08

241 83 7
                                        


" Aku tau jikalau Allah maha membolak balikkan hati manusia maka dari itu, ku tak ingin berlebihan dalam mencintaimu. Karena Allah tak akan segan untuk mencabut rasaku dan sekarang rasaku telah dicabut olehNya

bukan karena aku yang terlalu
mencintaimu tapi karena, bisa saja kau bukan yang terbaik untukku”

Langit senja sudah terlewati, sang rembulan dengan gagah menampakkan dirinya bersama
beberapa bintang yang muncul
dengan malu-malu. Saat ini Hana
telah tiba di depan pintu pagar
rumah bercat abu-abu ja baru saja turun dari mobil Iqbaal. Setelah sempat menolak, akhirnya ia tetap saja dibawa ke klinik oleh Iqbaal dan Nisa untuk mengobati lukanya alhasil saat ini tangannya dibalut dengan perban putih.

"Kalian gak mau mampir dulu?"
tawar Hana, merasa tak enak hati.

"Nggak dulu deh Na, kita langsung
aja," tolak Nisa yang disusul
anggukan oleh Iqbaal.

" Makasih ya Nes, Bal udah
nganterin," ucap Hana di iringi senyum manisnya.

"Iya sama-sama Han, Oh iya motormu gimana?  besok mau aku

jemput aja?" tanya Iqbaal ragu, membuat Hana sontak menggelengkan kepalanya.

"Besok aku ambil sendiri, insya Allah diantar Mas Kalil"  Jelasnya, menghindari satu tepat jika hanya berdua bersama bukan mahramnya.

"Oh oke deh, kita pulang dulu ya Han;Na Assalamualaikum." Ucap keduanya

" Waalaikumsalam warahmatullah
wabarakatuh." Nisa melambaikan tangan pada Hana, membuat Hana melambaikan tangan pula kearah mereka hingga mobil Iqbaal menjauh beberapa meter.

Setelahnya ia segera memasuki rumahnya, rumah bercat Cream yang terlihat sederhana namun nyaman dan menyenangkan. Di halaman rumahnya dipenuhi dengan tanaman hijau serta bunga-bunga cantik yang ditanam Umminya. Setelah membaca doa, ia segera membuka pintu rumahnya.

" Assalamu'alaikum," ucapnya, sembari membuka pintu.

" wa'alaikumsalam warahmatullah
wabarakatuh." Terdengar beberapa suara menjawab salamnya.

Hana melihat kakaknya -Kalil-
berdiri tak jauh darinya, tanpa
pikir panjang ia segera berlari dan
memeluk kakaknya itu. la memang
sangat merindukan kakaknya
sudah hampir enam bulan mereka
tidak bertemu. Walaupun mereka
sering berkomunikasi dengan video call, tetapi tetap saja Hana merindukan pelukan hangat kakaknya.

" Mas Kalil jahat banget sih, gak
pernah pulang," rajuknya, hingga Kalil mengelus kepala Hana yang masih memeluknya dengan erat. Ia juga sangat merindukan sikap manja gadis itu.

"Mas kan sibuk dek," jawabnya, kembali mengecup puncak kepala Hana.

"Sesibuk apa sih sampai gak bisa
pulang sama sekali? Pokoknya aku
marah sama Mas Kalil," ucapnya
sembari melepas pelukannya

"Kamu marah? Yah padahal Mas
mau menuhin kulkas sama susu
strawberry. Karena kamu marah, ya sudah gak jadi deh." goda Kalil, dengan memasang muka menyebalkan mungkin agar sang adik merasa kasihan padanya

"Sekulkas?" Tanya Hana tak percaya, hingga Kalil menganggukan kepalanya membuat kedua netra mata Hana berbinar lalu segera memeluk kakaknya lagi kali ini lebih erat.

"Aku udah gak marah kok Mas, tapi beliin sekulkas ya?" Pintanya sembari mendongak dan menampilkan puppy eyesnya, yang mampu membuat Kalil tertawa pelan. Walaupun sudah akan menjadi seorang sarjana, adik kesayangannya itu tetap sangat manja sekali ia tahu susu strawberry adalah cara ampuh untuk meluluhkan rajukan adiknya.

"Dek, btw kamu gak malu?" bisik
Kalil pelan, membuat  Hana melepaskan pelukannya dan menatap Kalil bingung.

" Malu sama siapa sih mas? Abi?
Ummi? Kan sudah biasa.
Kalil tersenyum dan segera
membalikkan tubuh Hana, indera
penglihatan Hana melihat empat orang duduk di sofa ruang tamunya.

Ada Abi dan Umminya. Dan dua lagi astaghfirullah Hana tidak mengenal kedua orang yang saat ini tengah menatapnya sembari menahan tawa. Wajah Hana mulai memanas, ia malu karena sudah bersikap seperti Seorang bocah di hadapan orang lain setelahnya ia segera pergi dari sini.

Namun Kalil segera memegang
lengannya, membuat Hana berdesis pelan karena Kalil memegang lengannya yang terluka, Kalil yang melihat lengan adiknya terbalut perban nampak panik.

"Ini kenapa Dek?" Tanyanya dengan khawatir

"Hana terluka karena menolong
saya Nak," ucap Ibu Paruh Baya
yang saat ini duduk di seberang
Umminya semua orang kini menoleh padanya.

"Loh, ibu kok bisa ada disini?"
tanya Hana setelah menatap ibu
itu lekat, ya memang benar, itu
ibu yang ditolongnya tadi. Ibu itu
beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Hana.

"Saya dan suami memang berniat
kesini nak dan saya juga baru tau
kalau rumah ini ternyata adalah
rumah gadis cantik dan baik hati
yang sudah menyelamatkan saya,"
jawab ibu itu sembari menggenggam telapak tangan Hana, membuat Hana tersipu mendengar pujian ibu itu. Semua orang di ruangan itu ikut tersenyum.

Suasana ruang tamu rumah
keluarga Pak Zakwan -Abi Hana-
begitu ramai dengan kehadiran dua orang tamu yakni Pak Ridwan serta Ibu bunga. Mereka sibuk berbincang, menceritakan kenangan Pak Zakwan dan Pak Ridwan semasa masih tinggal di desa dulu. Kedua orang ini merupakan sepasang sahabat sejak mereka kecil, mereka berpisah karena Ridwan harus pindah ke kota mengikuti ayahnya yang harus dinas disana. Dan Allah mempertemukan keduanya kembali beberapa bulan yang lalu, Hana yang saat ini duduk disamping Umminya hanya diam mendengarkan perbincangan para orang tua dan kakaknya itu. Sesekali dia menjawab pertanyan yang dilontarkan Pak Ridwan dan ibu bunga ya tadi. Benar perkiraannya tadi bahwa ibu bunga memiliki trauma saat menyebrangi jalan tadi, Pak Ridwan menceritakan bahwa istrinya itu pernah mengalami kecelakaan parah saat menyeberang. la tertabrak sebuah sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi yang membuat istrinya harus dirawat di rumah sakit selama.hampir sebulan. Hana meringis pelan mendengarnya ia merasa iba dengan apa yang dialami Ibu bunga. Ia tidak bisa membayangkan jika Umminya yang berada di posisi Ibu bunga

"oh iya wan, kedatangan kami kesini selain untuk bersilaturahmi juga ingin melanjutkan rencana kita yang waktu itu." Ujar pak sopyan, membuat Hana penasaran akan rencana yang mereka rancang.

"Kami ingin melamar putrimu
untuk anak kami." Lanjut pak Ridwan membuat Abi, Ummi dan Kalil tersenyum lebar, sontak  membuat Hana tersentak kaget.

Tunggu, aku gak salah denger kan?
Melamar siapa?

Putri Abi?

Putri Abi cuma aku kan?

Jadi intinya mereka ngelamar aku?

"Assalamualaikum." Sebuah ucapan salam menginterupsi perbincangan

mereka, membuat mereka semua menoleh ke arah sumber suara kecuali Hana yang masih sibuk dengan pikirannya, sesaat kemudian Hana menolehkan wajahnya netra matanya menangkap sosok pemuda yang mengenakan celana kain berwarna abu-abu muda yang panjangnya tidak melewati mata kakinya dipadukan dengan baju taqwa berwarna putih dengan bordiran cokelat di beberapa bagian. kemudian Ia mengalihkan pandangannya pada wajah laki-laki itu.

Jantungnya berdebar dengan hebat, kembali menatap kearah pemuda itu mencoba mengerjapkan mata lalu memiringkan kepala, hingga mengusap pelan wajahnya mencoba menyakinkan hati bahwa pemuda di hadapannya memanglah dia, dia yang selama empat tahun terakhir tak pernah muncul di hadapannya, dia yang selalu menjadi alasan kenapa hatinya gundah gulana jika menatap hujan.

Hana;N (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang