Dua minggu telah berlalu sejak program KKN tematik integratif dimulai. Sebuah kewajiban bagi mahasiswa Fakultas Dakwah, dan khususnya bagi prodi Sarah. Sebanyak 150 mahasiswa menjalani program ini. Bedanya dengan KKN biasa, mereka tak hanya mengabdi di masyarakat, tapi juga melaksanakan PPL selama 45 hari ke depan. Dua mata kuliah dijalani dalam waktu singkat dengan tumpukan program kerja yang rasanya tak ada habisnya.
Sarah sendiri ditempatkan di sebuah pondok pesantren. Ia tak begitu terkejut dengan penugasan itu mungkin karena di semester lima ia pernah mengambil mata kuliah Retorika Dakwah. Prodi seolah sudah menyiapkan jalannya sejak lama.
Pagi itu, Sarah duduk di gazebo kayu yang menghadap ke lapangan hijau. Angin berhembus pelan, menyapu pipinya dengan lembut. Jarum jam menunjuk angka sepuluh. Dari kejauhan terdengar riuh suara santri yang sedang melaksanakan KBM. Tiga teman kelompoknya masih berada di SD untuk mengajar, sementara dua anggota lain Apriaji dan Rizky sedang menemui direktur TMI untuk membicarakan jadwal seminar.
Kesunyian itu membawa Sarah pada lamunan. Tatapan mata yang pernah singgah, tatapan yang ia lihat terakhir kali saat pelepasan KKN. Zainal. Nama itu menyeruak begitu saja dalam kepalanya. Ia masih ingat betul sosok lelaki itu sempat terlihat di kampus. Entah kenapa, bayangannya datang lagi tanpa diundang. Sarah menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, berusaha menepis perasaan yang tak ingin ia akui.
Suara langkah kaki membuyarkan lamunannya. Tiga sahabatnya baru saja kembali dari SD. Vira, Naehan, dan Fazriah langsung merebahkan diri di gazebo dengan wajah letih.
"Gila, capek banget ngajar anak-anak SD. Padahal cuma sejam. Gue nggak kebayang gimana wali kelasnya yang harus seharian full," keluh Vira sambil menyandarkan kepala.
"Besok pagi lu yang ke SD ya, Sar," tambahnya sambil melirik Sarah.
"Dih, gue lagi? Tiga hari kemarin gue udah ke TK sama SD sendirian. Santai aja tuh," protes Sarah, bibirnya manyun.
Pondok pesantren tempat mereka tinggal memang menyediakan pendidikan lengkap, mulai dari TK, SD, sampai TMI setara SMP dan SMA.
"Yaudah, besok kita bareng-bareng aja berempat," timpal Fazriah, mencoba menengahi.
Belum sempat percakapan itu selesai, dua sosok yang mereka tunggu akhirnya muncul. Apriaji dan Rizky datang dengan wajah penuh semangat. Rizky langsung menjatuhkan diri di gazebo, suaranya nyaring mengalahkan angin.
"ACC, guys!" teriaknya.
Semua menoleh.
"Tanggal 7 Agustus, seminar kita resmi jalan. Pesertanya empat ratus orang, gabungan santri putra dan putri!"
Sorak kecil terdengar di gazebo. Rasa lelah yang tadi memenuhi wajah mereka mendadak menguap, berganti dengan antusiasme baru
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar buku pernikahan
Teen FictionPernikahan Zainal dan Sarah bukanlah hasil dari cinta, melainkan perjodohan. Zainal, pria dingin dan pendiam, telah lama menjalin hubungan dengan Tania, wanita yang tidak mengetahui keberadaan Sarah dalam hidup Zainal. Sementara itu, Sarah, yang tah...
