25

248 7 0
                                        

Menyembunyikan status pernikahan bukan perkara mudah. Meski pernikahan mereka tidak seperti pernikahan pada umumnya, tetap saja janji suci sudah pernah Zainal ikrarkan. Mereka memang bukan lagi remaja, tetapi juga belum sepenuhnya dewasa untuk menghadapi situasi serumit ini. Perlu perjuangan besar untuk meruntuhkan ego dan menyingkirkan rasa tidak nyaman yang kerap hadir tanpa diundang.

Zainal kini hampir menyelesaikan skripsinya. Semua tanda tangan dosen pembimbing dan penguji sudah di tangan, syarat sidang munaqasyah terpenuhi. Mungkin tak sampai satu minggu lagi ia akan resmi maju sidang. Begitu pula ketiga sahabatnya-Hasan, Fauzan, dan Sahrul-yang bukan hanya sekadar teman, tetapi sudah seperti keluarga, layaknya abang-adik.

Ingatannya melayang empat tahun ke belakang, saat mereka sama-sama mengikuti ospek, aktif di berbagai organisasi, hingga menjadi aktivis pergerakan yang lantang menyuarakan hak-hak mahasiswa. Persahabatan mereka nyaris sempurna. Jarang sekali ada mahasiswa yang aktif organisasi, punya rekam jejak perjuangan, tapi tetap lulus tepat waktu dengan IPK gemilang. Keempatnya bahkan disebut-sebut sebagai calon penerima beasiswa S2 karena prestasi mereka yang mentereng.

Hasan menepuk punggung Zainal.
"Bro, selangkah lagi semua terwujud," ucapnya penuh semangat.

Zainal tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca. Hasan memang sosok luar biasa-mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam, motor penggerak anak muda di kampus.

Tak lama, Sahrul datang membawa secangkir kopi.
"Good job, bro. Kita hampir selesai," katanya sambil menyodorkan minuman itu.

Zainal tak kalah kagum pada Sahrul. Pernah menjabat sebagai Ketua BEM, bahkan memimpin aksi yang berujung pada tergulingnya rektor setelah terbukti korupsi dana operasional kampus. Berkat gerakan yang dipimpin Sahrul, kampus mereka bersih dari praktik penggelapan dana.

Kekaguman Zainal berhenti pada Fauzan. Tidak banyak prestasi akademik atau jabatan organisasi yang ia pegang, tapi semua tahu, Fauzan adalah "Si Penutup Acara." Ia selalu dipercaya membacakan doa penutup di setiap kegiatan. Maklum, dua kali mondok di pesantren terkenal di Banten membuatnya hafal berbagai doa.

"Bro, doain gue," celetuk Hasan sambil meledek.

"Mulai hari ini doa gue bertarif," balas Fauzan pura-pura serius.

Sahrul menggeleng pelan. "Jauh banget dari kata lillahi ta'ala."

"Enak aja orang-orang. Kalau minta doa ke gue seenaknya," Fauzan membela diri.

"Lemes banget kayak cewek," goda Zainal.

Fauzan langsung memelintir nadanya, "Halalin aku dong, Mas Zain~"

Zainal mendecak. "Abis kena bantai Bu Fahma, lu?"

"Aman, Bro. Rabu depan ane sidang."

"Widih, keren!" sahut Hasan.

"Hebat, euy. Langsung keluar jadwalnya," timpal Sahrul.

"Bangga gue sama lu, Zan," Fauzan membalas sambil tersenyum.

Zainal menepuk punggungnya.

Percakapan mereka diiringi tawa ringan khas sahabat yang saling memahami. Namun, keramaian kampus perlahan mencuri perhatian Zainal. Dari kejauhan, di depan gedung rektorat, tampak panggung berbalut kain biru-putih, kursi-kursi berjejer rapi, dan spanduk besar bertuliskan Pelepasan Mahasiswa KKN Angkatan XXVII.

Di antara lautan mahasiswa berbalut seragam KKN, Zainal melihatnya. Sarah.

Ia berdiri di barisan depan bersama rekan-rekannya, senyumnya mengembang saat menyambut sambutan rektor. Angin sore meniup jilbabnya perlahan, membuatnya tampak begitu asing namun akrab di mata Zainal.

Hanya beberapa detik pandangan mereka bersitatap-jauh, terhalang orang, tapi cukup untuk membuat dada Zainal terasa sesak.

Seolah dunia di sekelilingnya mendadak meredam suara.


Lembar buku pernikahanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang