Gerimis membasahi dedaunan, butir-butir air menetes perlahan ke tanah, menebarkan aroma yang selalu candu. Ini adalah hujan pertama di bulan Agustus, sejak kepergian Sarah tiga minggu lalu. Waktu berjalan, bulan pun berganti. Di luar sana, umbul-umbul merah putih mulai semarak, tanda kemerdekaan semakin dekat.
Zainal berdiri menatap keluar jendela dari lantai dua. Biasanya lantai ini ramai oleh keberadaan Sarah, tetapi kini sudah hampir satu bulan hening—sunyi, berdebu, kosong. Kakinya melangkah pelan masuk ke kamar Sarah. Hawa sepi menyergap lebih dalam. Ia merebahkan tubuh di ranjang berseprai ungu itu, seakan mencoba merasakan kembali jejak keberadaan yang hilang.
Detik jam berdetak lirih, mengisi kesunyian. Pandangan Zainal kosong ke langit-langit, pikirannya melayang jauh. Ia teringat pada dirinya dan Sarah. Desember nanti, ia akan wisuda. Setelah itu… sesuai perjanjian yang sudah mereka buat: “cerai.”
Kata itu meluncur pelan dari bibirnya, seperti duri yang menusuk.
Pikirannya nakal berkelebat: mungkin saja kini Sarah sedang menjadi incaran pemuda lokal di tempat KKN-nya. Bisa jadi anak pak kades, atau mungkin putra ustaz di desa. Membayangkan itu saja sudah cukup membuat hatinya tercabik.
Zainal menggenggam resahnya. Apa sebenarnya perasaan ini? Apakah cinta? Atau sekadar keterikatan karena dipaksa hidup satu atap tanpa pilihan? Perasaan macam apa yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata ini?
Ia bangkit dari ranjang, lalu duduk di kursi belajar. Di sana berserakan buku-buku, sebagian besar tentang Bimbingan Konseling Islam. Tangannya meraih salah satu buku, dan tanpa sengaja terbuka pada halaman yang diselipi sebuah catatan kecil. Tulisan tangan Sarah terpampang jelas:
Agustus
Makan ke Solaria
Ke museum kayaknya oke
Minum matcha hot
Tapi KKN…
Tanpa sadar, bibir Zainal melengkung tipis. Benar kata teman-teman organisasi di fakultas: Sarah memang anaknya random. Tapi jujur saja, selama ini ia tak pernah benar-benar menyaksikan kerandoman itu.
Zainal menutup buku tersebut, lalu membuka laci meja belajar. Di sana tersimpan sebuah map berisi surat keputusan tempat KKN Sarah. Matanya mendadak terbelalak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar buku pernikahan
Dla nastolatkówPernikahan Zainal dan Sarah bukanlah hasil dari cinta, melainkan perjodohan. Zainal, pria dingin dan pendiam, telah lama menjalin hubungan dengan Tania, wanita yang tidak mengetahui keberadaan Sarah dalam hidup Zainal. Sementara itu, Sarah, yang tah...
