Happy Reading! Don't forget to click the 🌟!
🌙
"Buset tuh helm lucu amat."
Anicel yang baru sampe pun mendudukan diri disalah satu bangku kosong. Ia lelah dengan semua kejadian yang terjadi hari ini.
"Ni--"
"Shutt! Biarin gue napas dulu bisa ga?" Anicel mengacungkan jari telunjuknya di depan muka Yerchim.
Anicel meletakkan helm yang dibawanya itu di lantai. Dirinya benar-benar apes hari ini, tapi juga merasa beruntung karena bisa menolong orang lain.
"Lo beli helm baru kaga ngajak gue!" Yerchim mengambil helm yang Anicel letakan di lantai itu.
Anicel menutup kedua telinganya, ia merasakan aura kesal dari manusia yang duduk di depan bangkunya.
Asteria Yerchim, perempuan yang lebih muda dua bulan dari Anicel. Juga teman Anicel dari jaman SMP sampe menginjak bangku kuliah sekarang.
Anicel menatap Yerchim, lalu menghelai nafas panjang. "Gue beli dadakan. Lo tau, gue hampir kena tilang tadi, makanya gue beli itu benda."
"Lo kata tahu bulat dadakan?" Yerchim melipat kedua tangannya di depan dada, ia berekspresi memicing tajam ga percaya sama penjelasan Anicel. "Sejak kapan naik bus harus pake helm?"
Sialan. Anicel cuma bisa ngumpat dalam hati, masa mau bilang diboncengin cowok asing? Bisa-bisa Yerchim meledak-ledak.
"Yer, gini--"
"Dosen dateng!" seru salah satu mahasiswa berlari menuju mejanya.
Anicel rasanya pengin sujud syukur karena dosennya dateng di waktu yang tepat. Seenggaknya ia bisa menghindar siang ini, ga tau nanti.
Selesai kelas, tatapan Yerchim ke Anicel ga berubah sama sekali. Lagian mana ada manusia yang menerima pemikiran ga logis, naik bus pake helm?
Yerchim beranjak gitu aja tanpa membuka suara, walau dikenal dekat sebagai sahabat, Anicel kadang ga bisa memahami dengan baik sosok bernama Yerchim.
"Yer, lo ga nungguin gue?" kali ini Anicel negur duluan melihat Yerchim keluar dari kelas gitu aja.
Yang merasa diajak bicara berhenti, Yerchim menatap arloji di lengan kirinya. "Daddy gue udah nunggu, kalo mau ikut cepetan!"
Anicel bergegas beranjak mengikuti Yerchim, udah dibilang Anicel ga bisa dengan baik memahami Yerchim. Walaupun beberapa saat lalu Yerchim menatapnya dengan sinis, tapi bisa dengan cepat tatapan itu berubah jadi hangat lagi.
Anicel menunjukkan ekspresi kecut melihat manusia asing yang Yerchim sebut 'daddy' itu. "Ini yang mana lagi?"
"Yang baruu!" sahut Yerchim menahan tawa.
Anicel akui koneksi Yerchim ke para pria yang umurnya lebih tua itu banyak. "Gue kira beneran bapak lo!"
Yerchim cengo. "Gue mana punya bapak, anjir!"
Kadang Anicel melupakan hal yang harusnya ia tanam di otaknya, alias INI DIRINYA MINTA MAAF GA, YA!
Ya walaupun begitu Yerchim tetep salah satu manusia yang bisa diandalkan. Anicel akhirnya cuma tersenyum pasrah melihat cowok yang kaya Yerchim 'daddy'nya itu.
"Anicel, teman Yerchim." Anicel memperkenalkan diri dengan sopan begitu pula pria tinggi yang tersenyum begitu manis saat ini.
"Sean." katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANICEL
Teen FictionCrush? Rata-rata orang mempunyai seseorang yang dikaguminya, begitu juga Anicel. Anicel yang hanya bisa mengagumi seseorang dari update-an sebuah postingan, tapi entah kenapa banyak kebetulan hadir di saat ia bertemu cowok menyebalkan. "Orang tua lo...
