Sarah melangkah perlahan di jalan menuju rumah. Suasana sore itu terasa berat, meski matahari masih memancar, tetapi hawa yang menyelimuti dirinya justru memberi kesan dingin. Ada ketegangan di setiap langkahnya, seolah-olah langkahnya menuju tempat yang sudah lama ia tinggalkan, namun tetap tidak bisa lepas dari bayang-bayangnya.
Ketika ia sampai di depan rumah, rasa canggung langsung menyelinap. Rumah ini terasa asing meski dulu adalah tempat yang biasa ia sebut rumah. Sarah berdiri sebentar, menatap pintu yang perlahan terbuka setelah ia tekan bel. Suara pintu yang berderit sedikit membuatnya terkejut, dan seolah semuanya kembali seperti semula. Namun kali ini, ada rasa enggan yang tiba-tiba muncul.
Ketika pintu terbuka, Zainal terlihat berdiri di sana. Ia hanya mengenakan kaos dan celana pendek, namun sikapnya tak berubah. Tidak ada keterkejutan atau pertanyaan yang terucap dari bibirnya. Hanya ada tatapan yang tenang, seperti menunggu.
"Lu... udah sampai," kata Zainal, suaranya biasa saja. Tidak ada kehangatan yang mengalir, tapi juga tidak ada jarak yang terasa jauh.
Sarah mengangguk pelan, namun tubuhnya sepertinya lebih berat daripada yang ia rasakan. "Iya," jawabnya, suaranya datar, tanpa banyak ekspresi.
Zainal menunggu beberapa saat, seakan memberi ruang bagi Sarah untuk menentukan langkah selanjutnya. Setelah beberapa detik, ia membuka pintu lebih lebar, memberi tanda agar Sarah masuk. Tanpa berkata lebih banyak, Sarah melangkah masuk, masih merasa sedikit canggung.
Begitu memasuki rumah, suasana yang terjalin justru terasa lebih hening. Tidak ada lagi keributan, tidak ada lagi kebiasaan lama yang dulu mengisi hari-harinya di sini. Zainal menyusul dari belakang, dan mereka berdua berjalan menuju ruang tamu tanpa ada kata-kata lebih.
Kembali ke rumah setelah sebulan meninggalkan Zainal, rasanya seperti kembali ke tempat yang familiar namun terasa asing. Selama ini, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, meyakinkan bahwa segala sesuatu akan lebih baik setelah keputusan ini. Tapi sekarang, Sarah merasa ada banyak hal yang belum selesai. Ada kata-kata yang tak terucap, ada perasaan yang terpendam.
"Lu nggak usah khawatir," suara Zainal akhirnya pecah, mengalihkan perhatiannya. Sarah menoleh, melihat Zainal yang sedang menatapnya. "Gue nggak akan bikin suasana jadi aneh."
Sarah hanya diam, menatap kosong. Kata-kata Zainal datang begitu saja, seolah dia sudah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Meski tak banyak bicara, ada sesuatu dalam sikap Zainal yang memberikan ketenangan. Seakan dia sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan, termasuk yang paling tidak diinginkan
"Lu mau istirahat dulu?" Zainal akhirnya bertanya, suaranya datar namun tak ada nada memaksa.
Sarah menoleh sedikit, terkejut dengan pertanyaannya. Namun, ia mengangguk pelan. "Iya, mungkin sebentar."
Zainal hanya mengangguk dan melangkah ke ruang tamu, memilih duduk di sofa tanpa mengganggu Sarah. Hanya ada satu hal yang masih terasa jelas di antara mereka: ketenangan yang mengalir begitu saja, tanpa perlu banyak percakapan. Seolah Zainal tahu, terkadang kehadirannya saja sudah cukup.
Sarah tetap berdiri untuk beberapa detik, mencoba meresapi kenyataan yang ada. "Gue cuma... butuh waktu," ujarnya pelan.
Zainal tak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Sarah sejenak, lalu membiarkannya duduk. Tidak ada tekanan dari dirinya, hanya ketenangan yang disampaikan melalui cara-cara yang lebih subtil.
Sementara itu, Sarah merasakan perasaan yang campur aduk. Ia datang ke sini dengan hati yang masih penuh pertanyaan, dengan semua yang belum jelas. Namun, meskipun tanpa banyak percakapan, Zainal berhasil memberikan ruang bagi Sarah untuk kembali. Ada perasaan yang hangat meskipun tak terucap, sebuah kehadiran yang cukup untuk membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
Sarah menatap Zainal, kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. "Gue belum siap untuk banyak bicara," katanya, akhirnya memecah keheningan itu.
Zainal hanya mengangguk, seperti sudah mengerti. "Gue tahu," jawabnya dengan tenang.
Suasana itu bertahan lama, tetapi Sarah merasa tidak perlu ada lebih banyak kata-kata. Kadang-kadang, ketenangan yang tanpa kata itu justru memberi lebih banyak kenyamanan daripada sekadar berbicara. Dan untuk saat ini, itu cukup bagi Sarah.
Keputusan untuk kembali ke rumah bukanlah hal yang mudah, tetapi Zainal, dengan sikap tenangnya, memberi Sarah ruang untuk bernafas, untuk menenangkan pikirannya. Tak ada paksaan, tak ada pertanyaan lebih lanjut. Semua itu datang dengan cara yang paling sederhana, dengan ketenangan yang membawa sedikit kedamaian di tengah ketegangan yang ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar buku pernikahan
Teen FictionPernikahan Zainal dan Sarah bukanlah hasil dari cinta, melainkan perjodohan. Zainal, pria dingin dan pendiam, telah lama menjalin hubungan dengan Tania, wanita yang tidak mengetahui keberadaan Sarah dalam hidup Zainal. Sementara itu, Sarah, yang tah...
