Three. Tidak ada pilihan?

7 1 0
                                        

Bel sekolah berbunyi semua murid berhamburan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Ada beberapa dari mereka yang membawa kendaraan sendiri dan ada pula yang dijemput oleh orang tuanya.
Hana dam kedua temannya berjalan menuju depan sekolah sambil sesekali mengobrol.

"Hana lo pulang bareng siapa atau lo bawa kendaraan sendiri?." Ucap Lestari kepada hana

"Gue bentar lagi di jemput kok, kalian kalau udah mau pulang duluan aja." Ucapnya dan dia angguki oleh Lestari. padahal itu hanya alibinya ia masih belum tau akan pulang dengan siapa sepertinya ia akan mencoba menghubungi orang tuanya untuk menjemput barangkali ada keajaiban.

"Lo pasti di jemput sama ayah lo ya han." Ucap Pertiwi.

"Belum tau kalau ayah ga ngejemput gue di jemput sama supir soalnya ayah kerja." Ucapnya.

"Ayah gue juga kerja han, tapi ayah mesti selalu bisa buat jemput gue." Ucap Pertiwi sedangkan Hana hanya menanggapinya dengan diam.

"Eh gue duluan ya bunda udah jemput." Ucap Lestari memecah keheningan.

"Yaudah hati-hati ya Tari salam buat bunda lo." Ucap Pertiwi dan diangguki oleh Tari.

"Itu bokap gue, gue duluan ya han atau lo mau ga sekalian bareng gue." Ucap Pertiwi kepada hana.

"Ngga makasih habis ini gue di jemput kok." Ucap Hana merasa tak enak hati jika harus menumpang dengan Pertiwi lagi pula jalur rumah mereka berbeda.

Ia pun memutuskan untuk menunggu di halte depan sekolah sambil melihat pemandangan yang tak mengenakkan hantinya di mana ia melihat para murid di jemput oleh orang tua mereka masing-masing sedangkan ia tidak.
Bolehkah jika kali ini saja ia Iri?

"Kira-kira kapan ya hana bisa ngerasain hal itu."

"Kira-kira kalau ayah dikasih pilihan ayah bakalan lebih milih kerjaannya atau Hana?." Monolognya kepada diri sendiri.

Ia memutuskan untuk mencoba menelfon ayahnya siapa tau mungkin ayahnya mau menjemputnya.

Tut tut tuttt
Akhirnya panggilan pun di angkat.
"Assalamu'alaikum halo ayah." Ucap Hana

"Waalaikumsalam iya hana kenapa, uang jajan kamu habis?." Ucap seseorang dari sebrang telfon sana. Ini yang Hana tidak suka dari orangtuanya hal pertama yang mesti orang tuanya tanyakan adalah perihal uang, tidak bisakah mereka bertanya sekali saja tentang keadaannya.

"Tidak ayah, Hana menelfon ayah untuk meminta jemput." Ucap hana meski ia tau ayahnya pasti akan menolak.

"Tidak usah manja hanya, pulanglah seperti biasanya minta jemput sama supir ayah sedang sibuk." Ucap ayahnya dan langsung mematikan sambungan sepihak. Lagi-lagi ia hanya bisa menghela nafas.

Ia pun akhirnya menelfon mang Asep dan meminta jemput kepadanya.

"Lagi-lagi Hana kalah, mendapatkan perhatian kecil dari ayah saja Hana kalah." Ucapnya lesu

"Harus dengan cara apa supaya Hana bisa mendapatkan perhatian dari ayah dan ibu, Hana lebih baik tidak memiliki banyak uang daripada harus seperti ini. Tapi lagi-lagi hidup ini adil, Hana masih punya mang Asep yang selalu siap untuk menjemput Hana kapanpun setidaknya Hana tidak perlu kebingungan untuk sekedar pulang ke rumah." Ucapnya kemudian.

Tanpa ia sadari Nugraha mendengar semua pembicaraan, kebetulan ia berada di tukang bakso yang posisinya berada di pinggir halte tersebut.
Ia berinisiatif untuk menemui hana tapi niatnya ia urungkan karena hana sudah di jemput oleh supirnya.

"Siapa sangka paras se cantik itu menyimpan banyak luka." Ucap Nugraha.
Ia pun segera membayar dan langsung pulang menggunakan motor Scoopy yang biasa ia gunakan. Kebetulan motor ini adalah motor kesayangan peninggalan ayahnya. Ia kehilangan ayahnya saat kelas 2 smp, ayahnya meninggal karena kecelakaan waktu itu dan sekarang Nugraha tinggal bersama ibu dan adiknya.

Saat memasuki halaman rumahnya ia heran pasalnya ada satu satpam yang tadi membukakan gerbang rumahnya, sejak kapan ayahnya mempekerjakan satpam baru.

"Mang asep sejak kapan ayah mempekerjakan satpam baru." Ucapnya bertanya kepada mang asep.

"Sejak tadi siang non, kata tuan supaya saya bisa menjadi supir pribadi nona makanya tuan memperkejakan satpam baru." Ucap mang Asep.

"Loh memang ayah sempat pulang mang." Ucapnya.

"Iya non ayah pulang dan baru kembali saat non Hana menelfon saya, saya pikir tuan pulang untuk menjemput non Hana." Ucap mang Asep yang membuat Hana bertanya-tanya untuk apa Ayahnya bohong. Ia bilang ia sibuk tapi ternyata waktu ia menelfon ayahnya ternyata ayahnya berada di rumah ini.

Hana pun segera menuju ke kamarnya untuk mengistirahatkan badan dan pikirannya yang rumit ini. Sesampainya di kamar ia segera mandi, dan kemudian langsung istirahat.

"Sudah banyak kekalahan yang didapat bukan, sekarang waktunya istirahat." Monolognya kepada diri sendiri.

Pukul 16;00 iya terbangun dari tidurnya karena suara berisik dari handphone nya dan setelah ia lihat ternyata ternyata Pertiwi yang menelfonnya kebetulan ia memang bertukar nomor telepon dengan Pertiwi dan Lestari saat berada di sekolah. Ia pun segera mengangkat panggilan dari Pertiwi.

"Halo Han, lo lagi sibuk gak?"

"Ngga emang kenapa Tiwi?"

"Mau ikut gue bareng tari gak, kita mau keluar buat nonton"

"Em boleh deh, tapi gue siap-siap dulu ya"

"Oke kalo gitu, nanti gue jemput lo
Sharelok aja"

"Oke oke gue sharelok"

Panggilan pun berakhir ia mengirim lokasinya pada Pertiwi lalu segera bersiap-siap untuk pergi nonton bersama mereka.
10 menit ia bersiap ternyata bibi memanggilnya karena temannya sudah datang dan iapun segera turun. Sesampainya di ruang tamu ia segera menemui Pertiwi dan Lestari.

"Hai Tiwi,Tari, udah lama kalian?" Ucapnya sembari duduk di kursi panjang yang tepat berada di depan mereka.

"Ngga kok kita baru aja sampai han" ucap Lestari

"Rumah lo gede juga ya lebih gede dari rumah gue, gak nyangka gue punya temen orang kaya" ucap Pertiwi kepada hana.

"Kalian bisa aja deh"ucap hana lagipula untuk apa punya rumah sebesar ini jika isi didalamnya hampa.

Bi Ningsih pun datang membawa minuman untuk kedua teman hana, hana pun mempersilahkan mereka untuk meminum minumannya.

"Di minum dulu minumannya atau sekalian kita makan dulu sebelum berangkat" ucapnya kepada mereka.

"Gausah han, kita makan nanti aja takut keburu kesorean" ucap Pertiwi menolak tawaran Hana.

"Iya han gausah kita makan di luar aja nanti" ucap Lestari kemudian.

Saat mereka ingin pergi tiba-tiba Melisa ibu hana datang dan menghampiri mereka.

"Loh ibu udah pulang" ucap hana dan menyalimi orang tuanya begitupun dengan Pertiwi dan Lestari.

"Iya" ucap Melisa

"Kenalin ini temen baru hana" ucap hana memperkenalkan temannya pada Melisa.

"Hai Tan kenalin saya Lestari dan ini Pertiwi"ucapnya memperkenalkan diri.

"Salam kenal juga ya saya Melisa ibunya hana" sambungnya.

"Kalau gitu Hana sama teman-teman pamit ya bu, mau pergi nonton" ucap hana kemudian.

"Iya jangan pulang terlalu malam" ucapnya Hana pin segera pamit dan menyalimi ibunya begitu juga dengan Pertiwi dan Lestari.

Malam ini mereka menghabiskan waktu bertiga mulai dari nonton, makan di resto dan terakhir mereka mengunjungi pasar malam. Mereka pulang pukul 20:00 karena besok pagi mereka harus sekolah.


___________________________________________________

Hai guys segini dulu ya update nya nanti klo rame saya update bab yang panjang hehee.
Jangan lupa di vote dan di komen ya
Tandai klo ada bacaan yang typo maklum baru belajar bikin cerita.

And see you happy reading all...

Life Is FairCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang