Surrogate Wife : 19

33.1K 1K 17
                                        

Setelah memberikan oleh-oleh yang ia janjikan kepada kedua keponakannya, Siena berniat langsung kembali pulang karena tidak tenang meninggalkan Diandra di apartemen. Walaupun ada teman-temannya, tapi tetap saja Siena khawatir.

Tapi sebelum itu, Siena berencana untuk membeli buah-buahan lebih dulu di minimarket. Terutama buah anggur, buah favorit Diandra.

Kakinya melangkah menyebrangi jalan, dimana ada minimarket yang tidak jauh dari rumah Selly, dan itu memudahkan Siena untuk berbelanja.

Cukup lama berputar-putar mencari apa saja yang ia butuhkan, bahkan Siena tidak tau berapa waktu yang ia habiskan di Minimarket itu. Setelah selesai, Siena membawa belanjaannya pada kasir. Hanya 2 keranjang penuh, tidak terlalu banyak.

Selama menunggu belanjanya dihitung, Siena menatap keluar minimarket dan menemukan sebuah keajaiban, yang dimana terdapat Diandra tengah berlarian dengan kepala yang menoleh ke sana kemari. Dilihat dari gelagatnya saja, sepertinya pria itu tengah panik.

Siena buru-buru keluar, menyusul langkah Diandra yang sudah cukup jauh. Merasa tidak akan bisa mengejar, Siena menarik nafasnya dalam-dalam dan berteriak. "DIANDRA!!" dengan sekencang-kencangnya, yang untungnya pria itu mendengarnya.

Melihat Diandra yang berlari menghampirinya, Siena melompat-lompat kecil dengan tangan yang melambai. Sesaat setelah Diandra tepat berada didepannya, Siena tersenyum manis, namun ekspresi wajah Diandra terlihat keruh.

"Apa kau menyusulku?" Tanyanya seraya menyeka keringat yang bercucuran di dahi, pelipis dan leher Diandra menggunakan lengan hoodienya.

"Seharusnya kau tetap dirumah." Mengingat kondisi Diandra semalam, Siena menjadi was-was jika demamnya akan kambuh lagi.

Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Setelah dipaksa oleh teman-temannya, ditambah perkataan yang mereka keluarkan sangat aneh, akhirnya mau tidak mau Diandra menyusul Siena. Tapi sesampainya dirumah Selly, perempuan itu berkata bahwa Siena baru saja pulang setelah mengantarkan oleh-oleh.

Baiklah, Siena sudah pulang. Tapi sesampainya ia di apartemen, Siena tetap tidak ada, dan lagi-lagi teman-temannya melakukan hal yang sama. Bahkan dengan tidak masuk akalnya Varel berkata.

"Sepertinya dia sudah muak denganmu, oleh karena itu dia pergi dan tidak akan pernah kembali."

Tidak mungkin jika Siena seperti itu, dan Diandra yakin bahwa perempuan itu tidak akan menyerah untuk saat ini.

'Dia hanya akan menyerah saat penyebab utama dari keadaan saat ini, kembali.'

Diandra melangkah semakin mendekat, lalu menekan kening Siena menggunakan telunjuknya. "Bodoh." Hanya itu, hanya itu kata yang Diandra keluarkan.

Siena cemberut, menyentuh keningnya sendiri. "Aku memang bodoh, tapi jangan dikatakan secara langsung seperti itu dong." Gerutunya dengan bibir mengerucut.

"Oh ya, mengapa kau tidak mengabariku jika menyusul?" Siena berjinjit, memperbaiki rambut Diandra yang berantakan.

Awalnya Diandra hanya diam, memperhatikan bagaimana sulitannya perempuan itu saat menggapai rambutnya. "Aku lupa membawa ponsel." Lalu sedikit merendahkan tubuhnya, agar Siena dapat dengan leluasa memperbaiki rambutnya.

Akibat terbawa suasana oleh kehebohan teman-temannya, Diandra sampai melupakan ponselnya yang berada diatas meja. Bahkan bukan hanya ponsel, dompet pun ia lupa. Padahal didalamnya terdapat kartu-kartu penting yang bisa menyelamatkan hidupnya, bagaimana bisa ia lupa akan hal itu?

Merasa rambut Diandra sudah rapih, Siena kembali menegakkan tubuhnya dan menatap pria itu dengan hangat. "Padahal tidak perlu menyusul, kau masih harus banyak istirahat."

Surrogate Wife [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang