best wopyuuuu
Selamat Membaca💜💜💜
Zainal menatap gapura besar bertuliskan nama pondok pesantren itu. Beberapa tahun yang lalu, dirinya pernah seperti para santri yang kini tengah menghafal di gazebo malam itu dengan penerangan seadanya, gapura tersebut tetap tampak jelas, menampilkan tulisan yang telah mengantarkan banyak santri putra dan putri meraih mimpinya, tak terkecuali Zainal.
Kurang lebih delapan tahun Zainal tinggal di pondok ini. Tiga tahun ia menempuh pendidikan menengah pertama, lalu sempat berniat pindah ke pesantren lain untuk menambah pengalaman mencari ilmu. Namun, selalu ada kuasa Tuhan yang tak bisa dilawan. Hingga akhirnya, Zainal menamatkan SMA di sini dan mengabdi dua tahun sebelum melanjutkan kuliah di universitas.
Tak ada agenda resmi seperti reuni alumni atau peringatan hari lahir pondok. Hati kecilnya hanya menuntun untuk kembali ke tempat ia belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Sore tadi, Zainal sebenarnya hanya berniat menemui kiyai sebentar lalu pulang. Sayangnya, sang kiyai sedang tidak berada di pondok. Akhirnya ia memutuskan untuk menginap semalam. Jarak yang cukup jauh membuatnya tak memungkinkan untuk bolak-balik dalam waktu singkat.
Sayup-sayup suara santri mengaji terdengar, menenangkan isi kepala yang riuh. Zainal berusaha menikmati malam itu, hingga sebuah tepukan di pundaknya mengagetkannya.
“Bro!” suara itu familiar. Ustadz Hamdan baru saja menepuk bahunya.
Ketika Zainal duduk di kelas dua SMA, Ustadz Hamdan adalah wali kelasnya sosok yang ulet dan penuh tanggung jawab. Jangan macam-macam kalau tidak siap-siap dibotak, hukuman khas bagi santri yang melanggar.
“Tadz,” Zainal segera mencium tangannya dengan hormat.
“Apa kabar?” tanya Ustadz Hamdan sambil duduk di sampingnya.
“Alhamdulillah, baik tadz. Ane liat-liat, ustadz makin keren aja nih,” sahut Zainal berusaha mencairkan suasana.
“Kayaknya ini bonus dari Tuhan buat ane, makin tua makin keren,” balas Ustadz Hamdan, dan keduanya tertawa.
“Ngomong-ngomong, ente ke pondok mau nemuin kiyai minta restu minang anak orang, ya?” godanya.
Zainal terkekeh kecil. Dalam hati, ia malas menjelaskan bahwa sebenarnya ia sudah menikah. Dari seluruh keluarga besar pondok, hanya sang kiyai yang tahu. Bahkan nyai pun tak pernah diberi tahu.
“Masih lama, tadz. Kuliah aja belum beres,” elaknya.
“Lah, kuliah dan nikah bukan sesuatu yang nggak bisa dijalankan bareng, kan?” Ustadz Hamdan menepuk bahunya lagi. “Ane doain ente dapet istri yang bisa bimbing ente jadi lebih baik lagi—dunia dan akhirat.”
“Aamiin, makasih, tadz, doanya.”
“Ngomong-ngomong, toko sepatu ente gimana, lancar?”
“Alhamdulillah, lancar sejauh ini. Semoga seterusnya begitu, tadz.”
“Nginep berapa malam di sini?”
“Paling besok, habis ketemu kiyai langsung pulang.”
“Halah, buru-buru amat. Kayak di rumah ada yang nungguin aja.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar buku pernikahan
Teen FictionPernikahan Zainal dan Sarah bukanlah hasil dari cinta, melainkan perjodohan. Zainal, pria dingin dan pendiam, telah lama menjalin hubungan dengan Tania, wanita yang tidak mengetahui keberadaan Sarah dalam hidup Zainal. Sementara itu, Sarah, yang tah...
