05

154 80 10
                                        

Hujan akan segera berhentialam dan siang akan silih berganti mentari pun akan segera berlari namun rindu ini sejatinya tetap abadi

Hana kini sudah tiba di depan cafe
tempat ia dan Nisa berjanji akan
bertemu. Setelah memarkirkan
motor matic putihnya. Indra penglihatan gadis itu menangkap sosok sahabatnya yang kini sedang menghisap strawberry juice kesukaannya, Hana perlahan berjalan ke pojok kanan cafe itu tempat favoritnya dan Nisa. Berulang kali ia merapalkan doa, di dalam hati berharap sahabatnya itu tidak meluapkan kekesalannya.

"Nis," panggil Hana pelan, membuat Nisa mendongak, menatap tajam padanya. Sedang Hana segera memasang tampang bersalahnya, mencoba menjelaskan agar Nisa tidak meluapkan kekesalannya padanya.

"Oke oke gapapa, santai aja kali Na" jawab Nisa dengan santai, membuat dahi Hana mengernyit
heran.

Ini benar Nisa sahabatnya kan?
Atau dia salah orang?

Tumben drama queen Nisa saat
marah tidak kambuh?

"Serius, Aku gak dapet ceramah dari kamu nih?" Tanya Hana masih dengan dahi mengernyit

"Kamu mau aku kasih ceramah?" protes, membuat Hana segera menggelengkan kepalanya. la tidak akan tahan mendengar omelan panjang dari Nisa.

"Han, udah dateng?" tanya seseorang di belakang Hana, membuat Hana segera menoleh dan mendapati senyuman lebar dari Iqbaal, sahabatnya.

Seseorang yang kini ada di antara
persahabatannya dan Nisa, la jadi paham kenapa Nisa tidak mengomel, karena ada Iqbaal yang
menemaninya. Iqbaal adalah teman sejurusannya, ia mengenal Iqbaal sejak hari pertama kuliah, awalnya ia risih saat pertama kali kehadiran Iqbaal yang selalu membuntutinya. Namun
lama-kelamaan ia mulai terbiasa dengan kehadiran Iqbaal yang ia anggap tidak mengganggu dan menjaga batas-batas hubungan antara pria dan wanita.

Sedangkan Nisa yang memilih jurusan ilmu kebidanan di kampus yang sama dengannya, juga akhirnya bisa menerima Iqbaal sebagai sahabat barunya, jadilah mereka bertiga sahabat yang kemana-mana wajib bertiga sedangkan Iqbaal akan selalu jadi penengah jika Hana dan Nisa mulai beradu mulut hanya karena masalah kecil bahkan sampai masalah yang sama sekali tak penting.

"Na Bal bukan Han," ucap Hana
merengut sebal, sudah sejak dulu Hana memperingatkan Iqbaal untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Han itu,  yang bisa menimbulkan kesalahpahaman karena akan terdengar seperti ia memanggil Hany(sayang).

"Bal manggilnya jangan gitu lah, nanti dikiranya aku pacar kamu loh, terus Fans-fans mu bisa patah hati" protes Hana.

"Biarin aja lah, lagian aku malah suka kok kalau mereka ngira kamu pacar aku syukur-syukur mereka ngira kamu istri aku" Jawab Iqbaal yang akhirnya mendapat lemparan buku dari Hana, Hana yakin itu hanya candaan Iqbaal seperti biasa.

Iqbaal tersenyum melihat Hana yang menggembungkan pipinya sehingga semakin terlihat chubby, lucu dan menggemaskan, hingga ia ingin mencubitnya. Tapi keinginannya harus ia pendam karena jika benar-benar melakukannya, Hana akan marah besar padanya seperti saat hari pertama ia mencoba mengenal gadis itu.

"Biarin aja kenapa sih? Aku suka
ini," Lanjut Iqbaal, membuat Hana
hanya memutar bola matanya malas hingga Iqbaal tertawa seperti tak punya dosa.

"Kamu kok lama banget sih, Na? Untung aja aku kesini, terus cepet nemuin ni singga, dah kaya anak hilang Kalau nggak, habis caffe ini dibakar" lanjut Iqbaal, membuat Hana terkekeh pelan mendengarnya.

Merasa jadi orang yang Iqbaal
bicarakan, Nisa segera memukulkan tas selempangnya
ke punggung Iqbaal yang duduk di
sampingnya.

"sakit Nis, Kamu anarkis banget
sih," Keluh Iqbaal, sembari mengusap punggungnya yang kini mulai terasa panas.

"Biarin, lagian kamu ngeselin sih Bal!" Celoteh Nisa, yang mana Hana  hanya mampu tersenyum melihat tingkah sahabatnya.

"maaf ya, tadi aku ketiduran sesudah sholat subuh, di rumah gak ada orang akhirnya baru bangun jam 9," ucap Hana sambil memandang Nisa dengan wajah polosnya dan mendapat dengusan pelan dari Nisa.

"Novel mana lagi yang kamu baca?" tanya Nisa dan Iqbaal bersamaan, mereka tak heran dengan kebiasaan Hana yang rela begadang demi menuntaskan novel yang dibacanya. membuat Hana menganggukkan kepalanya serta terkekeh pelan sebagai jawaban.

"Dan kamu belum makan kan? ini
sudah jam–. " Belum selesai Iqbaal menyelesaikan pertanyaannya, Hana sudah berlari.

"Jangan lari-lari, mau kemana?" tanya Iqbaal khawatir.

"Lupa belum sholat dhuha," Jawab
Hana tanpa menoleh, membuat Iqbaal hanya menggelengkan kepalanya pelan. Selanjutnya ia menolehkan kepalanya, dan menemukan wajah Nisa yang sudah tertekuk lucu.

"Jadi aku disuruh nunggu lagi, Ya
Allah Hanaaa," pekiknya, sembari memukul pelan meja cafe tersebut.

"Sabar Nis sabar!" ucap Iqbaal mencoba menenangkan. Dua jam kemudian mereka telah memasuki toko buku yang berjarak hanya dua toko dengan caffe langganan mereka, sebelumnya Hana sudah menghabiskan sepiring nasi goreng dan segelas jus jeruk yang telah la dapati di mejanya dhuha.

Pasti Iqbaal yang memesankan
untuknya, lebih dari dua jam mereka berkeliling di toko buku berlantai selektif memilih referensi untuk skripsinya. Dosen pembimbingnya benar-benar sangat teliti, tidak ingin ada kesalahan sedikitpun.

Hana bersyukur dosennya begitu
membantunya sehingga skripsinya
sedangkan kini giliran Nisa menyelesaikan skripsinya. Kini mereka telah keluar dari sana Berjalan menuju parkiran seseorang memanggil salah satu diantara mereka.

"Iqbaal.. " Suara lembut itu terdengar di telinga ketiganya, sontak mereka menoleh dan mendapati tiga orang gadis dengan pakaian yang begitu modis. Gadis yang memanggil Iqbaal mengenakan atasan tosca serta jeans biru panjang yang sempurna mencetak kaki jenjangnya, make up yang begitu elegan serta rambut kecoklatan yang dibiarkan terurai menambah kecantikan gadis itu. Terakhir high heels hitam tinggi, pasti membuatnya menjadi pusat perhatian dimanapun ia berada.

"Dindra," Gumam Iqbaal lirih, selanjutnya Hana dapat melihat
dengan jelas rahang Iqbaal mulai mengeras. Siapa sebenarnya gadis itu? Mengapa lqbal bersikap seperti itu, padahal Iqbaal yang ia kenal tak seperti ini. Ia menoleh ke arah Dindra dan menemukan gadis berkacamata itu juga tengah menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya.

"Bal bisa kita bicara sebentar?" ujar gadis itu memecah keheningan, Iqbaal diam tak bergeming. Terlalu sibuk dengan pikirannya bagaimana bisa gadis yang sama sekali tak ingin ditemuinya kini berdiri di hadapannya.

"Bal,"panggil ulangnya,saat tak mendapat respon dari Iqbaal.

"Ayo kita pergi Han!" ucap Iqbaal
sambil menarik tangan Hana yang
berdiri tepat di samping kanannya.

Hana yang terkejut sontak menarik tangan Nisa sambil berusaha menyeimbangkan langkah lebar lqbaal. Panggilan gadis itu masih tak mengubris sedikitpun oleh Iqbaal setelah beberapa saat, Hana menghentikan langkahnya otomatis langkah Iqbaal pun berhenti.

"Lepas Bal, kita bukan Mahram!" Bentak Hana menyentak kencang
genggaman tangan Iqbaal hingga
tangannya terlepas, membuat Iqbaal menoleh dan menyadari kesalahannya.

"Maaf Han, aku gak sengaja," ucap
Iqbaal menyesal, ia sungguh merasa bersalah saat mendengar nada bicaranya, dia yakin gadis itu
benar-benar marah padanya.

"Aku mau pulang, Assalamu'alaikum!" lanjut Hana tanpa menoleh sedikit pun.

Sebenarnya ia tahu Iqbaal tak
sengaja, tapi ia merasa risih tangannya telah disentuh oleh
seseorang yang tak halal baginya.
la merasa berdosa dan kini hatinya
merapalkan istighfar berkali-kali, sedangkan di sisi lain Iqbaal mengacak rambutnya frustasi, saat akan menyusul Hana Nasaa mencegahnya, menggelengkan kepala sebagai pertanda tak perlu menyusul gadis tersebut.

"Nanti aja, dia masih ingin sendiri.
Kamu tahu Hana kan? Dia gak mungkin betah marah lama-lama."
Ucapan Nisa kini sedikit
menenangkannya, ia juga berharap begitu, tidak ingin hubungan pertemanan yang susah payah ia jalin dengan gadis itu hancur.

Ini semua hanya karena gara-gara Dindra, kenapa dia harus datang lagi?

Hana;N (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang