"Bran, y-you..."
Seandainya hari itu Zeyra tidak sengaja mendapati teman barunya mengoyak leher seekor rusa, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.
*****
Kejadian menjijikkan yang Zeyra lihat hari itu adalah awal dari perubahan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hello...update lagi.
Ramein tiap paragraf dengan komen kalian.
10 komen untuk chapter ini, besok or lusa aku update lagi
__happy reading__
"Bagaimana kalau warna dasarnya ungu?" Ku pindahkan kursor menggunakan stylus pen pada lingkaran warna ungu.
Perasaan baru bulan kemarin pertemanan ku dengan Brandon mengalami perubahan, baru kemarin teman-teman ku tahu identitas lelaki itu yang sebenarnya, tapi sekarang, aku dan Leah sudah men-design akan membuat undangan ulang tahun seperti apa.
Ya, bulan November ini, selain pertengahan semester untuk kenaikan kelas, minggu depan Leah akan ulang tahun. Rasanya semua momen bertepatan dalam satu waktu.
Untuk sejenak gadis itu diam dengan sebelah tangan menopang dagu. Meskipun pembawaannya yang selalu heboh, tapi dia termasuk feminim jika memilih warna.
"Peach saja." Ia mengambil stylus pen dari genggaman ku, mengklik warna merah muda tapi agak orange yang terlihat lembut namun hangat.
"Wow...wow...wow, apakah ini rekor baru kelas mu?"
Tanpa ku berita tahu siapa pemilik suara heboh itu, kalian pasti sudah tahu.
"Tumben kalian keluar lebih cepat, biasanya lewat semenit bell berbunyi baru datang." Jhonny yang paling waras dan kalem diantara mereka bertanya setelah menarik kursi hingga menimbulkan derit kecil. Duo J yang lain sudah duduk dengan tidak kalem seperti biasa.
"Mam Emi ada urusan mendadak makanya kelas dibubarkan lebih awal." Ujar ku memandang mereka bertiga.
"Tapi pasti dia memberi kalian pr dua halaman dan harus dikumpulkan lusa?" Jaemin menebak dengan wajah tanpa dosanya.
Leah memutar mata malas, "dan itu adalah bagian membosankannya."
"Btw, Kalian sedang apa?" Suara Jeno terdengar.
"Mengedit undang birthday Leah." Aku menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari ipad.
Jaemin seketika menegakkan punggung, "kapan si cerewet ulang tahun?" Lalu berseru heboh.
Leah memberikan tatapan sinis, "kita sudah berteman sejak MPLS, ya. Dan kau selalu lupa ulang tahun ku." Volume bicaranya memang tidak besar, namun jelas terdengar jika Leah kesal Jaemin selalu lupa hari kelahirannya.
"Aku bukan petugas sensus yang harus menghapal ulang tahun mu, Leah cerewet." Jaemin kembali menyandarkan punggung dengan raut jahil yang membuat Leah semakin kesal.
"Awas saja, kau tidak akan dapat undangan." Ancam Leah yang aku yakin tidak serius.
Jhonny menghela napas ditempatnya. Leah dan Jaemin sama-sama heboh jika bertemu, ia bahkan pernah membayangkan, kenapa mereka tidak pacaran saja.