23

339 11 1
                                        

Sarah melangkah masuk ke dalam sebuah toko perlengkapan olahraga di sudut kota. Awalnya, ia hanya bermaksud membeli sepasang sepatu lari baru, tetapi desain minimalis dan koleksi eksklusif di toko ini menarik perhatiannya lebih jauh. Suasana ruangan terasa elegan, dengan rak-rak kayu yang tertata rapi dan pencahayaan lembut yang memberi kesan mahal.

Ia menjatuhkan deretan sepatu dan sesekali menyentuh bahan jaket yang dipajang. Semuanya tampak premium, tidak seperti toko olahraga biasa. Seorang pegawai berseragam hitam mendekatinya.

"Selamat datang, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.

Sarah mengangguk kecil. "Saya mencari sepatu lari. Yang nyaman tapi tetap stylish."

Pegawai itu tersenyum dan mulai mengarahkan Sarah ke rak khusus. Saat ia hendak mencoba salah satu sepatu, terdengar suara laki-laki dari belakang. Suara yang sangat ia kenali.

"Ambilkan model yang lebih ringan. Dia nggak suka yang terlalu berat."

Sarah menoleh. Matanya bertemu dengan Zainal yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, mengenakan kaus polos hitam dengan jam tangan sport di pergelangan tangannya.

"lu?" Sarah mengerutkan kening.

Zainal hanya melihat sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke pegawai tadi. "Coba yang seri ini. Warna abu-abu."

Pegawai itu menurutnya, meskipun wajahnya menunjukkan kebingungan.

Sarah muncul pelan, merasa aneh dengan sikap Zainal. "Gue bisa pilih sendiri," katanya sambil menyilangkan tangan.

Zainal tak menjawab, hanya memberi isyarat dengan dagunya ke pegawai agar tetap membawa sepatu yang ia rekomendasikan.

Sarah menghela napas dan akhirnya duduk di kursi kecil untuk mencoba sepatu yang ditawarkan. Saat ia memasukkan kakinya ke dalam sepatu itu, ia terkejut.

"Pas. Nyaman juga."

Zainal tidak menanggapi, tapi ada sedikit ekspresi kemenangan di matanya. Sarah mengamati sekeliling, mencoba mengabaikan keberadaannya, lalu matanya menangkap sesuatu di dinding belakang toko.

Sebuah foto.

Foto seorang pria yang berdiri di depan toko ini saat pertama kali dibuka. Wajahnya sedikit tertutup bayangan, tetapi Sarah mengenali sosok itu.

Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia kembali menatap Zainal yang kini sedang berbicara dengan pegawai lain.

Pelan-pelan, Sarah menyusun potongan teka-teki yang baru saja terkuak.

Toko ini... milik Zainal?

Ia mengerutkan kening, masih berusaha mencerna semuanya. Kenapa Zainal tidak pernah menyebutkan hal ini? Kenapa dia harus tahu dengan cara seperti ini?

Namun, sebelum dia bisa bertanya, Zainal lebih dulu berbalik dan melemparkan satu kalimat singkat yang membuatnya semakin tak habis pikirnya.

"Ambil saja. Anggap sebagai hadiah."

Sarah terdiam.

Untuk pertama kalinya, saya merasa ada banyak hal tentang Zainal yang belum diketahuinya.

Aku ga janji tapi, aku usahain dalam satu minggu bakal ada satu hari aku up dua chapter, ga nentu entah itu hari senin, selasa atau kaya jum'at sekarang aku up dua chapter.

Dannnn.... mungkin kalian merasa karakter yang lain belom hidup, cuma Zainal dan sarah aja kan. Tenang setelah ini Tania, Bagas, Zainal degeng (Hasan, Fauzan dan Sahrul) Sarah and friend (yayu dan Azura) akan semakin bersinar di chapter-chapter berikutnya. So stay tune jangan lupa like dan komen yaa... bial acu cemangat nulisnya heheheh

Lembar buku pernikahanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang