Delapan belas

272 7 1
                                        

Guys maaf sebenarnya gue bingung lanjut atau ngga cerita ini, tapi ada perasaan sedih juga pas lihat ternyata 9 bulan cerita ini ga digarap. Dan gue mau coba hidupin lagi kisah Zaenal/Zainal (sama aja yachhh kada typing gue otomatis berubah kalo ngtik alurnya di hp jadi maklum yawww) dan Sarah.

Mohon ramein ya guys tinggalin jejak
Semoga tahun ini tahunya Bang Ze dan Sarah.

Zainal menuruni tangga yang menghubungkan gedung fakultas dengan pelatarannya. Di sana, sekelompok organisasi sedang rapat, dan Bagas terlihat sedang memaparkan sesuatu dengan penuh semangat. Zainal mengamati sekeliling, mencari sosok yang selalu ia temui setiap kali ada Bagas di situ. Tapi, ia tak menemukannya. Sarah tak ada di sana.

Langkah Zainal terhenti sejenak, dan matanya menangkap sosok yang sedang berjalan sendirian dari arah berlawanan. Sarah. Ia tak mengenakan kacamata, dan kali ini, Zainal bisa melihat betapa matanya terfokus pada jalanan, seakan tak ingin melihat siapapun.

"Sarah!" Zainal memanggil, sedikit terburu-buru, saat Sarah hampir melewatinya.

Sarah berhenti, matanya menatapnya sebentar sebelum akhirnya menoleh dengan raut wajah yang datar. Suasana menjadi hening beberapa detik, keduanya saling mengukur satu sama lain dengan pandangan.

"Kenapa?" tanya Sarah, tanpa ekspresi, seperti sudah terlalu lelah untuk melibatkan emosi dalam percakapan ini.

"Ngobrol sekarang bisa?" Zainal bertanya dengan nada yang sedikit memaksa, meskipun ia tahu betapa beratnya permintaan ini.

Sarah melirik jam di pergelangan tangannya, ragu sejenak, lalu menjawab dengan datar.

 "Jam berapa bisanya? Gue tunggu."Zainal mengangguk cepat. 

"Sekarang juga bisa. Tapi gue izin dulu sama Bagas," Sarah menjawab dengan datar. 

keheningan kembali menjadi pemenangnya.

Zainal mencoba mencari jalan keluar dari kebisuan yang terbentuk di antara mereka. "Lewat chat aja, nggak bisa?"

Sarah tidak berkata apa-apa lagi. Hanya mengangguk pelan, dan mereka berdua berangkat menggunakan mobil Zainal, menuju sebuah kafe yang cukup jauh dari kampus.

Begitu sampai di kafe, mereka duduk di pojokan, jauh dari keramaian. Sebelum percakapan dimulai, ponsel Zainal bergetar, menampilkan panggilan dari Tania. Zainal menatap layar ponselnya sejenak, tapi ia tetap tidak mengangkatnya. Panggilan kedua masuk, dan tetap ia abaikan.

"Angkat aja," ujar Sarah, melihat keganjilan itu.

Zainal hanya diam, matanya tetap tak lepas dari ponselnya yang bergetar. Sarah mengerutkan kening, merasa ada yang tak beres. "Sebagai cewek, gue sih nggak suka diperlakukan kayak gitu. Dan gue rasa cewek lu juga nggak suka," kata Sarah, dengan nada yang lebih tajam dari yang ia kira.

"Cewek gue nggak sama kayak lu," jawab Zainal dingin, matanya tetap terfokus pada ponselnya.

Sarah menatapnya, bingung, dan akhirnya menghela napas. "Nyesel gue ngomong," Batin Sarah, merasa tak nyaman dengan situasi yang tiba-tiba canggung ini.

Zainal mengeluarkan selembar kertas dari tasnya, mengubah arah percakapan. "Lu wisuda? Kapan?" tanyanya, berusaha menyelipkan topik lain.

Sarah langsung menarik kertas itu, memeriksa tanggal yang tercantum di sana. "Dan soal perceraian kita," Zainal melanjutkan, suara datarnya membuat Sarah mendadak kaku. "Gimana?"

Sarah terdiam, berpikir sejenak. Memang, mereka sudah berjanji untuk bercerai setelah Zainal wisuda. Semua ini terasa begitu rumit, tapi tak bisa dipungkiri.

"Lu ngurus proses percerainya kapan?" tanya Sarah, suara datarnya tak bisa menyembunyikan ketegangan yang menyelip di antara kata-katanya.

"Secepatnya," jawab Zainal, tenang, meski Sarah bisa melihat bahwa dirinya tak sekuat yang ia perlihatkan.

Ponsel Zainal bergetar lagi, menandakan panggilan masuk. Sarah memandangnya dengan tatapan yang tak terlalu percaya.

"Penting kali itu, angkat aja," ujar Sarah, tak bisa menyembunyikan nada kecewa.

"Ngga ada yang lebih penting dari perceraian kita," jawab Zainal dengan tenang, menolak panggilan Tania lagi, seolah-olah itu tak berarti apa-apa.

Sarah hanya diam. Seakan mengerti bahwa semuanya kini sudah sampai pada titik yang tak bisa mundur lagi. "Umi dan keluarga gue sudah tahu soal ini, kapan menurut lu waktu yang pas untuk ketemu Abi?" tanya Zainal, tanpa ada perasaan canggung.

"Bulan ini Abi lagi di Medan. Mungkin setelah dia pulang," jawab Sarah, dengan nada datar, tak ada emosi yang keluar. Entah kenapa, ini terasa lebih seperti urusan yang sudah tak punya arti lagi.

Zainal menatapnya, dan tiba-tiba bertanya, "Oh ya, mau pesan apa?" Nada suaranya lebih ringan, seperti ingin mengubah suasana yang semakin mencekam.

"Apa aja deh," jawab Sarah, kebingungan, tak tahu harus memilih apa.

Zainal beranjak untuk memesan, meninggalkan Sarah sendirian di meja dengan kebingungannya. Sarah mengatur napas, menatap ponselnya yang bergetar. Lima pesan masuk dari Bagas. Rasa bersalah kembali menghantamnya, karena belum sempat memberi kabar pada pria itu.

"Kenapa dia tenang banget, ya?" gumam Sarah dalam hati, kebingungan dengan sikap Zainal yang begitu tenang di tengah semua perasaan yang tak terucapkan.

Sarah menatap Zainal yang kembali ke mejanya, membawa pesanan mereka. Dalam ketenangannya, Zainal tampak seperti seseorang yang sudah menerima apa yang terjadi—bahkan jika itu berarti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Sikapnya yang tak tergoyahkan itu membuat Sarah terkesan. Ada sesuatu yang membuatnya merasa kecil dan seakan tak berarti, meski ia sudah berusaha menahan segala perasaan yang ada.

Sarah menundukkan kepalanya, menatap tangan yang gemetar sejenak sebelum mengangkat kepala dan menatap Zainal.

"Zainal," Sarah mulai, dengan suara pelan, "gue... mau balik lagi ke rumah."

Zainal mengangkat alis, menatapnya sebentar dengan mata yang penuh pertanyaan, tapi ia tidak berkata apa-apa. Tak ada protes, tak ada kata-kata menghalanginya. Tapi untuk saat ini, Sarah tahu, ini adalah titik di mana egonya telah turun, dan mereka hanya perlu menjalani proses in.  sebelum semuanya benar-benar berakhir.



Lembar buku pernikahanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang