Hana menatap takjub setelah tiba di sebuah lapangan luas yang kini telah disulap menjadi sebuah pasar malam, berbagai macam wahana dan lapak dagangan yang menyajikan berbagai hal mulai dari pakaian hingga makanan, ditambah dengan lampu warna-warni menambah semangat Hana untuk segera berbaur bersama orang-orang berbagai kalangan usia yang sudah terlebih dahulu berada di sana. Meskipun malam ini bukan-lah termasuk salah satu dari malam akhir pekan, pengunjung tetap saja ramai. Hana melangkahkan kakinya yang terasa begitu ringan untuk bergerak kesana kemari, seperti lupa bahwa ia tidak datang sendiri malam itu.
Hanan yang merasa pergerakan Hana terlalu lincah, segera meraih telapak tangan kiri Hana dan menggenggamnya erat membuat sang pemilik sontak menghentikan langkahnya karena terkejut. Gadis itu menolehkan wajahnya dan menemukan Hanan yang tengah tersenyum lembut menatapnya.
"Gapapa, supaya kamu gak hilang," ujar Hanan menjawab keterkejutan dipenuhi tanda tanya yang tercetak jelas di wajah cantik Hana, membuat gadis itu mendengus seba namun detik selanjutnya ia tersenyum,
merasakan kehangatan jari-jemari
Hanan yang kekar menggenggam
tangan kecilnya erat.
Walaupun Hanan sudah pernah menggenggam tangannya seperti ini, namun tetap saja jantungnya belum terbiasa. Dia masih berdetak kuat seolah akan terlepas dari tempatnya, Hanan menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah lapak yang menyajikan permainan lempar gelang untuk memperoleh hadiah.
"Kamu mau main itu?" tanyanya
pada Hana, tetapi Hana menggeleng pelan.
"Terlalu mubazir Kak, lagian Hana juga gak bakat main itu. Kalau Hana mau hadiahnya tinggal beli aja, lebih pasti dan tinggal milih aja." Jawab Hana lungkas membuat Hanan tersenyum dan mengangguk setuju, lagi-lagi dibuat kagum dengan pikiran gadis di sampingnya.
"Kalau yang itu?". Hanan menunjuk sebuah wahana rumah hantu, bukannya merasa takut Hana mengangguk mantap
" Serius? Emang berani? " tanya
Hanan meragukan keberanian Hana.
" Berani-lah, apaan orang cuma kaya gitu.” Protes Hana, lalu menarik kecil tangan Hanan supaya mengikuti langkahnya. Hanan dan Hana menyusuri lorong yang nampak begitu gelap, suara seram yang menggelegar di ruangan itu semakin membuat suasana terasa mencekam.
"Ini kenapa gelap banget sih, yang punya belum bayar listrik ya? " gerutu Hana karena merasa kesusahan saat akan melangkah, membuat peduma di sampingnya hanya bisa menggeleng pelan mendengar Hana yang terus
bergerutu sejak tadi. Ia menghela
napas, karena hingga saat ini Hana
belum menunjukkan ketakutannya. Tidak seperti pasangan yang berjalan di depan mereka, dimana sang wanita terus menjerit sambil memeluk sang pria erat. Dia kan juga ingin–
"Kamu mikirin apa lagi sih, Hanan.” batinnya bersuara.
Tiba-tiba di hadapannya nampak
pakaian seorang wanita berambut panjang, Nah ini dia kesempatan bagus, Hana pasti takut dan akan memeluknya seperti pasangan di depannya, pikir Hanan. Namun saat tiba di depan hantu yang sering disebut kuntilanak itu,
yang terjadi malah–
"Mbak lagi ngapain? Make-upnya
dari berapa jam Mbak? Keren banget tau, Mbak jadi mirip kuntilanak beneran. Eh tapi gak tau juga sih, Hanakan gak pernah ketemu kuntilanak beneran. Mbak pernah ketemu kembaran Mbak itu?" Celoteh Hana kepada wanita yang kini bermake up layaknya kuntilanak. Karena kesal tidak mendapatkan apa yang di harapkan, Hanan menggenggam tangan Hana dan menarik gadis itu untuk melanjutkan langkah mereka.
"Kok gitu sih, Hanakan belum selesai ngobrol sama dia kak." Ujar Hana
"Dia harus kerja Na, wibawanya
sebagai hantu bisa turun kalau dia
kamu ajak ngobrol terus." Jawab Hanan, membuat Hana mengerucutkan bibirnya kesal, ia membiHanann saja Hanan
menarik tangan kanannya.
Namun tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang memegang lengan kirinya yang tertutup gamis, hingga Hana menoleh lalu terkejut saat menemukan seorang laki-laki besar dengan rambut gondrong dan wajah menyeramkan yang kini tengah memegang tangannya.
Karena terkejut gadis itu berteriak sembati memukuli sosok jelmaan genderuwo itu dengan tas selempangnya. Terdengar laki-laki itu mengaduh akibat pukulan Hana, Hana segera menarik tangan Hanan untuk menjauh dari sana.
"Maaf Pak maaf" teriak Hana
kemudian, ia merasa bersalah sudah memukuli laki-laki itu. Setelah tiba di luar, Hanan melihat Hana yang masih tersengal karena berlari.
"Katanya berani, kok malah lari?
cibir Hanan.
"Hana memang gak takut kok, Hana cuma narik tangan Kak Hanan buat lari soalnya ikut-ikut dua orang di depan kita tuh. Mereka lari, jadi Hana lari juga."
Jelas Hana, tak mau jika Hanan mengira ia ketakutan.
" Terus kalau gak takut, kenapa tadi teriak sama mukul genderuwo itu?"
"Hana kaget aja pas dia pegang
tangan Hana, bukan mahrom Hana kan, makanya Hana mukul dia. Kasian sih, tapi gapapa deh dia juga salah sudah pegang wanita yang bukan mahromnya." Ucap Hana cepat, lagi-lagi Hanan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepertinya ia harus mulai terbiasa dengan pemikiran dan tingkah Hana yang luar biasa.
"Tunggu bentar!" ujar Hanan
menghentikan langkah Hana, lali
berhenti dan melihat Hanan sedang membeli sebungkus besar gulali. Hanan mengulurkan gulali itu kepada Hana setelah laki-laki itu kembali di hadapannya.
"M–makasih Kak." jawab Hana terbata-bata masih saja merasa gugup setiap Hanan bersikap manis padanya.
"Gimana kamu sukakan? " tanya Hanan, sembari tersenyum simpul.
" Suka."
"Kamu yakin suka? " Tanya Hanan mengoda gadis di hadapannya
"Iya kak, suka. Hana suka gulalinya"
" Kalau sama yang ngasih? " tanya
Hanan cepat, tak membiHanann kesempatan ini terlewatkan.
"Suka.” ungkap Hana, tanpa berpikir panjang.
"Gitu jadi kamu suka sama aku?" mengerjapkan matanya saat baru menyadari ucapannya sendiri.
"Eh maksudya gak gitu, Hana suka sama yang buat gulalinya. Iya gitu," jawab Hana terbata-bata membuat Hanan terkekeh pelan.
"Oh, jadi kamu lebih suka sama pembuat gulalinya ya? Mas, dia suka sama Masnya, beneran deh." Hanan berteriak memanggil penjual gulali yang sepertinya berusia sekitar tiga puluh lima tahunan, si penjual gulali menoleh dan mengedipkan sebelah matanya genit pada Hana membuat gadis itu menganggukkan kepalanya kikuk.
"Tuh kayaknya dia naksir juga sama kamu udahlah kapan kilian mau jadian? " tanya Hanan menggoda Hana yang kini tengah mendengus sebal.
“Kak Hanan nyebelin!" teriaknya dan ia segera berlalu dari tempat itu, meninggalkan Hanan yang tertawa kencang sembari memegangi perutnya.
"Gimana mbak? Maniskan gulalinya?" Sambar mas-mas penjual gulali yang sedari tadi menatap sepasang suami istri tersebut.
"Pahit." Teriak Hana, membuat keduanya kembali tertawa oleh kelakuan mengemaskan Hana.
"Apaan sih Mas, itu istri saya." Timpal Hanan setelahnya, lalu mengejar Hana yang sekarang berdiri di depan stand makanan.
Detik-detik Hanan suka balik ini mahhh, jangan lupaa vote+komen yaaaa, Wopyuuuuu kalian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hana;N (TERBIT)
Teen FictionHana berdiri mematung, jantungnya berdegup kencang. Matanya tak berkedip menatap sosok tinggi di hadapannya-pemuda yang bertahun-tahun lalu pernah mengisi harapannya, namun kemudian ia coba lupakan. Waktu telah membentangkan jarak di antara mereka...
