Harga diri

348 42 5
                                        


Mendekati ending🥹🥹

Happy reading, reader-Nim.



Di ruang bawah tanah, Yoongi ikat tangan serta kaki itu di setiap ujung ranjang dengan borgol.

Setiba di rumah, dengan dasi yang ia mainkan di tangan. Berjalan santai menuju lantai atas, sandarkan tubuhnya di dinding.

"KHHKK."

Heesung terkejut bukan main saat lehernya terjerat, sesak. Tentu tenaga Yoongi tidak main-main, menarik dasinya di lingkar leher Heesung. Hingga tubuh itu melemas lalu jatuh pingsan, "sial, rumah ku jadi kotor karena sampah seperti mu."

Dengan menarik kerah itu, Heesung terseret.

Desis terdengar, Yoongi tersenyum miring. Menekan tombol dengan kecepatan maksimum.

Heesung terperanjat, matanya mendelik. Tangan yang terjerat mengepal erat, "hhh bajingan."

Keduanya bersitatap, Yoongi yang mengenakan jubah tidurnya mendekat, gelas berisi wine itu menyentuh bibir tipisnya. "Sudah bangun?"

"Sial, hentikan! Argh."

Yoongi tersenyum remeh, lihat bagaimana merahnya bagian selatan Heesung yang ia jerat dengan cock ring. Pasti sakit sekali, "kau berani sekali berbuat kotor pada adik ku."

Tubuh Heesung gemetar, ingin sekali tumpah kan sperma nya. Namun tak bisa, rasanya begitu menyakitkan, tak hanya tubuh nya. Hatinya juga terasa sakit, bagaimana bisa? Dominan seperti nya di lecehkan seperti ini. Sial!

Melihat Heesung yang mengalami dry cum, Yoongi semakin tertawa lebar.

"Jangan, ku mohon jangan!"

Heesung memohon dengan suara sumbang, tubuhnya lelah. Melihat Yoongi yang sudah berada di antara kakinya, bersiap membobol analnya. "Ku buat kau menyesal, seumur hidup."

Heesung menjerit kesakitan, lainhal nya dengan Yoongi yang mendesah nikmat. Tanpa menunggu, ia gerakan pinggulnya.

"Bukan kah ini nikmat? Hh."

Yoongi cengkeram erat pinggang Heesung menatap mata itu yang terlihat memerah. "Hoseok ku pasti juga ke enakan seperti ini kan?"

Heesung menangis, harga dirinya hancur. Yoongi tak hanya sekali melecehkan nya, dengan berbagai posisi.

Kini hanya kedua tangan itu yang masih terjerat, "kau pasti ingin keluar kan?" Desisnya, masih menggerakkan pinggulnya.

Heesung hanya bisa mendesah, Yoongi yang tak mendapatkan jawaban itu menarik tubuh Heesung hingga punggung nya menempel dengan dadanya. "Jawab, kau bisu?"

"Hhh y-ya, sakit. Aku mau keluarh."

Leher itu Yoongi cekik dari belakang, tangannya melepas cock ring yang melingkar di penis Heesung. "Ahh sedikit lagi."

Mereka tiba bersama, Yoongi biarkan sperma nya basahi anal Heesung. Setelah puas, ia mendorong tubuh itu hingga tersungkur di ranjang.

"Hoseok lebih nikmat daripada dirimu."

Yoongi kembali gunakan jubahnya, Heesung menatap penuh benci punggung yang semakin menjauh itu. Ia harus meloloskan diri.

Tangan Yoongi terhenti saat akan memutar knop pintu, "ah iya. Kau juga harus melayani para pekerja ku." Ucapnya menoleh dengan senyum miring.

Heesung menatap takut kala pintu itu terbuka, ada banyak orang yang masuk. Melihat nya penuh nafsu, "tidak! Jangan!"

Jeritan itu teredam kala Yoongi menutup pintu, ia menyuruh beberapa bawahan nya untuk melecehkan pria itu, mungkin sebelum mengambil nyawanya.

Heesung bergerak random, tak peduli dengan tangannya yang terluka. Bahkan hingga berdarah, "menjauh dari ku sialan!"

Pria-pria itu membuka pakaiannya, mengabaikan setiap ucapan Heesung. Malam ini adalah mimpi terburuk nya, sebelum kematian menjemput.

Yoongi masuki kamar Hoseok, menatap sang adik yang terlelap. Sial, melihat cairan menjijikan itu hiasi wajah sang adik buat dirinya emosi, "haha brengsek sekali."

Yoongi mengambil handuk kecil lalu membasahinya, menatap lama sebelum akhirnya menutup wajah Hoseok.

Menekannya, buat Hoseok tersentak kala nafas nya menitipis. Gelap, ia tak bisa lihat apapun.

"Mmn—"

Hoseok raih apapun, mencakar tangan yang kini menutup wajahnya dengan beringas. Ia bisa mati jika terus di sekap begini, di hatinya hanya merapalkan nama Yoongi.

Setelah melihat sang adik hampir diambang kematian, Yoongi lepaskan handuk itu.

"Hhaa haa, siapa? Hkk." Hoseok langsung menghirup nafas sebanyak nya, tubuhnya bergerak miring ke samping kiri. Berusaha untuk bangkit.

"Y-yung." Suara itu tercekat, Hoseok menatap Yoongi takut.

Apa benar, sang kakak yang mencoba untuk membunuh nya?

"Sudah bangun?" Ucap Yoongi dengan senyum tipis, ia duduk di samping ranjang.

Hoseok menggeser tubuhnya menjauh, sungguh takut dengan perubahan sikap Yoongi. Lebih tepatnya pada manik hitam yang menatapnya itu, "ada apa? Kenapa menjauh?"

"Tidak, Hyung." Gelengan itu Hoseok berikan, tangannya meremat sprei.

Yoongi harus bisa mengendalikan sang adik, bagaimana pun caranya. Dengan cara terkotor sekalipun.

"Ya sudah, selamat tidur."

Yoongi keluar begitu saja, meninggalkan Hoseok yang dengan tergesa mengambil ponselnya. Heesung mungkin bisa membantu, ia ingin pergi dari sini.

"Ungi-e ayo angkat telpon nya!"

Hoseok mengigiti ujung jempol nya, sambungan telpon itu tak di angkat. Lalu tiba-tiba nomornya tidak aktif.

Tak lama banyak pesan masuk dari satu nomor.

Handphone itu jatuh, Hoseok menutup mulutnya terkejut. Video Heesung yang tengah di kelilingi pria, itu terputar jelas. Belum lagi setelah nya ada foto, dimana kepala Heesung terpisah dari tubuhnya.

Hoseok menangis, ia takut.




Tbc
4-5-24

Sini sama aku aja, Seokii🥹🥹

Little Hybrid (SOPE) ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang