Halloooo akhirnya kembali lagi ya membaca kisah yang belum terselesaikan
Sorry banget baru bisa update lagii
Apakah masih excited buat baca inii??
Ada gebrakan baru nihh, yukkk mari diramaikann 🔥🔥
Kangen banget sama kaliannn
Happy ready yaaa sayang 💗
_______________
Gavin langsung menuju ke kamar begitu ia sampai di rumahnya. Di sana sepertinya sudah ada mamanya dan juga papa mertuanya, pasti Andrian yang menghubungi mereka perihal keadaan Alexa. Ia berjalan mendekati dokter yang tengah berbincang dengan Leander, lalu Leander menyuruh Gavin untuk segera berada di sisi Alexa.
"Sayang, kamu baik-baik aja? Mana yang sakit?" Tanya Gavin dengan paniknya.
Alexa menggeleng pelan. "Aku tadi cuma kaget aja, Sayang. Mungkin emang ngaruh ke adik bayi nya ya? Aku seharusnya lebih bisa kontrol tadi." ujarnya pelan.
"Nggak gitu, Sayang. It's okay, kamu wajar kaget. Maaf ya harus ada kejadian kayak gini, sekarang nggak apa-apa kan? Atau masih ada yang sakit? Aku panggilin dokter lagi kalau kamu ngerasain sesuatu."
Gavin masih khawatir, memeriksa tubuh Alexa karena takut istrinya terluka atau apapun itu.
"Nggak kok, ini udah baikan." Alexa menggenggam tangan Gavin, mengusap pelan rambut suaminya. "Kamu kok pulang? Kerjaan kamu udah selesai?"
"Sayang, nggak usah mikirin yang lain. Aku pulang jelas karena khawatir sama kamu. Udah sekarang istirahat ya, mau tidur?"
Alexa hanya menurut saja. Ia tak ingin terjadi apa-apa pada calon bayi yang ada di perutnya. Kali ini ia tak ingin egois, karena apapun yang terjadi dengannya akan sangat-sangat mempengaruhi janinnya.
Saat ini Alexa perlahan mulai tertidur setelah Gavin berhasil menenangkannya tadi. Lega rasanya melihat Alexa akhirnya bisa terlelap, sebab Gavin tak ingin Alexa semakin berpikir keras dan khawatir tentang dirinya. Bagi Gavin, justru saat ini yang harus lebih dijaga adalah istri dan calon anaknya. Gavin saja bisa mengabaikan dirinya jika ia terluka atau apapun itu, tapi ia tak mungkin diam jika yang terluka adalah Alexa dan kandungannya.
Tangannya mengusap helai rambut gusar, lalu mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada seseorang. Ia berharap ini akan mempercepat proses pencarian pelaku teror yang selama ini mengganggu kehidupan rumah tangganya.
Pintu kamar terbuka perlahan, Andrian ada di sana. "Gue mau ngomong sesuatu, kak," ujar Andrian ketika Gavin menoleh.
Gavin mengangguk, namun ia mengusap dan mengecup dahi Alexa terlebih dahulu sebelum ia keluar dari kamar. Langkahnya mengikuti Andrian yang berada di gazebo.
"Ada apa?" tanya pria itu pada adiknya yang kini menghadapnya.
"Gue bukannya mau ikut campur, sekedar saran aja. Untuk sementara ini lo mending stay dulu di rumah nemenin Alexa, lo work from home aja, buat jaga-jaga juga biar kalau ada apa-apa. Ya... gue berharapnya setelah ini nggak akan ada kejadian kayak gini, tapi kita nggak pernah tahu ." Andrian menatap Gavin dengan tenang. "Lagian masalah ini kayaknya benaran mengancam keselamatanmu juga."
Tubuh Gavin bersandar di tiang gazebo, membiarkan angin yang berhembus pelan itu menerpa wajahnya. "Gue bisa jaga diri gue sendiri, gue nggak akan kenapa-kenapa."
"Gue tau, tapi coba lo pikirin, semakin lo merasa bisa jaga diri sendiri, semakin Alexa kepikiran. Lo nggak mau itu terjadi kan?" Entahlah, Andrian merasa kesal karena kakaknya masih memaksakan diri untuk melakukan semuanya sendiri. "Kerjaan biar gue sama Riko yang urus, lo harus fokus buat jagain Alexa dulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Alaric's [End]
Romance🔞 |[FOLLOW SEBELUM MEMBACA KARENA SEBAGIAN CHAPTER DIPRIVATE]| Kisah sang pengusaha muda, Gavin Alaric yang sukses memikat kaum Hawa. Sayang, sikapnya yang otoriter, dingin, dan tak suka dibantah membuat seluruh karyawan di perusahaannya menahan na...
![Alaric's [End]](https://img.wattpad.com/cover/263791820-64-k50032.jpg)