Bergumam lirih dalam tidurnya, hingga kemudian Diandra membuka matanya secara perlahan dan menatap langit-langit kamarnya dengan linglung. Merasakan kepalanya yang kembali berdenyut membuat Diandra meringis dan hendak menyentuhnya, tapi tangannya yang terasa digenggam dengan erat membuat Diandra menoleh cepat.
"Hm?" Alisnya mengerut saat melihat keberadaan Siena yang tengah memeluknya. Tapi dilihat dari posisinya kini, mungkinlah ia yang memeluk perempuan itu? Menggeleng kecil, Diandra memilih melepaskan genggaman tangan Siena, memindahkan kepala perempuan itu yang semula berada diatas lengannya agar berada diatas bantal dengan perlahan, dan setelahnya Diandra terduduk dengan bersandar pada kepala ranjang.
"Sudah berapa lama aku tertidur?" Gumamnya sembari meraih ponselnya yang berada diatas nakas. Saat benda itu dinyalakan, terdapat rentetan pesan dari Varel, Joshua dan Jelio. Namun Diandra mengabaikan hal itu, ia lebih fokus pada angka yang berada pada layar ponselnya.
"22.32? Ternyata tidurku lama juga." Seingatnya Diandra tertidur setelah melihat salju, tepat pada jam makan siang, dan sekarang sudah malam. Menyadari tidurnya yang begitu lama, Diandra hanya bisa menggelengkan kepala.
Kembali menyimpan ponselnya, Diandra menunduk dan menatap wajah tenang Siena dalam diam. Menghembuskan nafas pelan, Diandra bangkit dan berjalan perlahan menuju kamar mandi. Bertepatan dengan itu Siena terbangun. Kepalanya terangkat, menatap sekitarnya dan tidak menemukan keberadaan Diandra disekitarnya.
Buru-buru Siena duduk tegak, mengerjap cepat dengan kedua alisnya yang menukik tajam. "Diandra? Diandra?!" Serunya cukup kuat, dan saat mendengar suara keran air dari arah kamar mandi, barulah Siena mengangguk kecil. Hingga akhirnya suara air itu menghilang, tak lama muncul sosok Diandra yang keluar dengan santainya sembari menyugarkan rambutnya kebelakang.
"Ada apa?" Tanyanya saat sudah berhadapan dengan Siena, lalu kembali menaiki ranjang dan menarik selimutnya hingga menutupi setengah tubuhnya.
"Jangan dulu tidur, aku akan menghangatkan bubur untukmu." Tanpa menunggu jawaban, Siena melompat dari atas ranjang dan berlari menuju dapur dengan cepat.
Diandra hanya diam, menatap kearah pintu seakan menunggu kehadiran perempuan itu. Saat menyadari apa yang tengah dilakukannya, Diandra berdecak kecil dan menutup matanya menggunakan lengan.
Hingga beberapa saat kemudian, Siena datang dengan membawa nampan yang berisikan satu mangkuk bubur dan satu gelas air hangat. Melihat Diandra yang kembali tertidur, membuat Siena berdecak kecil. Setelah menyimpan nampan itu diatas nakas, Siena beralih mengguncang bahu Diandra secara perlahan.
"Diandra, ayo bangun dulu." Siena terus mengguncang bahu Diandra, hingga akhirnya pria itu bangun dan terduduk lesuh dengan kepala menunduk.
Siena menjulurkan tangannya dan menyentuh kening serta leher Diandra. "Sepertinya kau demam lagi, apakah kita harus ke Rumah Sakit?" Tanyanya cemas, tapi hanya Diandra balas dengan gelengan kepala.
"Tidak perlu, dengan obat penurun demam saja sudah cukup." Lirihnya seraya mencoba meraih gelas air yang Siena bawa, dan dengan cepat Siena memberikan gelas itu.
"Ayo makan dulu, setelah itu minum obat lagi." Siena meraih mangkuk buburnya, sedikit mengaduknya dan menyendok nya.
Diandra memiringkan kepalanya, menatap bingung pada Siena yang malah fokus meniupi bubur yang masih berasap itu. "Lagi? Kapan aku meminum obatnya?"
Siena mendongak, tersenyum teduh saat mendengar pertanyaan itu. Sepertinya Diandra tidak ingat. "Siang tadi kau mengeluh sakit, oleh karena itu aku memberimu obat, yang tentunya sudah ku suapi bubur seperti ini lebih dulu." Jawabnya dengan mengedipkan sebelah matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrogate Wife [END]
RomanceSiena merasa senang akhirnya bisa menikah dengan seseorang yang ia sukai sejak lama. Namun rasa senangnya itu hilang saat seseorang yang merupakan calon istri dari suaminya yang menghilang, tiba-tiba kembali. "Walaupun Yena sudah kembali, aku tidak...
![Surrogate Wife [END]](https://img.wattpad.com/cover/369209462-64-k27279.jpg)