06

260 83 11
                                        

"Tentang arti pertemuan Antara aku dan kamu, baginya kita hanya bertemu dan dia akan melupa, sedangkan aku jatuh cinta dan aku terluka."


Terlihat rintik-rintik hujan mulai turun di bawah langit yang memang tertutup awan mendung sejak tadi, kini para pengendara roda dua mulai menepikan kendaraannya. Tak terkecuali Hana yang memutuskan untuk pulang tanpa ingin mendengar penjelasan Iqbaal tentang kejadian yang dialaminya tadi. Dia marah, entah pada Iqbaal atau mungkin pada dirinya sendiri.

Yang pasti saat ini ia ingin sedikit
menjauh dari Iqbaal hingga dia dapat menenangkan dirinya, Hana ingat bahwa tak membawa jas hujan saat berangkat tadi. la memang menyukai hujan, dan tak masalah jika harus basah diguyurnya namun ia merasa kurang fit akhir-akhir ini, jadilah ia memilih untuk meredam keinginannya untuk bermain-main dengan hujan.

Kini ia berada di pinggir sebuah
toko yang tak terlalu besar, sendirian ia jadi menyesal kenapa tidak menepikan motornya di minimarket beberapa meter di depannya yang ia yakini banyak orang berteduh lah, ia berharap begitu tapi tak apalah hujan akan cepat reda.

Allahumma soyyiban nafi'an
( Ya Allah jadikan hujan ini
bermanfaat )

Saat ini ia mulai tenggelam
dalam lamunannya menatap hujan ia sangat menyukainya. Hanya satu kali dia tidak merasa bahagia saat hujan turun, ya pada saat itu. Saat ia melihat sosok yang dikaguminya sedang bermesraan dengan seorang gadis di tengah derasnya hujan. Dia masih mengingatnya dengan jelas walaupun sudah bertahun-tahun dia berusaha melupakannya. Alhasil dia benci pada kenyataan bahwa hingga saat ini ia belum bisa melupakan pemuda itu.

"Makanya kalau hujan bawanya
jas hujan, jangan malah bawa
rindu sama kenangan!". Suara baritone itu memecah lamunan Hana, sontak membuatnya mendongak menatap pemuda itu.

Hana melihat pemda berkemeja
biru yang sebagiannya dimasukkan ke dalam celana kain hitam sedang memunggunginya, sejak kapan pemuda itu berdiri disana? Sesaat kemudian ia menoleh pada Hana. Dan setelahnya Hana melihat pemuda itu tersenyum hingga menampilkan lesung pipinya.

"Kita bertemu lagi," ucapnya, membuat Hana mengerutkan dahinya, bingung.

"Aku yang hampir menabrak kucing tadi," lanjutnya ketika melihat gadis di depannya menatapnya bingung. membuat Hana membulatkan bibirnya. pemuda itu mengamati Hana intens dan membuat Hana sedikit risih. la menolehkan wajahnya ke samping.

"Sepertinya gak salah lagi, kamu
Hana kan?" Hana kembali mengerutkan dahinya, bagaimana pemuda di hadapannya bisa mengenal dirinya?

"I-iya, saya Hana. Kok Masnya tau
nama saya?"

"Saya Wahyu, yang pernah gak sengaja nimpuk kamu pake bola basket, masih ingat?" Ungkapnya, membuat Hana membulatkan matanya.

Jadi dia Kak Wahyu? Sahabat Hanan? Baru saja ia mengingat pemuda itu dan kini seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan perempuan itu muncul di hadapannya. Takdir memang begitu sulit untuk ditebak, kini Hana meringis saat Wahyu masih mengingat kejadian itu. Dia malu, dan pipi chubbynya bersemu.

"Lucu," ucap Wahyu sembari tersenyum.

"Hah? "

"Wajahmu memerah seperti kepiting rebus," lanjutnya, kalimat tersebut mampu membuat wajahnya kembali memerah, hingga Wahyu tertawa pelan, merasa gemas akan gadis di hadapannya.

"Kamu gak bawa jas hujan?" Tanyanya, yang hanya di respond dengan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, sama
sekali tak melihat wajah yang kini
masih mengamatinya.

"Kak Wahyu kok bisa disini?" tanya Hana memecah keheningan yang beberapa saat tercipta.

"Berteduh," jawabnya sembari menggosok bagian tubuhnya.

"Kan bawa mobil?" tunjuk Hana
pada sebuah mobil silver yang
berada satu meter di belakang
motornya, pertanyaan Hana kini
membuat Wahyu kikuk.

Sebenarnya Wahyu sengaja menepikan mobilnya saat sepasang matanya tak sengaja menangkap  sosok gadis yang sedikit mencuri perhatiannya tadi pagi. Sedang berdiri sambil memandang lurus ke jalanan, ia tidak dapat mencegah langkahnya untuk tidak menghampiri gadis itu. Setelah semakin dekat, ia jadi teringat seseorang yang dulu menarik perhatiannya setelah ia melempar sebuah bola basket ke kepala gadis itu, ia bahagia mengetahui fakta bahwa gadis yang berdiri beberapa meter di depannya benar-benar Hana.

"Sebenarnya aku mau beli sesuatu
di toko itu," ujarnya mencari
alasan,  ia bersyukur Hana terlihat puas dengan jawabannya karena gadis itu kini membulatkan bibirnya. Wahyu segera melangkah ke toko yang menjual ATK itu, membeli sesuatu yang sebenarnya tidak ia butuhkan
saat ini. Hanya sebagai penguatan
atas alibinya.

"Kamu mau nunggu sampai reda?"
tanya Wahyu yang kini telah berada di samping Hana. Hana hanya menganggukkan kepalanya pasrah.

"Mau aku antar pulang?" tawar
Wahyu, yang langsung mendapat
jawaban gelengan keras dari Hana.
Wahyu tersenyum, ia tahu bahwa
tawarannya bukan hal menarik bagi gadis seperti Hana.

"Oh oke, kalau gitu tunggu sebentar ya," lanjut Wahyu yang kini sudah menembus hujan dengan payungnya, setelah beberapa lama Wahyu kembali dengan bungkusan di tangannya.

"Ini," ujarnya sambil menyerahkan
bungkusan itu pada Hana.

"Ini apa kak?"

"Dibuka aja!" perintahnya, Hana segera membukanya dan menemukan sebuah jas hujan berwarna biru kombinasi pink bermotif polkadot di dalamnya.

Jadi, Wahyu repot-repot berjalan
di bawah derasnya hujan hanya
untuk membelikannya jas hujan?
Walaupun terlindung payung, Hana tetap saja merasa tidak enak.

"Kok repot-repot sih Kak? tanyanya, merasa tak enak hati.

"Enggak kok, lagian kalau kamu
nunggu sampai reda, bisa-bisa
semalaman kamu nunggu. Kan gak
baik perempuan sendirian di pinggir jalan." ucapnya, sembari tersenyum, di ikuti Hana juga yang tersenyum dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dompetnya.

"Ini Kak buat ganti uang jas hujannya."

"Eh gak usah, anggap saja hadiah
perkenalan," jawabnya sembari
kembali memperlihatkan lesung
pipinya. Hana Pun ikut tersenyum dan kemudian memakai jas hujan dengan bawahan bermodel rok itu.

"Makasih ya Kak, aku pulang dulu.
Assalamu'alaikum," pamitnya.

"Wa'alaikumsalam, sama-sama
Aku harap kita bisa bertemu lagi."
Wahyu barujar tulus dan memandang wajah Hana lekat.

"Insya Allah," balas Hana sembari
tersenyum kecil, lalu ia segera
menuju tempat dimana motornya
terparkir. Sesaat kemudian Hana telah melajukan motornya, memecah derasnya hujan dan juga kenangan yang hujan bawa kepadanya. la bahkan tidak ingin bertemu dengan semua hal yang akan mengingatkannya pada pemuda yang ia tak tahu dimana sekarang ia berada. pemuda yang turut membawa sekeping hatinya

pergi, sementara Wahyu masih terdiam di tempatnya tetap memandang ke jalanan, walaupun Hana telah hilang dari pandangannya lalu la tersenyum. 

Merasakan bahwa dirinya konyol sekali tadi, ia menarik nafas panjang dan meraba dadanya dimana kini jantungnya berdetak cepat, ia merasakan getaran di saku yang pasti berasal dari smartphone nya.

"Dimana?" Sebuah pesan whatsapp dari sahabatnya -Hanan- membuatnya tersenyum, pasti pemuda itu bosan menunggunya.

"OTW" balasnya singkat lalu ia
segera menuju mobilnya jadi
teringat sesuatu. 

Kenapa ia bisa lupa meminta nomor handphone Hana, lagi lagi ia merasa menyesal tapi jika tadi ia meminta, apakah gadis itu bersedia memberikannya? Lagi-lagi ia

tersenyum manis ia harus berterima kasih pada gadis yang sudah membuatnya banyak tersenyum hari ini

Hana;N (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang