Setelah lelah berkutat dengan berbagai pekerjaan di kantor, Diandra memilih pulang lebih awal hari ini. Saat kakinya melangkah masuk kedalam apartemen, ia langsung menemukan keberadaan Siena yang tengah menonton televisi dengan memeluk lututnya sendiri.
"Bersiaplah, setelah ini kita pergi untuk membeli bahan-bahan yang habis." Katanya yang kemudian melenggang pergi menuju kamarnya. Setelah berganti pakaian, Diandra kembali menghampiri Siena yang ternyata masih pada posisinya.
"Ayo, bukankah bahan-bahan di dapur sudah hampir habis?" Tanyanya yang tidak mendapatkan jawaban apapun. Diandra bingung, apa yang terjadi dengan Siena? Sesaat setelah dari rumah sang Ayah hari itu, Siena menjadi sangat pendiam, tidak lagi menjadi manusia berisik, bahkan perempuan itu juga terkadang hanya menatap kosong. Contohnya saja seperti saat ini.
Menghela nafas panjang, Diandra memilih duduk disamping Siena, menatap wajah perempuan itu dari samping. "Apa kau marah karena kejadian dikamar mandi?" Diandra tidak menemukan alasan Siena menjadi seperti itu selain kejadian dikamar mandi. Apakah perempuan itu marah karena ia berkata akan melakukannya, tapi pada akhirnya ia malah pergi begitu saja?
"Baiklah. Jujur saja, aku pergi begitu saja karena aku belum siap untuk melakukannya bersamamu."
Siena tertawa kecil, kemudian menatap Diandra dengan tatapan sedihnya. "Tidak apa, lagi pula aku juga tidak menginginkannya."
Diandra mengernyit, entah mengapa apa yang Siena ucapkan terasa mengusik hatinya. Berdehem kecil, Diandra berdiri, kemudian meraih kedua tangan Siena dan menariknya. Tanpa menolak, Siena menerima apapun yang Diandra lakukan padanya.
Setelah selesai mengikat rambut Siena dan memasangkan sepatu dikedua kaki perempuan itu, Diandra kembali meraih tangan Siena dan menggenggamnya. Kemudian berjalan keluar dari Apartemen dan masuk kedalam lift.
Diam-diam Diandra menatap genggaman tangannya. Hanya ia yang menggenggam tangan itu, sedangkan Siena tidak sedikitpun membalas genggaman tangannya. Dan baru kali ini perempuan itu tidak menjauh saat ia mendekat.
Entah mengapa Diandra merasa kesal. Setelah mereka melakukan ciuman yang cukup wow didalam mobil, ditambah percakapan intim dikamar mandi, kini Siena tiba-tiba saja seakan mencampakkannya walaupun secara tidak langsung.
Perempuan itu tidak banyak membuka suaranya, selalu mencoba menjauh dan terkadang pura-pura tidak melihatnya. Jika Diandra berjalan mendekat dan hendak bertanya sesuatu, maka Siena akan dengan cepat menjauh dan bahkan masuk kedalam kamarnya.
Hal itu berlangsung selama 3 hari ini, tepat setelah pulang dari rumah Ayahnya. Ada apa sebenarnya dengan Siena? Perubahan sikapnya terlalu cepat, dan Diandra belum menemukan alasan dibalik semua itu.
••••••••••
Di balkon kamarnya dengan pemandangan yang langsung terhubung pada taman samping rumahnya yang dipenuhi berbagai macam bunga Lily, membuat Leo tidak bisa jika tidak mengingat mendiang istrinya.
Liliana Rose Everard namanya, wanita paling cantik yang pernah Leo temui. Wanita paling penyayang dan lembut, wanita hebat yang memberikannya dua putra yang tampan, dan wanita yang memberikan senyuman manis sebelum kepergiannya.
"Aku sedih salah satu dari anak kembar kita tidak bisa selamat, tapi aku senang karena aku berhasil melahirkan salah satunya."
"Tolong jaga dia, tolong sayangi dia sebesar kau menyayangiku, tolong berikan cintamu padanya, dan tolong lindungi dia meskipun dia sudah tumbuh dewasa nanti."
"Aku percaya kau bisa, aku yakin kau mampu untuk membesarkan anak-anak kita. Aku mencintaimu, Leo."
Itu adalah kata terakhir sebelum Liliana menutup matanya, meninggalkan dirinya, Diandra kecil, serta Devian yang baru saja lahir ke dunia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrogate Wife [END]
RomanceSiena merasa senang akhirnya bisa menikah dengan seseorang yang ia sukai sejak lama. Namun rasa senangnya itu hilang saat seseorang yang merupakan calon istri dari suaminya yang menghilang, tiba-tiba kembali. "Walaupun Yena sudah kembali, aku tidak...
![Surrogate Wife [END]](https://img.wattpad.com/cover/369209462-64-k27279.jpg)