Seusai menyiapkan makanan untuk Diandra dan menunggu pria itu keluar dari kamar, Siena memilih memainkan ponselnya dimeja makan dengan ditemani buah-buahan segar yang sudah ia potong menjadi kecil.
"Sepertinya rencana ku untuk pergi ke rumah Kakak harus tertunda dulu." Melihat bagaimana Diandra semalam, Siena jadi tidak tega meninggalkannya walaupun hanya sebentar. Ya meskipun demamnya sudah benar-benar turun, tapi Siena takut Diandra kembali demam saat dirinya tidak ada dirumah.
"Hanya apel dan mangga? Apakah tidak ada anggur?"
Siena terkejut, bahkan ponselnya hampir saja melayang saat mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu. "Untuk saja jantung ku sehat." Lirihnya sembari menatap horor pada Diandra yang malah dengan santainya memakan buah diatas piring, setelah sebelumnya membuat jantungnya hampir keluar dari tempatnya.
Diandra hanya menatap Siena dengan terus memasukkan potongan buah itu kedalam mulutnya. Sebenernya Diandra menunggu Siena mengatakan sesuatu tentang hal tadi, tapi sepertinya perempuan itu tidak akan mengatakan apapun.
"Kau ingin anggur? Sepertinya ada sisa sedikit didalam kulkas." Siena beranjak dari duduknya, berjalan menuju kulkas dan membukanya. Diam-diam Siena melirik pada Diandra yang terlihat sangat tenang memakan buah-buahan itu. Tapi saat melihat tatapan matanya tadi, sepertinya dugaan Siena benar.
"Ini, nanti siang akan aku belikan lagi." Katanya setelah menyimpan anggur dihadapan Diandra, yang kemudian langsung pria itu masukan kedalam mulutnya satu persatu.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah lebih baik?"
Diandra mengangkat kepalanya, menatap Siena cukup lama dan kemudian mengangguk. "Sangat baik. Tapi sepertinya ada yang menyengat bibirku saat aku tidur, jadinya sedikit gatal." Ujarnya sembari menyentuh bibirnya yang sedikit dimajukan.
Siena mengerjap cepat, mengatupkan bibirnya saat melihat Diandra yang menggigit bibirnya sendiri. Tapi kemudian Siena tersenyum miring, perempuan itu bertopang dagu dan tersenyum manis yang malah membuat Diandra curiga.
"Jika kau mau, aku akan dengan senang hati menghilangkan rasa gatal di bibirmu itu." Balasnya sembari menggigit anggur dan menahannya agar tetap diam diantara bibir dan mulutnya.
Entah apa yang merasukinya, Diandra merasa sesuatu bergejolak didalam dirinya, dan ingin sekali mengambil anggur itu. Tapi berkat kewarasannya yang masih ada, Diandra mencoba acuh dan lanjut memakan sisa potongan buah didepannya.
Merasa usahanya tidak membuahkan hasil, Siena beranjak dari duduknya, berjalan mendekat pada Diandra dan berhenti tepat disamping pria itu.
'Mari kita lihat, apakah Diandra akan tetap menolak?'
Siena meraih dagu Diandra, menariknya secara perlahan agar mengarah padanya. Kepalanya mendekat, cukup dekat dengan hidung mereka yang sudah hampir bersentuhan. Saat semakin mendekat, jantung Siena semakin berdebar tidak karuan. Meskipun ia sudah siap akan penolakan yang pasti Diandra berikan, tapi rasanya pasti akan sangat memalukan!
'Sepertinya setelah ini aku akan benar-benar pergi ke rumah kakak!'
Saat buah anggur itu menyentuh bibirnya, Diandra merasa kewarasannya tiba-tiba menghilang. Jadi tanpa ia sadari, tangannya meraih tengkuk Siena dan menekannya hingga bibir mereka bertemu. Buah anggur yang masih tergigit itu, Diandra rebut paksa menggunakan lidahnya. Meskipun sudah menjadi miliknya, tapi pria itu tidak kunjung menjauhkan wajahnya.
Lutut Siena rasanya bergetar saat merasakan bibir itu bersentuhan dengan bibirnya. Wajahnya juga semakin panas saat tiba-tiba Diandra menarik pinggangnya dan mendudukkannya diatas pangkuan pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrogate Wife [END]
RomanceSiena merasa senang akhirnya bisa menikah dengan seseorang yang ia sukai sejak lama. Namun rasa senangnya itu hilang saat seseorang yang merupakan calon istri dari suaminya yang menghilang, tiba-tiba kembali. "Walaupun Yena sudah kembali, aku tidak...
![Surrogate Wife [END]](https://img.wattpad.com/cover/369209462-64-k27279.jpg)