"Sayang, ayo cepat! Aku tidak sabar ingin melihat bayi gemasnya Yena!!"
Setelah mendapatkan kabar bahwa Yena sudah melahirkan pagi tadi, Siena menjadi heboh sendiri dan terus saja menyuruhnya untuk segera bersiap. Dan apa yang Diandra lakukan? Pria itu hanya bergerak santai, melakukan apapun tanpa terburu-buru. Tapi hal itu terlihat begitu lambat dimata Siena, sehingga perempuan itu turun tangan membantunya memakaikan pakaian, juga menyemprotkan parfum padanya.
"Ayo cepat! Mengapa akhir-akhir ini kau lambat sekali?!" Siena sudah misuh-misuh sembari mengelus perutnya sendiri.
"Jangan sampai kau jadi manusia lambat juga ya? Jangan mengikuti jejak calon Papa satu itu." Gerutunya sembari menusuk-nusuk kecil perutnya sendiri.
Setelah hari itu, dan seringnya melakukan malam panas bersama, akhirnya sebuah kehidupan muncul didalam perut Siena tanpa membutuhkan waktu yang lama.
Melihat betapa menggemaskannya saat Siena seperti itu, Diandra hanya bisa memeluknya dan membubuhi wajah cantik itu dengan kecupan manisnya.
"Diandra! Nafasmu bau! Jangan menciumku!!" Setelah berteriak seperti itu, Siena mendorong wajah Diandra hingga pria itu mundur beberapa langkah. Dengan wajah kesalnya, Siena masuk kedalam mobil dan duduk dikursi belakang.
Diandra menggelengkan kepalanya, semenjak dinyatakan hamil, Siena menjadi sering menjauhinya dan bahkan dengan terang-terangan menyebutkan alasannya.
"Mulutmu bau!"
"Bau! Mandi sana ihhh!"
"Jangan mendekat! Kau bau!!"
Padahal Diandra yakin dan sangat yakin bahwa dirinya tidak bau sedikitpun, tapi Siena tetap saja berkata bahwa dirinya bau. Namun yang membuatnya sedikit heran, Siena akan terus memeluknya sepanjang malam tanpa membiarkan pelukannya lepas sedikitpun, seakan perkataannya di siang hari tidak pernah terucap.
"Dasar bumil." Gumamnya terkekeh geli. Lalu masuk kedalam mobil dan mulai meninggalkan pekarangan rumahnya.
Selama di perjalanan, Siena terus berkedip sembari menatap lekat pada Diandra yang tengah fokus mengemudi. Jika dilihat secara teliti, Diandra benar-benar tampan, apalagi kini pria itu memiliki kumis meskipun sangat tipis.
"Kumis yang masih kecil itu jangan dulu di bunuh ya? Aku ingin melihatnya tumbuh besar."
Diandra mengernyit heran, kemudian melihat pantulan wajahnya pada kaca spion yang berada didepannya. Memang kumisnya sudah mulai tumbuh, dan rencananya Diandra akan membasminya sepulang dari menjenguk Bayi Devian. Tapi mendengar apa yang baru saja Siena katakan, sepertinya ia harus mengurungkan rencana awalnya.
"Of course, anything for you, sweetie."
Saat mobilnya berhenti karena lampu merah, tiba-tiba Siena grasak-grusuk sendiri. Diandra menolehkan kepalanya, menatap Siena yang tengah membuka sepatunya dalam keadaan berbaring.
"Apakah sepatu itu tidak nyaman?" Tanyanya lembut, dan hal itu dijawab anggukan kepala oleh Siena.
"Terlalu besar. Apakah aku boleh meminjam sepatumu?"
Diandra mengernyit tidak mengerti. Jika sepatu milik Siena saja besar, lantas apa kabar dengan sepatunya jika dipakaikan dikaki istrinya itu?
Tapi meskipun begitu, Diandra tetap menurutinya. Melepaskan sepatu kuningnya, kemudian memberikannya pada Siena. Melihat perempuan itu benar-benar memakainya, Diandra hanya mampu tersenyum kecil. Sepertinya keinginan kecilnya itu adalah salah satu ngidamnya yang sudah berjalan selama beberapa Minggu ini.
"Apakah akhirnya Yena melahirkan 5 bayi?" Pertanyaan polos itu membuat Diandra tersedak air liurnya sendiri.
"Tidak mungkin, itu akan sangat beresiko jika benar-benar terjadi." Jangankan 5 bayi, 1 bayi pun taruhannya adalah nyawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrogate Wife [END]
RomanceSiena merasa senang akhirnya bisa menikah dengan seseorang yang ia sukai sejak lama. Namun rasa senangnya itu hilang saat seseorang yang merupakan calon istri dari suaminya yang menghilang, tiba-tiba kembali. "Walaupun Yena sudah kembali, aku tidak...
![Surrogate Wife [END]](https://img.wattpad.com/cover/369209462-64-k27279.jpg)