12. Di bawah rembulan

98 8 4
                                        

    Helloo!!

    Aku kembali, ditengah kuota yang tiris.

    Kalian apa kabar? Moga sehat selalu ya.
 
    Kalian tau cerita ini dari mana??

    Bantu cek ulang penulisan kata karena aku up part ini tanpa periksa ulang.

     Happy reading!!

     ******
     "Ini untuk mu."

     Ku berikan susu dan yougurt itu pada Leah ketika sampai di cafe. Hampir sebagian besar siswa tengah menyantap makan siang. Dan dimeja yang mereka tempati belum ada sepiring makanan pun tersaji. Hanya empat cangkir coklat hangat dengan wip cream cheese yang bahkan masih tersisah setengah.

      "Kenapa kau lama sekali? hampir tiga puluh menit." Tanya Leah ketika aku menduduki satu sofa kosong disamping gadis itu.

       Untuk sejenak, aku tidak langsung menjawab. Pandangan ku teredar pada sekeliling meja yang mereka pilih. Cukup bagus karena tidak jauh dari pintu masuk namun masih tetap dekat jendela. Meja yang mereka pilih pun lebih tepat dikatakan sofa karena berkomposisi empat kursi berbahan wol dan satu coffe table dengan ukuran cukup lebar.

      "Aku bertemu teman lama di toko." Jawab ku tanpa berbohong. Itu memang kenyataannya, kan. Aku bertemu Alan yang bahkan aku sendiri sudah lupa dengan teman main semasa kecil.

       Leah hanya mengangguk tipis. Tidak mempermasalahkan lebih jauh.

      "Well, karena Zeyra sudah kembali, mari kita pesan makanan. Aku sudah lapar." Ujar Alden sambil menggosok kedua telapak tangannya.

       "Kenapa kalian tidak memesan lebih dulu, tidak perlu menunggu ku." Kata ku tidak enak. Ku pikir, mereka belum memesan karena ingin makan hidangan yang ringan.

      "Karena akan adil kalau kita memesan bersamaan." Damian mewakili jawaban.

       "So, what do you wanna eat, ms. Blaire?" Tanya lelaki belasteran Polandia itu kemudian.

       "Eum...." aku mengetuk dagu sejenak ketika membaca deretan makanan pada buku menu. Aku tidak ingin makan yang terlalu berat, maka pilihan jawaban ku adalah, "Just a simple dish, roti bakar coklat keju."

       "Okay, semua pesanan sudah siap." Damian mewakili menulis pesanan kami masing-masing kemudian membawanya ke meja kasir untuk diproses sekaligus dibayar. Dan tanpa butuh waktu lama, lelaki dengan rambut hazel itu telah duduk bersama kami.

      "Kenapa hanya dia yang dapat susu dan yougurt?" Suara Alden dengan pandangan mengarah pada susu botol dan Yougurt yang masih di geser ke kanan dan ke kiri oleh Leah.

      "Karena aku tidak yakin kau akan suka dengan yougurt, terlebih rasa blueberry." Final ku. Sangat jarang ada laki-laki yang suka varian yougurt rasa beri-berian.

      "Apa tidak ada rasa coklat?" Tanya Alden lagi.

      "Membayangkan fermentasi susu dicampur dengan creamy-nya coklat akan menjadi perpaduan yang aneh, Al. Aku berani bertaruh kau akan bolak-balik toilet jika mencobanya." Lagi, Damian mewakili jawaban.

      "Well, Zey. Pesanan si tiang listrik ada?" Kini Leah yang bertanya.

      Tanpa bertanya siapa tiang listrik yang dimaksud, aku pun menjawab, "Ada." Ku angkat rendah goodie bag berisi keju bundar itu. Leah pun mengangguk sebagai respon.

       Untuk beberapa menit, keheningan menyelimuti kami. Alden sibuk dengan ponselnya-sepertinya main game. Leah sibuk dengan susu dan yougurt yang ku berikan dan Damian. Netra abu-abunya tampak fokus pada satu titik di bagian pojok kiri, dekat vas tinggi berbahan rotan.

Unwanted StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang