"Bran, y-you..."
Seandainya hari itu Zeyra tidak sengaja mendapati teman barunya mengoyak leher seekor rusa, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.
*****
Kejadian menjijikkan yang Zeyra lihat hari itu adalah awal dari perubahan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hai... Masih ada yang nungguin cerita ini?? Maaf udah kelamaan gak up, aku Lagi banyak kerjaan soalnya.
Ramein setiap paraghrap dengan komenan!! Tandai typo and...
**Happy Reading**
Hanya kecelakaan kecil, namun membuat Brandon membawa ku meninggalkan pesta tanpa berpamitan dengan orang tua Leah.
Hanya kecelakaan kecil, namun membuat Brandon diam sepanjang perjalanan pulang. Netra kuning keemasannya setia menyorot tajam ke depan meski kedua tangannya tampak tenang memutar kemudi. Hanya suara radio mobil yang volumenya pelan sebagai pengisi sepi diantara kami.
Bahkan hingga sedan putih ini berhenti didepan rumah ku, lelaki itu masih setia membungkam bibir.
Kami sama-sama diam, Brandon dengan pikirannya yang tidak bisa ku tebak, dan aku yang hanya menunduk menatap luka yang tidak lagi mengeluarkan darah.
Satu tangan lelaki itu bergerak, mengambil tangan kanan ku yang terluka. Rasa dingin seketika menyebar ketika ia mengusap pelan luka itu.
"I'm sorry." Ia melirih pelan dengan rasa bersalah dalam kalimatnya.
Aku mengangkat pandangan perlahan, menatap manik indah yang tengah memandang ku dalam. "It's okay, ini hanya luka kecil, akan ku obati nanti." Ku elus balik tangannya dengan tangan kiri ku yang bebas. Ini bukan salahnya, dan juga kejadian tadi terlalu tiba-tiba.
Brandon melepas seat beltnya kemudian keluar dari kursi kemudi, ia melesat memutari mobil membuka pintu penumpang disebelahnya. Sebelah tangannya terulur diatas kepala ku ketika keluar dari mobil.
"Sepertinya rumah mu sepi?" Katanya saat melihat halaman rumah ku yang hening.
Aku mengangguk pelan, sepertinya ayah dinas lagi keluar kota dan ibu berjaga lagi dirumah sakit. Lampu kamar ku terlihat masih menyala, berarti Alan belum tidur.
"Ayo obati luka mu." Brandon menghela napas pelan sebelum kembali menggenggam tangan ku memasuki halaman rumah. Entah ada apa dengan lelaki itu hari ini, tapi sejak kami berangkat hingga kembali, Brandon berlaku manis.
Kami berhenti didepan pintu. Brandon melepas genggamannya. "Don't worry, aku bisa mengobatinya sendiri. Lukanya akan kering setelah ku beri salep." Aku tersenyum meyakinkannya. Lagi pula, ini sudah larut malam jika ia harus berlama-lama disini mengurus luka ku yang tidak seberapa.
"Zey, is that you?"
Pintu terbuka dan menampakkan Alan dalam balutan piyama kuning bermotif kookies coklat. Tangan kanan lelaki itu menggenggam sekaleng soda dan mulutnya bergerak pelan, aku tebak ia sedang nonton sambil makan cemilan.