Pagi ini, Sarah memutuskan untuk memasak sarapan dengan sepenuh hati. Meja makan telah penuh dengan hidangan yang menggugah selera—nasi goreng, telur dadar, sup ayam, dan roti panggang. Semua ia buat sendiri, mengandalkan keahliannya dalam memasak.
Aroma masakan memenuhi seluruh ruangan, menyusup ke dalam kamar seseorang yang baru saja terbangun. Tak lama, Zainal keluar dari kamarnya dengan wajah khas bangun tidur. Rambutnya berantakan, matanya masih menyipit, tetapi langkahnya menuju meja makan tetap mantap.
Sarah diam-diam menatapnya, menunggu reaksi. Namun, Zainal hanya menguap kecil lalu duduk tanpa ekspresi. Seperti biasa, pria itu tetap sulit ditebak.
Sejak awal, Sarah tahu ia seharusnya tidak berharap banyak pada Zainal. Namun, pria itu sering memberinya ruang untuk merasa istimewa. Kadang, Zainal bisa begitu perhatian, seolah ada sesuatu di antara mereka. Tapi di lain waktu, ia terasa jauh, tak terjangkau.
Untungnya, pagi tadi Umi sudah dijemput oleh anak sulungnya. Tanpa kehadiran Umi, suasana rumah terasa lebih lengang.
Mungkin, kalian bertanya-tanya siapa sebenarnya Umi dalam hidup mereka? Umi bukan ibu kandung Zainal. Namun, beliau telah merawatnya sejak kecil.
Zainal terlahir dari keluarga yang berantakan—broken home, seperti kata orang-orang. Sejak usia dua tahun, ia diasuh oleh Umi, yang tak lain adalah kakak ipar ibunya. Karena itulah, Umi sangat peduli pada kehidupan Zainal, bahkan terkadang terkesan terlalu ikut campur.
Sarah sudah tahu semua itu. Dan di balik sikap dingin Zainal, ia juga tahu bahwa pria itu memiliki banyak luka yang tak terlihat.
Namun, ada satu hal yang Sarah belum tahu...
Apakah ia hanya seseorang yang kebetulan hadir dalam hidup Zainal? Atau sebenarnya, ada tempat untuknya di hati pria itu?
Sarah duduk di seberang meja makan, memperhatikan Zainal yang tengah menyendok nasi goreng buatannya. Udara pagi masih dingin, tapi ada sesuatu yang lebih dingin dari itu—sikap Zainal yang selalu sulit ditebak.
Dua hari.
Dua hari Zainal nggak pulang, dan sama sekali nggak ngabarin.
Sarah nahan diri buat nggak langsung nyerocos, tapi pagi ini, dia harus tahu jawabannya.
"Lu kemana aja dua hari ini?" tanyanya, berusaha terdengar santai, padahal di dalam hati udah kayak gunung berapi siap meletus.
Zainal nggak langsung jawab. Dia ngunyah dulu makanannya, matanya masih fokus ke piring, seolah pertanyaan itu cuma angin lalu.
Sarah ngetuk meja pelan, mencoba menarik perhatiannya.
"Serius, Naal. Gue nunggu lu dua hari, tapi lu sama sekali nggak ngasih kabar. Kenapa?"
Zainal akhirnya mendongak. Tatapannya datar, tapi ada sedikit kelelahan di sana.
"Ada masalah di store," jawabnya pendek.
Sarah mengernyit. "Masalah apa? Sampe dua hari nggak pulang?"
Zainal narik napas, kelihatan males ngejelasin panjang lebar. "Ada barang yang salah kirim, terus beberapa karyawan ribut soal shift kerja. Gue harus beresin semuanya."
Sarah terdiam. Sebagian dirinya ingin percaya, tapi sebagian lagi merasa ada yang nggak beres.
"Terus, kenapa lu nggak bilang apa-apa ke gue?" suaranya mengecil, ada nada kecewa di sana.
Zainal nyandarin punggungnya ke kursi, mengusap wajah dengan tangannya.
"Karena gue pikir lu nggak perlu tahu," katanya santai.
Sarah terkekeh pelan, tapi itu bukan tawa bahagia.
"Serius lu, Naal? Kita tinggal serumah, tapi gue nggak perlu tahu kalau lu tiba-tiba ngilang dua hari?"
Zainal mengalihkan pandangan, seperti nggak mau memperpanjang pembicaraan.
Sarah menghela napas panjang. Ini bukan pertama kalinya Zainal bersikap kayak gini—seolah dia ada di dunianya sendiri, nggak ngebolehin siapa pun buat masuk.
Dan yang lebih nyakitin, dia tetap nggak sadar kalau itu nyakitin Sarah.
Sarah menunduk, jemarinya meremas ujung sweater yang ia pakai. Mungkin ini salahnya juga. Sejak awal, dia nggak seharusnya berharap terlalu banyak.
Tapi kenapa... tetap aja rasanya sakit?
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar buku pernikahan
Teen FictionPernikahan Zainal dan Sarah bukanlah hasil dari cinta, melainkan perjodohan. Zainal, pria dingin dan pendiam, telah lama menjalin hubungan dengan Tania, wanita yang tidak mengetahui keberadaan Sarah dalam hidup Zainal. Sementara itu, Sarah, yang tah...
