2. Sport Subject

248 16 2
                                        

         Hey guys!!

         Unwanted story, back!

         Tandai typo.

         Happy reading.

         ***

        

                Sang surya memunculkan sinarnya secara perlahan dari celah awan, membuat mata ku secara otomatis sedikit menyipit ketika cahaya menghangatkan itu menerpa kulit wajah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

       
        Sang surya memunculkan sinarnya secara perlahan dari celah awan, membuat mata ku secara otomatis sedikit menyipit ketika cahaya menghangatkan itu menerpa kulit wajah. Aku tersenyum merasakannya, setidaknya cuaca hari ini sedikit cerah dari hari kemarin yang didominasi awan tebal.

          "Huuh, kenapa harus cerah, aku sedang malas olahraga!" Keluh Leah ketika merasakan hawa panas menerpa wajahnya. Aku hampir lupa mengatakan jika sekarang kami berada dilapangan untuk melakukan pelajaran olahraga. Dan Leah, ia tengah berbaring disamping ku karena jam masuk masih ada tiga puluh menit.

         Aku terkekeh seraya menoleh dengan  pandangan sedikit menunduk kearahnya, "bukannya kau memang selalu malas olahraga." Ejek ku. Gadis itu memang jarang bersemangat jika melakukan pelajaran ini.

         Seketika Leah bangkit dengan alis agak menukik, tidak terima dengan perkataan ku. "Aku tidak semalas itu, ya. Buktinya, minggu lalu aku bisa mendapat nilai delapan ketika bermain volly." Tuturnya membela diri. Tidak ingin terlihat terlalu malas.

         Aku mengangguk tanpa mengurangi kekehan, "baiklah, baiklah. Leah Alexandra memang murid yang rajin." Aku mengiakan kalimatnya dengan nada mengejek.

          "Hey Gurl!! You like a weather,"

          Mungkin hanya selang tiga menit setelah aku bicara, Jeno tiba-tiba datang dan duduk disamping ku. Sepertinya dia sedang bahagia. Kentara, karena tersenyum begitu manis hingga matanya menyipit.

          "Jangan mencoba menghibur ku, Bule Korea." Leah melirik sinis. Ia merasa disindir oleh kalimat Jeno.

          "Tumben kau datang lebih awal, tidak biasanya?" Aku beralih pada lelaki belasteran Korea itu. Agak lain saja rasanya, melihat seorang Jeno Adler Kim datang di jam seperti ini. Anak ini biasa datang paling lambat, lima belas menit sebelum bell berbunyi.

        Jeno menghirup udara segar kemudian menghembusnya secara perlahan, senyum manisnya masih belum beranjak dari wajah tampan itu. "Karena pagi ini cerah, pasti kita akan main basket atau tidak bulu tangkis." Jawabnya yang lebih tepat dikatakan sebagai tebakan. Aku tidak merespon jawabannya, hanya mengangguk pelan. Apa yang akan kita lakukan pagi ini, tergantung dari guru olahraganya.

       "Zeyra, did you...."

        Priiiuiitt....

       Suara pluit yang nyaring menginterupsi sebelum kalimat Jeno terucap sempurna, membuat kami berdua kompak menoleh kebelakang dan mendapati Mr. Tristan datang dengan bola basket ditangannya, diikuti oleh teman-teman yang lain dibelakang. Ah, ternyata mereka sudah datang, aku kira mereka sengaja terlambat.

Unwanted StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang