“Perempuan baik itu, perempuan yang taat pada suaminya.”
—Afif Rafasya As-shidiq
.
.
.
.
.
Malam ini, perempuan yang tengah mengandung tiga bulan lebih ini sedang membuat sesuatu didapur. Sepertinya, ia mengidam ingin memakan yang pedas-pedas, jadi ia akan membuat Seblak.
"MasyaAllah, wangi sekali. Lagi masak apa kamu?" tanya Alea saat memasuki dapur dan menghirup aroma masakan yang semerbak.
"Lagi masak seblak, Bunda. Bunda mau?"
"Boleh deh. Tapi jangan pedas-pedas, ya."
"Oke, Bunda."
...
Sedangkan Afif, laki-laki ini baru saja menyelesaikan sholat sunnah nya sebelum tidur, sholat tekah selesai, begitupun dzikir. Ia saat ini justru sedang duduk diatas sajadah sembari menatap ke arah lurus.
"Apa saya minta hak saya saja agar Afifah menjadi istri saya sepenuhnya? Dan siapa tau anak itu jadi campuran? Ada darah daging saya, mungkin?"
Pikiran aneh macam apa? Entahlah, yang pasti, malam ini ia akan meminta haknya sebagai seorang suami.
Ia beranjak dari duduknya lalu melipat sajadahnya dan pergi mencari istrinya keluar kamar. Sesampainya diruang tengah, tak sengaja ia melihat sang istri dan Bundanya tengah memakan sesuatu dimeja makan.
"Lagi pada makan apa ini?" tanyanya yang terus duduk disamping istrinya.
"Lagi makan seblak buatan istri kamu. Ini enak banget, serius. Bunda belum pernah makan seblak seenak ini loh." ucap Alea membuat Afifah tersenyum.
"Biasa saja, Bunda." ucap Afifah.
"Enak loh, coba Afif cobain sendiri deh."
"Nggak suka seblak. Aca mau bicara sama Afifah." ucapnya membuat Afifah menoleh kearahnya.
"Bicara apa, Gus?"
Afif beranjak, lalu memegang pergelangan tangan Afifah dan menggandengnya untuk pergi ke kamar sebab ada yang ingin dibicarakan.
Sedangkan Alea hanya fokus makan, ia tidak kepo dengan urusan rumah tangga putranya itu.
Sesampainya dikamar, Afif menyuruh istrinya untuk duduk diatas kasur bersamanya. "Saya mau bicara sesuatu sama kamu."
Perasaan Afifah tiba-tiba gugup begitu saja saat melihat wajah Afif serius. "B-bicara apa, Gus?"
Afif menghela nafasnya. "Saya boleh minta hak saya malam ini?"
Ah, yang benar saja. Ini justru diluar pikiran Afifah, ia pikir suaminya akan membahas anak ini, tapi ternyata membahas tentang hak.
"Saya mau kamu menjadi istri saya sepenuhnya,"
"Tapi, Gus..."
"Kenapa?"
"Kata Dokter, jika sedang hamil muda tidak boleh berhubungan dengan suaminya."
Afif menggigit bibir bawahnya, dirinya malu sekali, rasanya ingin menghilang saja setelah istrinya mengucapkan itu.
"Bukannya boleh? Tapi jangan terlalu sering?" ucap Afif.
Baiklah, Afifah akan menuruti keinginan suaminya. Orang lain saja pernah, masa suaminya tidak diizinkan?
"Ya sudah, kalo Gus ingin hak sebagai seorang suami, aku menuruti." ucap Afifah membuat Afif tersenyum.
"Tapi nanti malam ya, Gus. Sekarang masih sore, apalagi aku lagi makan sama Bunda."
"I-iya, terserah kamu." ucap Afif, entah kenapa hatinya senang setelah istrinya akan mengizinkan.
"Aku selesaikan makan dulu," ucap Afifah dan dibalas anggukan oleh Afif. Kemudian ia keluar kamar, dengan senyuman yang memancar.
Dirinya begitu senang saat suaminya meminta haknya. Laki-laki yang ia kagumi, bahkan malam ini mungkin akan menjadi suami sepenuhnya.
...
Malam yang indah, perempuan dan laki-laki ini tengah merebahkan tubuhnya diatas kasur sembari menatap satu sama lain dengan posisi memiringkan tubuhnya saling berhadapan.
Mata yang begitu cantik dan bibir yang indah bisa ditatap sedekat ini oleh Afif, sebab biasanya ia hanya menatap Afifah ketika sedang tidur saja, karna Afifah selalu menundukan kepalanya saat ia tatap.
Pun Afifah yang merasa suaminya ini benar-benar tampan, ia tak pernah menatap suaminya sedekat ini, sebab dirinya jika ditatap oleh Afif selalu salah tingkah dan tidak bisa.
"Wanita ini begitu cantik dari berbagai posisi. Cantik saat sedang tidur, dan lebih cantik saat kita bertatapan." batin Afif.
"Gus?" panggil Afifah melambaikan tangannya pada wajah sang suami yang terus menatap sembari tersenyum.
"I-iya? Maaf..." Afif menutup kedua matanya setelah sadarkan diri dari tatapan mautnya.
"Ini beneran boleh, kan?" tanya Afif dan dibalas anggukan oleh Afifah.
Afif tersenyum, lalu mengecup kening sang istri. Sedang Afifah memejamkan matanya sembari menikmati benda kenyal itu menempel pada keningnya.
••••••••••••
Kedua bola mata laki-laki ini terbuka setelah beberapa jam tertidur, ia dibangunkan oleh suara istrinya yang mual-mual. Ia mengubah posisinya menjadi duduk, dan menggisik matanya yang buram. Menatap ke arah jam, ternyata jam baru menunjukan pukul tiga pagi, ternyata keduanya baru saja menyelesaikan ibadah sunnahnya dan baru tertidur satu jam.
Dengan perut kotak kotaknya yang tidak tertutup kain apapun, ia beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri istrinya yang berada dikamar mandi.
Sedangkan istrinya justru sedang duduk diatas toilet sembari memegangi kepalanya.
"Kamu kenapa? Mual-mual lagi?"
"Pusing juga, Gus. Nggak bisa tidur."
"Sudah minum obat?"
"Belum."
"Yasudah, kamu minum obat dulu."
Afifah mengangguk, lalu memegangi perutnya setelah dirinya akan berdiri.
"Kenapa?"
"Perutnya sakit,"
Kemudian Afif membantu istrinya untuk berdiri. "Apa gara-gara saya perut kamu sakit?"
"Nggak tau juga."
"Mungkin ada guncangan sedikit," ucap Afif terkekeh sembari membawa istrinya keluar dari toilet.
...
Suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an terdengar disetiap sudut kamar, setelah sholat tahajjud, laki-laki ini tengah mengaji surah yusuf, sedangkan istrinya hanya mendengarkan sembari merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya pada paha sang suami.
Tanpa tersadar, mata perempuan ini terlelap begitu saja setelah mendengar ayat-ayat yang dibacakan oleh suaminya yang begitu merdu dan fasih.
Sampai akhirnya Afif menutup mushafnya setelah mengakhiri bacaannya. Ia meletakkan Al-Qur'an nya diatas sajadah, sebelum ia menggendong sang istri untuk dipindahkan ke atas kasur.
Ia mengelus lembut ujung kepala istrinya, lalu mengecup keningnya. Setelah itu ia kembali untuk membereskan Al-Qur'an dan sajadahnya.
#ToBeContinued
KAMU SEDANG MEMBACA
KISAH KITA
EspiritualSequel "Suami Rahasia" Seorang cucu pemilik pondok pesantren yang menikahi seorang santri yang mengaguminya secara diam-diam karena dilecehkan oleh laki-laki tak bertanggung jawab. Yang ternyata, teman dekatnya lah yang melecehkan istrinya. "Satu-s...
