Happy Reading! Don't forget to click the 🌟!
🌙
"Ayo jalan."
Anicel yang lagi jongkok sambil memegangi kepala menautkan kedua alis kesal, mendongak menatap pria yang dari tadi minta jalan terus. Dirinya udah bilang sabar, tapi bawel mulu.
"Udah gue bilang sebentar, otak gue ngebul ini abis presentasi." kesal Anicel lagi-lagi mengulang alasan yang sama.
Asaran menghelai nafas kasar sambil melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu perempuan yang jongkok dari 10 menit lalu itu beneran bikin bosan.
"Sebentar lo berapa lama, Cebol?" Asaran lagi-lagi melontarkan pertanyaan.
Memicing tajam ke arah lawan bicara, Anicel mendengus penuh rasa kesal. "Nicel, ga usah cebol cebol. Gue gebuk dada lo sampe bunyi deg nanti."
Anicel bangun dari jongkoknya, cerewetnya Asaran beneran ngalahin cerewetnya perempuan. Ia langsung memakai helm di kepalanya.
Begitu melihat Anicel mengenakan helmnya, Asaran langsung sigap naik ke motornya lalu menyalakan mesin. Anicel menarik lalu menghembuskan nafasnya terlebih dahulu, bisa aja kali ini nyawanya terancam lagi.
"Pesan gue satu," sambil berpegangan pada jaket Asaran.
Asaran pun menoleh bingung. "Apa?"
"Jangan ngebut, please. Gue belum skripsian." lanjut Anicel.
Terkekeh kecil karena mendengar permintaan yang ga biasa, Asaran ga bakal bikin anak orang meninggal secepat itu. "Ga janji."
Motor melaju dengan kecepatan normal awalnya, tapi lama kelamaan Asaran mulai menambah kecepatannya membuat Anicel pasrah. Kalo dirinya jatuh ya mau gimana lagi, dirinya udah lelah berpesan.
"ASARAN!"
"Pegangan, Cebol!"
"ASUUU!"
Sampe di tempat, Anicel badmood parah. Walaupun nyawanya masih ada, tapi seakan tertinggal di jalan tadi. Kedepannya semoga kewarasannya masih menyertai Anicel.
Anicel mengikuti langkah Asaran masuk ke tempat yang dari luar tampak seperti rumah pada umumnya, tapi begitu masuk disuguhkan banyak manekin bergaun. Tempat itu adalah butik, Anicel baru kali ini lihat butik beneran di depan mata.
"Loh, Asaran sama siapa?" perempuan paruh baya datang menghampiri dengan senyum ramah.
Asaran tersenyum, ia mencium punggung tangan perempuan paruh baya tersebut dengan sopan. "Pasangan Asaran besok. Bajunya udah siap, Tante?"
Sosok yang dipanggil tante itu mengangguk, beranjak masuk kembali untuk mengambil baju yang Asaran maksud.
Ia keluar dengan membawa tas berisi baju yang telah dipesan sebelumnya, ia menyerahkannya pada Asaran.
"Pasangan kamu cantik." pujinya.
Asaran mengulum senyuman menerima tas tersebut. "Aku nemu di jalan, Tante." walau jawabannya membuat siapapun kesal.
Anicel ikut tersenyum, bisa-bisanya bilang nemu di jalan. Jangan sampe dirinya lepas kendali mukul Asaran.
"Salam kenal, Tante. Saya Anicel." Anicel menunduk sopan menicum punggung tangan wanita paruh baya di depannya.
"Salam kenal juga, saya Lia. Kalo kamu butuh baju ataupun dress buat acara formal ke sini aja, ya. Tante kasih diskon nanti." sahut Lia senang.
Anicel mengangguk. "Haha. Baik, terima kasih, Tante Lia."
KAMU SEDANG MEMBACA
ANICEL
Fiksi RemajaCrush? Rata-rata orang mempunyai seseorang yang dikaguminya, begitu juga Anicel. Anicel yang hanya bisa mengagumi seseorang dari update-an sebuah postingan, tapi entah kenapa banyak kebetulan hadir di saat ia bertemu cowok menyebalkan. "Orang tua lo...
