Dua Puluh

198 8 0
                                        

Beberapa hari setelah Sarah kembali ke rumah, suasana di antara mereka tetap terasa hening. Sarah yang awalnya datang dengan langkah ragu kini justru lebih menjaga jarak. Ia berusaha menghindari percakapan panjang dengan Zainal, dan meskipun mereka tinggal di rumah yang sama, ada semacam dinding tak terlihat di antara mereka yang membuat semuanya terasa jauh.

Pagi itu, seperti biasa, Sarah sudah siap pergi ke kampus lebih pagi dari Zainal. Ia memakai jaket hitam dan sepatu sneakers, berusaha tak terlalu memperhatikan Zainal yang sedang sibuk di ruang tamu. Zainal menatapnya sesaat saat Sarah lewat, namun ia tak mengatakan apapun. Sarah pun tidak menoleh, hanya melangkah cepat menuju pintu, seperti ingin segera keluar dari rumah itu.

"Lu pulang malam nanti?" Zainal bertanya, suaranya datar, tanpa ekspresi. Namun, Sarah hanya mengangguk singkat tanpa berkata apa-apa.

"Ya," jawabnya singkat, suaranya agak terburu-buru.

Zainal hanya mengangguk pelan, dan Sarah menutup pintu tanpa melihatnya lagi. Ia merasa tidak ingin ada pembicaraan lebih lanjut. Sesampainya di kampus, Sarah mencoba sibuk dengan urusan kuliah, berusaha menghindari semua hal yang bisa mengingatkannya pada Zainal. Tapi, di dalam hatinya, perasaan yang tidak nyaman itu tetap ada. Sebuah kebingungan yang semakin membuatnya menarik diri dari segala hal yang berkaitan dengan Zainal.

Malam harinya, saat kembali ke rumah, Sarah merasa canggung. Begitu ia memasuki rumah, Zainal sedang duduk di meja makan , memeriksa ponselnya dengan tampang serius. Sarah berhenti sejenak di depan pintu, menilai situasi sebelum akhirnya masuk dan meletakkan tasnya di meja.

"Lu nggak lapar?" tanya Zainal, menatap Sarah sebentar.

Sarah yang merasa agak terkejut dengan pertanyaan itu, hanya menggelengkan kepala dan berjalan menuju kamarnya. "Nggak, makasih," jawabnya tanpa menoleh.

Zainal hanya mengamati langkah Sarah yang terburu-buru menuju kamarnya, tanpa berkata lebih. Ia tahu ada sesuatu yang berubah sejak Sarah kembali ke rumah. Namun, ia tak tahu harus bagaimana. Seakan, setiap kali ia mencoba mendekat, Sarah malah menjauh. Zainal merasa kebingungannya semakin dalam, tetapi ia tetap diam, menunggu Sarah untuk membuka diri.

Malam hari, saat makan malam, Zainal sudah duduk di meja makan menunggu, namun Sarah hanya makan dengan cepat, seolah-olah ia sedang terburu-buru untuk menghindari percakapan.

"Lu nggak pernah mau ngomong lagi sama gue, ya?" tanya Zainal setelah beberapa saat hening, suaranya lebih rendah, seperti mengukur reaksi Sarah.

Sarah menurunkan garpunya dan menatap Zainal sebentar. "Gue nggak tahu harus ngomong apa, Zainal," jawabnya datar. "Gue cuma butuh waktu."

Zainal menghela napas panjang. "Waktu buat apa? Ini malah jadi makin nggak jelas."

Sarah diam sejenak, tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang ia rasakan. "Gue nggak mau bikin semuanya makin rumit. Gue cuma butuh ruang," ujar Sarah, akhirnya memutuskan untuk berkata jujur.

Zainal menatapnya, tetapi kali ini tidak ada jawaban. Ia hanya terus mengamati Sarah yang kembali mengalihkan pandangannya ke piringnya, sibuk dengan makanannya. Tidak ada lagi perbincangan lebih lanjut setelah itu. Sarah kembali masuk ke kamar, meninggalkan Zainal dengan pikirannya sendiri.

Hari-hari setelah itu, Sarah lebih sering menghindar, lebih memilih diam, dan menjaga jarak. Zainal mulai merasa kesepian meskipun mereka tinggal dalam satu rumah. Ada semacam dinding yang tak bisa ia tembus, dan ia tidak tahu bagaimana cara meruntuhkan itu. Ia hanya bisa berdiam diri, menunggu Sarah untuk kembali seperti dulu. Tapi, dengan sikapnya yang lebih menjaga jarak, Sarah semakin membangun batas yang sulit untuk dilewati.

Zainal mencoba untuk tidak menunjukkan kecewa, tetapi ia merasa semakin bingung dengan sikap Sarah. Di satu sisi, ia tahu ia harus memberi ruang pada Sarah, tetapi di sisi lain, ia merasa harus melakukan sesuatu agar semuanya kembali normal. Namun, Sarah tampaknya tidak ingin membuka diri, dan itu semakin membuat Zainal merasa tersesat.

Lembar buku pernikahanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang