Dulu, sewaktu Jungwon kira-kira berusia empat tahun, bocah itu pernah tiba-tiba bertanya dengan lidahnya yang masih agak cadel. "Papa cenang nggak, punya anak?"
Waktu itu Jay tidak tahu dari mana putranya belajar merangkai kalimat seperti itu. Jungwon memang sudah bisa berbicara sejak usia satu tahun dan mulai lancar bertutur kata saat usianya 3 tahun. Tetapi Jay tak pernah berekspektasi kalau ia akan mendapatkan pertanyaan tersebut dari sang anak.
Sambil merebahkan tubuhnya di samping sang putra, Jay menjawab, "Senang. Papa senang banget punya anak, apalagi anaknya kayak Wonie."
Suasana yang mungkin terdengar mellow seketika berubah kala Jungwon kembali bertanya, "Kalo anaknya kayak Om Hoonie, Papa cenang juga, nggak?"
Jay tertawa kecil. "Em, kalau ini, Papa nggak tau."
"Kenapa?" Jungwon yang sejak tadi nemplok di sisi kanan sang ayah, mendongak. Menatap wajah ayahnya dengan raut penasaran.
"Ya, soalnya kan, anak Papa itu Wonie, bukan Om Hoon." Jay mengusap rambut anaknya yang hitam tebal itu dengan lembut.
"Kan micalnya, Papa."
Lihat. Jungwon sangat pintar berkata-kata. Entah dari mana bocah itu mempelajarinya.
Karena tidak ada jawaban yang jelas dari sang ayah, Jungwon lama-lama tertidur juga. Maklum, sebenarnya bocah itu sudah mengantuk sejak tadi. Tetapi dasarnya saja Jungwon ini sedikit random, makanya tiba-tiba bertanya seperti itu.
Bukan kali pertama Jay mendapat pertanyaan serandom itu dari putranya. Bisa dibilang, Jungwon selalu menanyakan hal-hal nyeleneh sesaat sebelum tidur. Kalau anak-anak lain biasanya tantrum saat mengantuk, lain halnya dengan bocah bermarga Park itu.
Selain contoh yang disebutkan tadi, pernah juga sekali waktu Jungwon bertanya, "Papa, kenapa matahali adanya ciang? Kenapa nggak malam aja ada matahali?"
Duh. Lidahnya saja masih cadel S dan R begitu, sudah sok-sokan bertanya soal hal-hal berat. Tak heran sih, didikan empat orang random memang tidak pernah salah--tetapi tidak bisa dibilang benar juga, sih, kadang-kadang.
Ketimbang langsung menjawab, Jay malah balik bertanya. "Memangnya kenapa Wonie mau ada matahari waktu malam?"
Jungwon cemberut sambil menggenggam brokoli rebus di tangannya. Omong-omong, mereka sedang makan malam sekarang. "Coalnya kalo malem kan gelap, Papa cuka culuh Wonie cepat-cepat bobok. Kan, Wonie macih mau main."
Yep. Anak kecil, biasalah. Disuruh tidur, maunya main. Giliran main, baterainya seperti tidak habis-habis. Apakah memang semua toddler begitu, ya? Alhasil, dengan pengetahuannya yang agak minim, Jay hanya menjawab, "Soalnya, matahari udah capek kerja terus dari pagi sampai sore. Makanya, pas malam, gantian deh kerjanya sama bulan."
Jungwon? Manggut-manggut dia, seolah-olah apa yang dikatakan oleh ayahnya itu sangat mudah dicerna oleh otak mungielnya. "Kayak Papa, ya?"
"Apanya yang kayak Papa?"
"Matahali."
Dahi ayah satu anak itu sampai berkerut-kerut. Agak ngang-ngong dia dengan pertanyaan aneh yang diajukan oleh sang anak. "Kenapa mataharinya?"
"Kelja. Kayak Papa." Jungwon menyuap brokoli yang sejak tadi sudah dibejek-bejek dalam genggaman.
Oh, ternyata itu yang anaknya maksud. Sambil mengangguk, Jay menjawab, "Iya, mataharinya kerja kayak Papa."
Mereka sempat diam selama beberapa saat. Fokus pada makanan masing-masing. Bahkan, Jungwon dengan pintarnya menghabiskan potongan sayuran--wortel dan brokoli--yang disajikan ayahnya di piring gemas berbentuk kepala beruang cokelat. Jay bahkan sempat berpikir kalau stok pertanyaan sang putra sudah habis. Tetapi ternyata ia salah.
KAMU SEDANG MEMBACA
(NOT) Just Papa and Me! [JayWon]
Fanfiction[JayWon FF AU] ______________________________ "Papa! Wonnie mau pindah sekolah!" Punya anak cerewet dan banyak maunya seperti Wonnie ini enak atau tidak, sih? ______________________________ Starring: Park Jongseong/Jay Park as Jay Park Yang Jungw...
![(NOT) Just Papa and Me! [JayWon]](https://img.wattpad.com/cover/273674980-64-k505301.jpg)