"Aku sudah tak mengingatmu, tapi aku merindukanmu.
Hanan menatap Hana yang nampak begitu manis saat sedang tertidur ia memiringkan badannya ke samping agar lebih leluasa memandangi gadis itu.
Malam ini ia melihat sisi lain dari
gadis yang sudah hampir sebulan
menjadi istrinya, ternyata gadis
yang selalu bersikap datar padanya itu begitu manja saat bersama kakaknya, hal itu membuat Hana terlihat menggemaskan di matanya. Entah mengapa ia merasa iri dan ingin gadis itu juga bersikap begitu padanya.
"Aku mikir apa sih " gumamnya
sembari memukul kepalanya pelan, lalu ia kembali menatap Hana. la tak tahu sejak kapan dan bagaimana bisa ia merasakan perasaan yang berbeda pada gadis itu. Kesal saat gadis itu dekat dengan laki-laki lain dan merasa bahagia saat Hana berada dalam jarak pandangnya.
Hanan tersenyum kecil melihat
ekspresi polos Hana saat terlelap, namun senyumnya memudar saat tiba-tiba ia teringat percakapannya dengan Wahyu tadi siang.
Hanan mengikuti langkah Wahyu yang terlihat terburu-buru keluar dari kantin perusahaan itu dengan beberapa kali ia berteriak memanggil nama Wahyu yang sama sekali tak digubris oleh sahabatnya itu.
"Yu, kamu kenapa sih?" tanya Hanan setelah ia menutup pintu ruangan, Hanan benar-benar dibuat bingung dengan sikap sahabatnya.
"Yu " ulangnya saat Wahyu masih
bungkam dan tak niat membuka suara.
"Dia benar istri kamu?" tanya
Wahyu dengan suara tercekat, Hanan yang mendengarnya hanya mampu mengangguk pelan.
"Bukannya, kamu masih belum bisa
melupakan Anes? " tanya Wahyu lagi, kali ini Hanan tidak dapat menjawab pertanyaan Wahyu karena ia memang masih belum bisa melupakan gadis itu hingga saat ini.
"Jawab brengsek!"ujar Wahyu menggebrak mejanya membuat Hanan terlonjak kaget. Selama hampir sebelas tahun mereka bersahabat, belum pernah ia melihat Wahyu semarah itu padanya.
"Istighfar Yu, kamu kenapa sih?" Perintah Hanan membuat Wahyu beristighfar dan memilih duduk kembali di kursinya. Ia memijat pelipisnya pelan, kenyataan yang baru diketahui benar-benar
menghancurkan perasaannya.
"Kamu kenapa yu? Atau
jangan-jangan.." Tanya Hanan dengan diiringi rasa curiga.
"YA!!. Aku mencintainya, gadis
yang waktu itu akan aku ceritakan
sama kamu itu adalah Hana, istri
kamu " jawab Wahyu cepat, hingga
Hanan tertegun. Penuturan Wahyu
barusan benar-benar membuatnya
merasa bagai tersambar petir. Ia
bahkan sudah tidak sanggup berdiri, kenapa di antara jutaan gadis di dunia ini harus Hana yang Wahyu cintai?
"A-aku, aku benar-benar gak tau yu
"ucapnya tergagap, berusaha mengambil pasokan udara di sekitarnya yang kini mulai menipis.
"Aku menerima perjodohan ini
karena Papaku, aku gak tau kalau
Han-"
"Kamu bisa menolak kan? Lagi pula
kamu tidak mencintainya " sela Wahyu.
"Gak segampang itu yu, kamu gak
tau posisiku saat itu." Jelas Hanan, membuat Wahyu membuang wajahnya ke samping dan berdecak pelan.
"Dan apa sekarang? Kamu menikah
dengannya tanpa cinta dan kamu
menyakiti dia? " ujar Wahyu sinis.
Hanan tidak memiliki jawaban apapun untuk menampik pertanyaan yang lebih terdengar seperti pernyataan itu.
" Cih dasar pengecut!"Desis Wahyu, membuat tangan Hanan mengepal kuat, sudah cukup sahabatnya itu menghinanya.
"Berhenti menghakimi aku yu!
Ini hidupku, kamu tidak berhak
ikut campur! Dan soal Hana, aku
benar-benar tidak tau kalau dia gadis yang kamu cintai! "
KAMU SEDANG MEMBACA
Hana;N (TERBIT)
Novela JuvenilHana berdiri mematung, jantungnya berdegup kencang. Matanya tak berkedip menatap sosok tinggi di hadapannya-pemuda yang bertahun-tahun lalu pernah mengisi harapannya, namun kemudian ia coba lupakan. Waktu telah membentangkan jarak di antara mereka...
