11- Peternakan sapi

86 10 5
                                        

Mungkin ini pertama kalinya aku double up setelah keseringan ngaret.

    Seperti part sebelumnya, tandai kalau ada salah ketik karena aku up part ini tanpa ngecek ulang.

    Thankyou and

    Happy reading!!

    ******

    "Zey, look at there. The cow is so cute, right!" Tunjuk Leah pada seekor anak sapi yang tengah menyusui pada induknya.

     Aku mengikuti kemana telunjuk gadis itu mengarah, lantas mengangguk kecil atas pernyataan bernada semangatnya.

     Hari kedua di Lauterbrunnen diisi dengan berkunjung selama seharian penuh di sebuah peternakan sapi yang letaknya sekitar lima puluh meter dari kebun anggur yang kemarin kami kunjungi. Dan sekarang sudah lima belas menit sejak kami tiba. Berjalan pelan memasuki bangunan yang di dominasi kayu dan baja ringan ini. Di sini, kami akan belajar sedikit bagaimana memeras susu sapi yang benar dan akan melihat sedikit  bagaimana susu-susu itu diproses menjadi olahan nikmat seperti yougurt atau keju.
     Selain peternakan, aku sempat melihat sekilas disini ada cafe kesederhana yang menjual olahan susu atau pun daging sapi juga souvernir yang bertemakan sapi. Ah, sepertinya kunjungan hari ini akan lebih menyenangkan dari kemarin.

     "Seperti yang kita ketahui, Swiss merupakan negara penghasil susu dan keju terbaik di dunia," ucap seorang pria yang ku perkirakan usianya kepala enam. Kami mengikuti langkanya dengan santai. Sembari menunjuk kearah beberapa ekor sapi yang sengaja dilepas liar di padang rumput hijau, "Oleh karena itu, demi menjaga kualitas susu tersebut, kami menanam rumput terbaik untuk pangan sapi-sapi disini. Mengusahakan sapi-sapi itu tidak mengalami stress karena kekurangan asupan nutrisi." Lanjutnya.

    Langkah kami pun keluar dari bangunan utama peternakan. Beranjak pada kandang sapi yang terbuka, dimana ada seekor sapi yang tengah diikat disebuah tiang untuk diperah susunya.

     Pria itu berhenti melangkah, yang secara otomatis menghentikan langkah kami semua.

     "Dan ini adalah salah satu sapi yang usianya sudah pas untuk diperah susunya," tunjuknya menggunakan pandangan. Senyum ramah belum beranjak dari wajahnya.

      Perhatian kami fokus pada seorang pemuda yang jongkok disebelah sapi itu. Dengan sebuah ember aluminium disampingnya, kedua tangannya mulai memeras susu sapi tersebut.

      Kami memperhatikan dengan seksama bagaimana tangan pria itu lebih tepat dikatakan memijat pelan dari pada memeras niple sapi. Membuat hewan degan tubuh belang hitam putih itu tetap berdiri dengan tenang tanpa meras kesakitan.

      "Ada yang mau mencoba?" Suara pria itu kembali terdengar. Netranya memandang kami bergantian.

       Untuk sejenak, kami semua saling berpandangan seolah bertanya, 'kau ingin mencobanya?' Dan beberapa dari kami menjawabnya dengan cengiran tipis, pertanda masih ragu.

       "Alden, kau sepertinya tertarik?" Celetuk Damian tiba-tiba.

      Alden yang merasa akan dijadikan tumbal kejahilan Damian memandang lelaki itu dengan mata membola, "A-apa? Tidak! Aku tidak tertarik!" Alden menggeleng keras.

     Namun bukan Damian kalau bisa menahan kejahilannya, lelaki itu tersenyum nakal lalu berkata, "Sir, sepertinya teman ku tertarik ingin memeras susu sapi."

     Dan kalimat itu sukses membuat wajah Alden pucat layaknya akan diminta mengerjakan soal kimia di papan tulis.

     Pria paruh baya itu menoleh, "really? Silahkan maju, kalau begitu."

Unwanted StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang