30

62 16 7
                                        

"Hana hanya bertanya saja Abi, atau mungkin–" 

Suara sebuah ketukan yang terdengar membuat Hana menatap intens pria di hadapannya. Benar saja, begitu pintu terbuka, jantung Hana rasanya sudah ingin meluruh disana. Disana, tepat di hadapannya tengah berdiri seseorang yang paling tidak ingin
temui saat ini, ada di hadapan Abi dan Hana. Di malam hari?

"Assalamualaikum Abi, boleh aku masuk?" Salam pria itu. 

“Waalaikumsalam.” Ucap keduanya akan saat melihat ke arah pintu kamarnya, dengan enggan akhirnya Hana membuka pintu itu semakin lebar. la berjalan karah kasur disusul Hanan di belakangnya sembari senyalimi Abi.

"Kamu kenapa gak pulang?" tanya
Hanan setelah sekian lama mereka
saling terdiam.

“Yaudah, Abi keluar dulu ya sayang. Kamu jangan tidur malem-malem, oh ya soal pertanyaanmu yang terakhir tolong di pikirkan dengan baik.” Pinta Abi, kemudian berlalu begitu saja, lalu di anguki senyuman oleh Hana, dan sedikit kerutan di wajah Hanan.

"Lagi kangen rumah ini," jawab Hana tanpa memandang Hanan sedikit pun. Hanan menghela napas, lalu ia menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Hana dan segera mengambil kedua telapak tangan Hana untuk digenggamnya.

"Ayo kita perbaiki semua ini, aku sempat dengar apa yang kamu tanyakan kepada Abi.” ucapnya dengan nada lembut, sontak menoleh dan menatap manik Hanan yang menatapnya dengan lembut. Jantungnya berpacu kuat, tidak bisa dipungkiri ia merasa
bahagia karena sikap Hanan yang
tidak sekasar semalam.

"Kita ke rumah sakit sekarang ya, kamu minta maaf sama Shella. Kalau kamu tidak mau, biar aku yang mengatakannya. Dia sudah berjanji untuk tidak mengusut kasus ini ke pihak berwajib." Wajah Hana mulai mengeras, dengan cepat ia menarik tangannya dari genggaman Hanan. Ia berdiri dari duduknya dengan tangannya yang mengepal kuat di samping tubuhnya.

"Tidak bisa ya Kak Hanan sedikit saja percaya sama aku, Sedikit saja kak. Bukan aku pelakunya, kenapa kakak gak percaya sama Hana? Kenapa kak? Apa Kakak emang secinta itu sama Kak Anes? Kalo kaya gitu kenapa kakak menerima perjodohan ini?" Sertak Hana, dengan menghentakkan tangan di atas meja, ia berusaha beristighfar berulang kali namun hatinya tak bisa menerima hal itu.

"Aku ingin percaya sama kamu, Hana. Makanya dari itu ayo kita perbaiki semua ini dari awal ya.” Ujar Hanan, lalu kembali menghampiri Hana.

"Kalau yang Kak Hanan maksud memperbaiki semuanya dengan melakukan hal itu, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melakukannya. Kak Hanan ingat, meminta maaf bukan lah perkara yang sulit untuk aku lakukan. Tapi kali ini, demi Allah aku tidak akan melakukannya! Terserah jika mau diusut secara hukum, AKU TIDAK
PEDULI! Dan kalau Kak Hanan kesini hanya untuk memintaku melakukan hal itu, lebih baik Kak Hanan pergi sekarang!" Suara Hana terdengar tegas walau sedikit bergetar karena menahan emosi. la kira Hanan sudah mempercayainya, ternyata lagi-lagi itu adalah angannya semata.

"Hana aku mohon, kita minta maaf
dan selanjutnya anggap saja semua ini tidak pernah terjadi." Ujar Hanan, masih dengan suara lembutnya, ia tak mau melukai hati Hana. Hanan hanya ingin Hana berada dalam posisi yang baik, meski ia sendiri tidak tahu siapa yang salah.

"Pintunya masih terbuka, kak Hanan tidak lupa jalan untuk keluar kan?.” Hanan berdecak namun segera beranjak dari sana meninggalkan Hana yang sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. 

“Jika kamu tidak mau meminta maaf, jangan pulang kerumah, ingat JANGAN PULANG KERUMAH. Kamu juga taukan bahwa aku menerima karena terpaksa, jangan berharap lebih Hana.” Tungkas Hanan, sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Sebenarnya ia tidak benar-benar pergi pria itu kini tengah berada di ruang tamu bersama Abi.

Gadis itu menangis setelah Hanan benar-benar tidak terlihat dari pandangnya benci tidak dipercaya dan dia benci menangis karena pria itu, ia merasa kecewa atas apa yang terjadi benarkah tak ada yang mempercayainya? Bahkan Nisa, sahabatnya sendiri juga tak membela sedikitpun.

“Sayang?–” Ujar seorang wanita paruh baya yang kini berada di depan pintu, lengkap dengan mukena berwarna Brown.

“Eh Ummi, masuk mi.” Ucap Hana sembari menghapus sisa embun di matanya.

“Sayang, maaf ummi gak sengaja denger perdebatan ka–,” Belum sempat melanjutkan, kini Hana telah memeluk sang Ummi dengan erat bahkan tangisnya yang semula terhenti kini kembali memunculkan diri.

“Nggak papa sayang, nangis aja ummi tau sesakit apa hatimu.” 

“Tap–i, Ummi Hana bener-bener gak dorong Kak Anes ummi, tad–i dia jatuh sendiri bahkan Nisa liat ummi tap–i Nisa nggak bela Hana umm–i dia bilang kalo Hana salah ummi.” Jelas Hana, terbata-bata dengan air hujan yang sedari tadi membasahi pipinya.Ummi masih setia memeluk putri kecilnya sembari mengusap pelan puncak kepala Hana.

"Meminta maaf untuk perkara ini berarti membuktikan bahwa benar Hana yang bersalah kan Ummi, sedangkan Hana nggak bersalah. Walaupun meminta maaf adalah perkara yang mulia, tapi demi Allah aku tidak akan mau mendukung sebuah kedustaan yang mungkar,” Umminya mengangguk paham, ia tau bahwa putrinya mengatakan bahwa gadis di dekatnya adalah gadis yang luar biasa?!

"Lalu apa yang akan Hana lakukan
untuk membuktikan bahwa Hana
tidak bersalah, Ummi?"

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula)." (QS. An-Nur: 11)

"Jadi yang akan aku lakukan sekarang hanya perlu diam karena kamu bilang tidak ada sesuatupun disana yang bisa membuktikan kalau aku tidak bersalah kan?" Hana mengangguk lemah.

Saat ini Hana sedang berada di tempat kerja barunya, restoran ini milik keluarga iqbaal keduanya saling melempar senyum  hingga beberapa saat kemudian senyuman Hana memudar menyadari sekelompok wanita melenggang masuk ke dalam restoran dan duduk di meja yang berjarak dua meja dari tempatnya sekarang. la juga melihat tatapan sinis yang dilayangkan para wanita itu kepadanya, tatapannya juga bertemu dengan tatapan seorang gadis yang menatapnya dengan senyuman sinis dan meremehkan.

“Eh-eh coba liat, itu istri Hanan bukan sih?!"

"Mana? Mana? Oh yang gak tahu
malu itu kan?! Astaga, masih berani dia hidup di dunia setelah kelakuan kampungan dan menjijikkan nya tersebar dimana-mana?! Ujar seorang gadis lainnya 

"Kasian banget sih Hanan, punya istri kaya gitu banget!"

"Dijampi-jampi kali dia, ah apa jangan-jangan di pelet?”

"Ya jelas lah, kalau enggak, gak bakal deh dia ninggalin Shella yang jelas-jelas lebih segala-galanya dibanding gadis kampungan macam dia, liat penampilannya aja KAMPUNGAN!"

Sertak gadis itu dengan tatapan yang seolah-olah menatap kotoran.
Hana menggigit bibir dalamnya mendengar ujaran-ujaran sinis yang sengaja diucapkan keras-keras hingga menarik perhatian beberapa pengunjung restoran.

Laa haula wa laa quata illa billah

Dirinya ingin menangis, tapi tidak untuk saat ini, di hadapan orang-orang yang jelas tidak menyukainya. Tak lama berselang ia merasakan sesuatu melingkupi kepalanya, setelah beberapa detik ia menyadari bahwa itu adalah sebuah headphone yang kini menempel tepat di kedua telinganya. Suara dari headphone.itu cukup keras hingga suara-suara lain di sekitarnya terdengar samar bahkan nyaris tak terdengar. Ia melihat Iqbaal yang kembali duduk di seberangnya seraya melempar  senyuman hangat padanya.

"Surat Ar-Rahman, Syaikh Abdurrahman Al-Ausy. Favorit kamu kan?" Walaupun terdengar samar namun melalui gerakan bibir Iqbaal ia bisa mendengar ucapan pria itu. Hana membalas dengan senyumannya. la mengalihkan tatapannya pada gadis di samping Iqbaal, khawatir gadis itu akan cemburu dan terluka melihat perhatian Iqbaal padanya.

Namun yang ia dapatkan gadis itu tetap mempertahankan senyuman di bibirnya seolah turut memberikan dukungan untuknya. Kini ia semakin percaya bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melebihi batas kemampuannya Ketika sebagian manusia menjauh darinya, Allah datangkan sebagian lain yang memberikannya semangat untuk terus percaya bahwa pertolongan-Nya sesungguhnya sangatlah dekat

Ahay udah mau end

Hana;N (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang