“Jika kamu cinta karena dia mencintaimu, itu bukan cinta, tapi empati. Jika dia mencintaimu karena penampila, itu juga bukan cinta, tapi obsesi. Jika dia mencintaimu karena harta atau tahta, itu juga bukan cinta, tapi tertarik. Jika dia mencintaimu karena kebaikan, itu juga bukan cinta, tapi kagum. Jika kamu mencintai pada pandangan pertama, itu bukan cinta, tapi dipengaruhi oleh satu hal yaitu gairah. Tapi, jika kamu cinta, tapi kamu bingung kenapa kamu mencintainya, sudah dipastikan kamu benar-benar cinta.”
—Afif Rafasya As-shidiq
.
.
.
.
.
Sesampainya dirumah, Afif langsung pergi menuju kamar tanpa berbicara sedikit pun, hal itu membuat kedua orangtuanya heran.
Sedangkan Afifah, berpamitan terlebih dahulu sebelum menuju kamar.
"Kayaknya mereka lagi berantem, A'. Dari tadi Afif nggak ngomong-ngomong." ucap Alea masih berdiri disana.
"Iya. Coba nanti Aa' tanya, sekarang kamu istirahat, setelah itu sholat maghrib, Aa' mau ke masjid."
...
Setelah sholat magrib terlaksana, Afif dan Alif berjalan menuju rumah sebab hanya beberapa langkah dari rumah ke masjid, toh langkah kaki saat menuju masjid itu dihitung pahala.
"Abba mau nanya sama kamu," ucap Alif membuat Afif menatap dan tersenyum.
"Nanya apa? Nanya aja, Abba."
"Kamu berantem sama istri kamu?" tanyanya membuat Afif terdiam sejenak.
Ia akhirnya menggeleng. "Nggak, biasa aja."
"Nggak usah bohong sama orangtua. Abba paham betul ciri-ciri suami-istri kalo lagi marahan, Abba juga berpengalaman."
Akhirnya laki-laki ini menghela nafasnya dan menghentikan langkahnya. "Aca kesel sama santri-santri yang selalu berbicara kalo Afifah adalah perempuan pelac*r,"
"Terus? Kenapa marahan?"
"Afifah diam saja, Abba, saat mereka mengatakan itu. Seharusnya jawab atau pergi."
"Justru istri kamu benar. Lebih baik diam karna itu dapat menggugurkan dosanya."
"Tapi, Abba. Aca tau dia sedih, bahkan Aca lihat dari kejauhan dia menahan tangis, tapi kenapa dia tidak pergi. Afifah terlalu baik,"
"Yang seharusnya kamu lakukan itu marah sama istri kamu, atau marah sama mereka?"
"Aca marah sama mereka, tadi Aca udah marah sama mereka."
"Terus, kenapa sama istri kamu pun marah? Seharusnya kamu support dia, tenangin dia. Dia lagi hamil, Afif. Perempuan hamil cenderung sensitif, jadi Abba minta kamu jangan marah sama istri kamu. Seharusnya kamu bangga mempunyai istri yang sabar seperti Afifah."
"Apa kamu nggak kasihan? Orangtua dia tidak ada, apa kamu sebagai suami akan egois seperti orangtuanya? Katanya tanggung jawab?"
"Sampai rumah, kamu minta maaf sama dia. Sudah dua bulan menjalin rumah tangga masih harus terus dinasihati?"
"Iya, Abba."
•••••••••••
"Assalamu'alaikum," Afif masuk dan melihat sang istri yang baru saja menyelesaikan sholat isya didalam kamar.
Perempuan ini kemudian beranjak dari sajadah dan menghampiri sang suami, lalu menyaliminya tangannya. "Wa'alaikumsalam."
"Baru sholat?"
KAMU SEDANG MEMBACA
KISAH KITA
General FictionSequel "Suami Rahasia" Seorang cucu pemilik pondok pesantren yang menikahi seorang santri yang mengaguminya secara diam-diam karena dilecehkan oleh laki-laki tak bertanggung jawab. Yang ternyata, teman dekatnya lah yang melecehkan istrinya. "Satu-s...
