Sebelas

557 13 0
                                        

Sorak-sorai pendukung menggema di seluruh arena pertandingan futsal, menambah semangat dua tim dari jurusan yang paling terkenal di fakultas. Pertandingan mempertemukan jurusan Konseling yang dipimpin Bagas sebagai kapten, dan jurusan Komunikasi dengan Zainal sebagai pemimpin.

Pertandingan berlangsung seru. Di menit-menit awal, Zainal yang berposisi sebagai Anchor, bertugas mengatur serangan sekaligus bertahan, sering berbenturan dengan Bagas, seorang Pivot yang bertanggung jawab sebagai penyerang utama. Gesekan antara keduanya begitu terasa, bahkan wasit beberapa kali harus memperingatkan Zainal agar tidak bermain terlalu keras.

Di tribun, Sarah mengernyit ngeri menyaksikan permainan yang semakin memanas. Zainal tampak seolah menyalurkan emosi dalam setiap gerakannya di lapangan.

Babak pertama berakhir dengan keunggulan jurusan Komunikasi. Sorakan pendukung mereka membahana, dengan yel-yel dan tabuhan drum yang semakin menyemangati tim. Para pemain mendapat waktu istirahat lima menit sebelum melanjutkan babak kedua.

Dari kejauhan, Sarah merasa seseorang menatapnya. Saat ia mencari asal pandangan itu, ia mendapati Zainal sedang menatapnya lekat, dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Setelah kejadian di supermarket beberapa hari lalu, Sarah memutuskan kembali ke kost lamanya. Meski jarang ditempati, ia selalu membayar sewanya tepat waktu, sehingga kapan pun ia ingin, tempat itu masih menjadi miliknya.

Babak kedua dimulai. Di menit keempat, terjadi insiden yang membuat semua pemain berkerumun di satu titik. Gor yang tadinya riuh mendadak hening, semua mata tertuju pada Zainal yang menyeka darah dari sudut bibirnya.

Wasit langsung menghampiri Zainal dan memberinya kartu merah atas pelanggaran keras terhadap Bagas. Tim Zainal memprotes keputusan tersebut, namun Zainal hanya menunduk tanpa melawan, lalu berjalan menuju ruang ganti dengan langkah berat.

Sarah menatap punggung Zainal hingga menghilang di lorong. Sementara itu, Bagas yang cedera ditarik keluar lapangan dan digantikan pemain lain. Pertandingan dilanjutkan hingga selesai, dan jurusan Komunikasi tetap keluar sebagai pemenang meski hanya bermain dengan empat pemain.

Sarah tiba di rumah pukul 12 malam. Keramaian penonton membuat parkiran penuh sesak dan menyebabkan antrian panjang kendaraan. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi bayangan Zainal dan kondisinya.

Ketika membuka pintu, pemandangan yang menyambut Sarah adalah Zainal yang duduk di sofa dengan wajah frustasi. Ia menggenggam sebatang rokok yang belum dinyalakan.

"Are you okay?" tanya Sarah pelan, masih berdiri di ambang pintu.

Zainal tidak menjawab, hanya menatap Sarah dengan mata yang menyiratkan kelelahan. Perlahan, ia bangkit dan berjalan mendekati Sarah.

CUP.

Zainal menempelkan bibirnya ke bibir Sarah, melumatnya dalam keheningan yang penuh emosi. Ciumannya terasa dalam, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.

Sarah tertegun, tubuhnya membeku. Sensasi asing bercampur bau amis darah dari sudut bibir Zainal membuat pikirannya kalut. Hatinya bergejolak, antara marah, bingung, dan... sesuatu yang tak ingin ia akui.

"Zainal!" serunya setelah berhasil mendorong tubuh Zainal menjauh. Sarah mengusap bibirnya dengan kasar. "Apa-apaan ini? Jangan kurang ajar!"

Zainal menatap Sarah tajam, napasnya memburu. "Gue nggak suka lihat lu deket sama cowok lain selain gue!" ucapnya tanpa ragu.

Sarah tersentak, hatinya panas. "Denger ya,  Zainal! Lu Punya Tania, jadi berhenti Berlaku Seperti ini!"

Zainal mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Lu nggak ngerti, Sarah... Gue—"

"Cukup!" potong Sarah tegas. "Gue bukan pelampiasan!"

Tanpa menunggu jawaban, Sarah melangkah pergi, meninggalkan Zainal berdiri terpaku, menatap punggungnya dengan amarah bercampur penyesalan

___________

Sudah dua hari sejak kejadian itu, Zainal tidak menemui Sarah, baik di rumah maupun di kampus. Rasa penasaran membuatnya ingin tahu ke mana Sarah pergi, tapi ia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Bagas? Tidak mungkin. Azzura dan Yayu? Lebih tidak mungkin.

Frustasi, Zainal mengacak rambutnya. Pandangannya tertuju pada ponselnya yang tergeletak di tempat tidur. Ia membuka Instagram dan mulai memeriksa story Bagas, berharap ada petunjuk.

Di postingan keempat, ada foto selfie Sarah dengan caption, "Ustadzah, selamat mengabdi."

Alis Zainal berkerut. "Mengabdi?" gumamnya.

Di postingan berikutnya, ada video Sarah mengajar anak-anak SMP di sebuah pondok pesantren, dengan latar suara shalawat. Zainal berpikir keras, mencoba mencari tahu di mana lokasi itu.

Ia membalas story Bagas.

Zainal:"Gue ada panggilan dari komisi dua. Btw, kapan jadwal pastinya?"

Bagas:"Kedepan akan diinfokan lagi. Beberapa anggota lagi tugas praktikum di pesantren."

Zainal:"Gue gak urusan sama anggota lain. Cuma mau tahu Sarah Izha Mahendra."

Bagas:"Dia lagi praktikum di pondok pesantren daerah Banten."

Zainal menghela napas berat. "Banten," gumamnya, matanya menerawang jauh




Lembar buku pernikahanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang