33 - stop nyebelin!

20 2 0
                                        

Happy Reading! Don't forget to click the 🌟!


*


“EH AYAM!”

“Jelek banget reflek lo, Cebol.” Asaran menyentil dahi Anicel yang tadi ia kageti itu.

Yang dahinya disentil jelas menautkan kedua alisnya kesal. Ia mengusap dahi tempat di mana Asaran sentil tadi. “Ginjal lo sini gue sentil, anjir.”

Tak perduli dengan ucapan kesal dari Anicel, Asaran lebih memilih melihat lapangan basket yang kosong di depannya. Sebenarnya apa tujuan perempuan sekecil Anicel ada di lapangan selebar ini sendirian?

“Nah, mumpung lo udah dateng, semangatin gue.”

Ya alasan Asaran bisa di sini juga karena chat dari Anicel sebelumnya. Perempuan itu mengundang Asaran ke lapangan umum untuk menyemangatinya, entah untuk apa tapi Asaran tetap datang.

Asaran menatap perempuan di sebelahnya penuh tanya. “Ngapain nyemangatin lo? Mau lomba lari sama jurig di sini? Ga usah gue semangatin juga lo tetep bakal kalah.”

“Uh,” Anicel memutar bola matanya kesal. Asaran ga membiarkannya menjawab pertanyaannya satu-satu. “Lo kalo ngomong jangan diakhiri ejekan bisa ga? Emang mulut lo jadi gatel kalo ga ngejek gue sehari?”

Asaran menaikan kedua bahunya, mengabaikan ucapan Anicel yang meluapkan kekesalan itu. Lagian mulutnya refleks ngatain kalo ada Anicel.

Melihat respon Asaran yang tambah bikin dirinya kesal, Anicel menghelai nafas berat. Ia merapikan jersey futsal yang dikenakannya, dengan pemanasan yang udah dilakukan sebelumnya, Anicel siap muterin lapangan ini.

Anicel menarik nafas dalam-dalam, “Semangatin gue, cukup pake wajah lo.” Lalu mulai melangkahkan kakinya dengan cepat untuk memutari lapangan.

Asaran ga sempet membalas ucapan Anicel, ia memperhatikan tiap langkah lari Anicel yang teratur itu cukup membuatnya kagum.

“Hitung, anjir! Jangan diem aja!” seru Anicel ngos-ngosan melihat Asaran yang malahan diam di tempat sambil melipat kedua tangan di depan dada.

Lagi-lagi Asaran mengangkat kedua bahunya. “Katanya cukup pake wajah gue.”

“Ya seenggaknya bantuin gue hitung udah berapa putaran, tiang!” sahut Anicel yang terus berlari mengitari lapangan tersebut.

Yang dipanggil tiang tiba-tiba itu langsung membuang muka kesal. Berpura-pura ngambek karena panggilan tersebut.

“ARGH! ASARAN!!!” Anicel berteriak frustasi melihat Asaran yang malah menatap ke arah lain. Ia menghentikan langkahnya, kedua telapak tangannya memegang lutut dan mengatur nafas.

Anicel melangkah santai menghampiri Asaran yang ada di pinggir lapangan, laki-laki tersebut semakin jelek kalo ngambek. “Gue panggil tiang lo langsung ngambek, lo panggil gue cebol gue ga marah, tuh.”

“Karena lo emang cebol.” Kali ini Asaran langsung mendorong dahi Anicel dengan telunjuknya. “Dan Sean lebih tinggi 3 cm dari gue.”

“Aw! Sama aja tiang!” Anicel memegangi dahinya. Udah ga selamat kalo deket-deket sama Asaran. “Salah gue malah manggil lo. Tau gitu gue panggil Sean aja.”

“Ga usah lo panggil orang sibuk itu. Udah bener lo panggil gue.” Sahut Asaran menatap serius Anicel di depannya. “Sana lari lagi, baru 3 putaran, kurang 7 putaran lagi.”

“Kaga ada, ya! Hitung aja sampe 5 putaran.” Kesal Anciel.

Dibalas gelengan kepala sama Asaran. “Gue yang hitung, lo ga usah ngatur. Tinggal lari aja.”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 14, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ANICELTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang