03 - Terima.

38 7 0
                                        

Happy Reading! Don't forget to click the 🌟!

🌙

Anicel menatap layar ponselnya dengan bingung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Anicel menatap layar ponselnya dengan bingung. Sampe hari ini dirinya belum membuat keputusan apapun mengenai tawaran Asaran, udah dua hari berlalu.

Dan sekarang nomor asing yang diyakini adalah Asaran muncul, Anicel bingung harus iyain atau engga.

Anicel mengabaikan pesan tersebut, ia lebih memilih segera bersiap untuk kelas pagi ini. Kelasnya dosen muda incaran para mahasiswi, beneran bikin mata bening kalo lihat.

Anicel udah mandi dan sekarang bingung harus mengenakan baju apa. Ini beneran kendala semua perempuan dalam memilih outfit tanpa terkecuali Anicel sendiri.

Anicel udah hampir 25 menit cuma melihat tumpukan baju di lemarinya tanpa ada niatan buat mengambil.

Karena hari ini adalah hari di mana sore nanti ada kumpulan ukm rutin, Anicel harus membawa setidaknya dua setel baju–baju latihan dan baju ganti– kadang dirinya pengin punya pacar biar ga bolak-balik naik bus ke kampus.

"Gue pengin beli truk." gumam Anicel sambil mengambil satu setel baju. Atasan kemeja berkerah berwarna abu-abu dan bawahan celana kulot putih. Style yang udah biasa banyak mahasiswi kenakan karena nyaman.

Setelah selesai bersiap, Anicel turun ke bawah untuk sarapan. Suasana rumah pagi ini nampak sepi karena kedua orang tuanya pergi bekerja di luar kota, jadi cuma ada dirinya, kakak dan adiknya aja.

Anicel melihat kotak bekal beserta sepiring nasi goreng yang udah siap makan di atas meja dengan rapi. Dirinya heran, tumben banget disiapin gini.

"Dimakan biar ga lemes nanti sampe kampus." pinta Ansar pada adik tengahnya.

Anicel menahan senyumnya, ternyata kakaknya itu bisa perhatian. Padahal biasanya jahilnya minta ampun.

"Makasih, Mas!"

"Iyaa, cepet sarapannya, kakak mau berangkat juga nitipin Dara." ujar Ansar sambil menyeruput secangkir kopi.

Sampai di kampus, Anicel berlari cepat masuk kelas karena chat dari Yerchim yang berisi bahwa dosennya udah hadir lebih awal. Ada aja tiap hari masalahnya, bingung tuh Anicel hari beruntungnya kapan.

"Maaf, pak. Saya terlambat."

"Masuk. Baru saya tulis terlambat."

Walau dosen muda nan tampan, tapi ga dengan sifatnya. Anicel benci dosen tipe killer kaya Pak Kael gini. Untungnya ganteng, masih bisa Anicel toleransi.

Selesai kelas dari pagi sampe sore, Anicel bergegas kembali melangkahkan kakinya memasuki lapangan indoor futsal, tempat di mana kumpulan ukmnya dilaksanankan.

"Kak Nicel!" seorang perempuan melambaikan tangan ke Anicel yang baru memasuki area.

Anicel membalas lambaian tersebut sambil melangkah. "Oh! Hai, Dila!"

ANICELTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang