Double up!!
Pengen di upload dari pertengahan bulan Juli tapi kuota internet aplikasi ku tidak mau diajak kompromi.
Jangan lupa vote dan ramein komentar biar rank cerita ini naik.
Happy reading!!
*****
Pernah tidak, kalian dipandang bersalah tapi tidak membuat kesalahan apapun?
Sudah setengah jam waktu istirahat berjalan, setengah isi tray makan siang ku juga sudah habis. Namun suasana meja masih sepi dari yang biasanya ramai. Alden, Damian dan Jeno, sibuk dengan makan siang masing-masing sambil main game. Jhonny sibuk dengan pastanya, sementara Leah dan Jaemin saling lempar kode lewat tatapan.
Tidak hanya itu, aku bahkan merasa perhatian beberapa warga kantin tertuju pada ku secara diam-diam. Aku berani bertaruh jika kehebohan tadi pagi terdengar seluruh warga sekolah, tapi tidak seluruh perhatian tersita hanya untuk melihat kejadian itu, terlebih kejadian yang melibatkan Brandon.
Leah mengedikkan kepala ke arah Jhonny dengan mulut agak maju. Menyuruh Jaemin bicara.
Dan Jaemin, ia malah melakukan hal yang sama. Seolah takut membuka pembicaraan dan terus melempar kode agar Leah yang memulai duluan.
Lagi, Leah tidak mau. Dan membuat Jaemin mau tidak mau menghela napas setelah memutar bola mata malas.
"Ekhem..." cowok berdarah Korea itu berdeham sejenak, mengurangi atmosfer canggung yang cukup terasa. "G-guys, apa tidak sebaiknya kita membicarakan sesuatu? Agak aneh jika meja ini sepi," lantas melirik Jhonny takut-takut, "i-iya kan, Jhonny?"
Lelaki dengan tinggi badan hampir 2 meter itu akhirnya mengangkat pandangan. Memandang kami satu persatu dengan raut datar yang sangat jarang ia perlihatkan, terutama pada ku.
"Do you wanna explain us something, Zey?" Bahkan nada suaranya juga datar.
Untuk kedua kalinya aku tercekat. Pertanyaan itu membuat ku seperti ditodong pisau. Aku tidak langsung menjawab, memilih diam sejenak dengan kepala agak tertunduk. Haruskah?
Selama ini, aku berpikir jika identitas Brandon akan menjadi rahasia antara kami berdua. Rahasia yang akan tersimpan rapih. Namun setelah kejadian barusan sangat mustahil jika akan tetap jadi rahasia. Terlebih ia muncul tiba-tiba diantara keramaian hingga membuat batang cemara itu patah menjadi dua.
"Fine," akhirnya aku mengangkat pandangan. Percuma tetap beralasan karena pada akhirnya mereka akan tahu. Suka atau tidak, menerima atau menolak. Dan aku harus siap dengan segala respon yang akan diterima " i will explain you guys, something. But not now and not here."
"So, when?" Suara Jhonny, lagi. Pelan, tapi syarat menuntut.
"Nanti, setelah jam sekolah selesai." Terdengar terburu-buru memang. Tapi lebih cepat ku jelaskan, akan lebih cepat juga rasa penasaran mereka terjawab. Dan aku tidak akan berhutang penjelasan lagi setelahnya.
"Okay, pulang sekolah, kami akan ke kelas mu." Jhonny mengangguk pelan-masih dengan raut datar. Setelahnya, suasana meja kembali ramai walau rasa canggung itu masih ada.
*****
Rasanya seperti sedang disidang untuk menentukan hukuman atas kesalahan mu.
Pelajaran terakhir sudah selesai sejak lima belas menit yang lalu. Dan sebelum pelajaran selesai, Trio J sudah datang ke kelas ku-menunggu diluar tentunya hingga kelas benar-benar sepi. Dan ketika dikelas tersisah aku dan Leah-karena Damian dan Alden pulang lebih dulu karena ada urusan keluarga, disinilah kami sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unwanted Story
Fantasy"Bran, y-you..." Seandainya hari itu Zeyra tidak sengaja mendapati teman barunya mengoyak leher seekor rusa, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. ***** Kejadian menjijikkan yang Zeyra lihat hari itu adalah awal dari perubahan...
