Chapter Ending

50 9 0
                                        

Pemakaman Shion di langsungkan secara tertutup. Gerimis yang awaknya berjatuhan kini berubah menjadi butiran deras. Isak tangis kesedihan mewarnai suasana pemakaman.

Gaara Sabaku hanya terdiam kaku di depan pigura mendiang kekasihnya.
Tak banyak bunga berkelopak putih tersemat disana.

Naruto hendak memanggil sahabatnya itu terhenti saat Hinata menahan lengannya. Seolah mengatakan, lelaki bersurai merah itu butuh waktu untuk sendiri.

***

Gaara membuka pelan pintu kamar kediaman Shion. Melangkah perlahan, tanpa mempedulikan tetesan-tetesan air dari tubuhnya yang basah.

Sruuukkk

Lelaki itu merebahkan dirinya begitu saja, meletakkan lengan kanannya menutupi matanya yang lelah. Meski tahu, perbuatannya itu membuat ranjang di bawahnya basah dan gelap.

Dirinya sungguh tidak peduli.

Dirinya lelah.

Dirinya marah.

Perlahan liquid bening itu mengaliri pipinya.

"Aku merindukanmu..." Lirih sekali.

Seolah ada batu besar yang menghimpit dadanya. Seolah oksigen di sekelilingnya menipis.
Shion-nya telah pergi, bersamaan dengan jiwanya.

"Shi...on" serunya hampa.

Tidak. Gaara tidak bisa.

Dirinya tidak bisa hidup tanpa kekasihnya. Tanpa Shion di sisinya.

Seandainya...aku tidak meninggalkanmu pergi...mungkinkah...

***

Ino muak pada pembicaraan semua orang yang ada di ruangan ini. Mereka terus saja membicarakan hal yang membuatnya kesal.

"Sebaiknya kalian keluar dari ruangan ini" pekiknya dengan mata melotot tajam.

"Ino, tenanglah" pinta Kiba mengelus bahu Ino yang tengah duduk di atas ranjang rumah sakit dengan infus di tangannya.

Ino menepis Kiba.

"Katakan pada teman-temanmu untuk enyah dari sini" teriak Ino dengan tubuh bergetar hebat.

"Ino berhenti bersikap menyebalkan" seru Neji yang mulai merasa kesal atas sikap Ino.

"Hei, Neji.." Peringat Kiba tak terima.

"Apa?" Balas Neji tajam. "Dia harus bisa menerima kenyataan" cibir Neji.

"Sakura tidak seperti yang kau dan lainnya pikirkan" desis Ino, menatap Neji, Naruto, Shikamaru maupun Sasuke yang hanya bersandar diam di samping jendela.

Hinata mengangguk.
"Sakura-chan pasti memiliki alasan yang kuat"

"Lalu, bagaimana kalian menjelaskan mengenai kejadian tadi" pukul telak Shikamaru. Semua orang melihat dengan jelas bagaimana sang Miko dilecehkan tanpa perlawanan sama sekali.

"Aku benci mengakui ini" gumam Kiba, menatap Ino dengan bersalah. "Momoshiki bukan orang yang bisa di percaya. Dia bahkan tidak peduli akan nasib keluarganya. Dan, pengumuman pernikahan itu bukanlah omong kosong. Jika Sakura Haruno berada disisinya, tebak apa yang akan terjadi" tambahnya yang membuat semua orang berpikir keras.

"Jika Miko-sama memiliki tujuan untuk berkhianat, dia tidak akan menyelamatkan banyak orang" bantah Karin sembari menatap Ino dan Hinata, jemarinya mengelus perutnya. Janinnya terselamatkan.

Karin bahkan tak lagi berpikir dua kali sebelum menggunakan kemampuannya yang jelas beresiko besar bagi kandungannya.

Tapi Sakura, gadis itu datang dan menyelamatkan mereka. Menjaga mereka tetap aman.

Hear MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang