
Halo, apa kabar?
Sesuai judul chapternya, spam komen pake umur kalian dong, aku pengen tau, yang baca cerita ini umur berapa aja
**Happy Reading**
"Thanks uncle, we will stay another time!"
Plak....
"Thankyou so much uncle, jangan dipikirkan omongan Jaemin, dia selalu tidak jelas."
Terkadang ada beberapa alasan kenapa kepala Jaemin harus sesekali di geplak, salah satunya adalah ini. Ketika kami sampai disekolah-yang mana sebagian dari kami ikut di mobil Jhonny, lelaki berdarah Korea itu dengan percaya dirinya terlihat ketagihan menginap dirumah ku, yang langsung mendapat hadiah jitakan dari Jhonny di sisi kanan kepala Jaemin.
"Ibu mu sangat baik, Zey. Mungkin aku akan sering main kesana, apalagi masakannya enak." Jaemin kembali berceletuk asal kala kami memasuki area parkiran.
"Memangnya masakan ibu mu tidak enak?" Aku menoleh padanya dengan senyum jahil.
Lelaki itu berkedip sejenak, "tentu saja masakan ibu ku yang terenak, tapi untuk ibu mu jelas ada bedanya, tapi sama-sama enak."
Aku terkekeh mendengarnya, secara tidak langsung Jaemin terdengar seperti tidak ingin membuat ibunya cemburu karena masakan ibu ku. Tapi itu hanya bercanda yang ku respon dengan gelengan kecil.
"Undangan mu bagaimana?" Aku beralih pada Leah yang memang berada disamping ku sejak kami tiba disekolah. Waktunya tinggal berapa hari lagi dan seharusnya undangan-undangan itu dicetak hari ini.
Gadis dengan rambut yang diikat setengah dan diberi pita merah sebagai pemanis itu mengeratkan genggamannya pada tali tas, "setengahnya akan ku cetak pulang sekolah nanti dan setengahnya lagi ku bagikan di grup angkatan." Leah memang tidak mengundang banyak orang, mungkin hanya sekitar seratus orang atau tidak sampai.
Aku mengangguk. Banyak hal yang harus dipersiapkan menjelang ujian semester, maka Leah pun tidak ingin menambah pikirannya dengan jumlah orang yang akan diundang.
"Zeyra!"
Tinggal satu meter lagi kami akan memasuki pagar kecil yang menghubungkan dengan gedung utama, suara bariton tegas namun tetap lembut itu menghentikan langkah kami, membuat kami semua menoleh ke sumber suara dimana Brandon baru saja keluar dari sedan putihnya dengan kacamata hitam dan tas ransel yang tersampir pada bahu kanannya.
"Apa hanya perasaan ku saja, dia tampak lebih tampan hari ini?" Wajah Jaemin mendadak cengo ketika lelaki dengan sun glasses itu melangkah mendekati ku.
"Terdengar seperti keajaiban dunia kau memujinya, Jaem." Respon Jeno yang tampak santai melihat Brandon.
Sejujurnya ini juga sebuah kejutan kecil bagi ku karena untuk pertama kalinya lelaki itu memanggil nama ku dengan intonasi yang lebih kencang dari biasanya, selain itu ini menjadi yang pertama kali melihat Brandon datang tidak sepagi biasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unwanted Story
Fantasy"Bran, y-you..." Seandainya hari itu Zeyra tidak sengaja mendapati teman barunya mengoyak leher seekor rusa, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. ***** Kejadian menjijikkan yang Zeyra lihat hari itu adalah awal dari perubahan...
