Demi menyambut kedatangan anak sulungnya, Leo rela menunggu diteras luar rumahnya. Sudah duduk diatas bangku kayu favoritnya, menyiram tanaman mendiang istrinya dan kembali ketempat semula, tapi Diandra tidak kunjung datang juga.
"Sore nanti? Sore seperti apa yang anak itu maksud?" Leo lelah sendiri rasanya, jadi pria itu memilih berbalik dan hendak masuk kedalam rumah setelah 1 jam lebih menunggu diluar. Tapi baru saja membuka pintu, suara mobil yang mendekat membuatnya mengurungkan niat.
"Akhirnya datang juga." Gumamnya senang, kemudian berjalan sedikit mendekat dan bersiap memberikan kata sambutan. Tapi melihat Diandra yang terlihat sibuk didalam, dan bahkan kesulitan untuk keluar, membuat Leo memiringkan kepalanya heran.
"Apa menantu Ayah baik-baik saja?"
Diandra tidak langsung menjawab, pria itu lebih dulu memperbaiki posisi Siena yang menempel seperti koala padanya, juga memperbaiki selimut abu yang membungkus tubuh seksi perempuan itu. "Dia hanya sedang mabuk." Jawabnya tanpa beban, lalu melangkah melewati Leo begitu saja dan masuk kedalam rumah.
Leo hanya bisa diam dan mengikuti langkah Diandra. Melihat sikapnya yang masih dingin seperti itu, Leo sadar bahwa putranya itu masih marah padanya.
"Istirahat lah, nanti akan Ayah panggil setelah adikmu datang."
Tanpa berniat mengiyakan atau menjawab, Diandra melangkah menaiki tangga menuju kamarnya dengan Siena yang masih berada dalam gendongannya.
"Ayah tidak mengikuti kita kan?" Bisik Siena seraya mengangkat kepalanya dan menatap kedepan dengan masih memeluk erat leher Diandra. Melihat situasi yang aman, Siena menghela nafas lega dan menumpukan dagunya dibahu kekar pria yang masih setia memeluknya juga.
"Ada apa sebenarnya denganmu hari ini?" Tanya Diandra setelah menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kamar, menarik perlahan kepala Siena agar ia bisa menatap wajahnya.
"Sebelumnya kau marah-marah, tapi setelahnya kau malah seperti ini?"
Siena hanya berdecak kecil, menangkup wajah Diandra dan memberikan kecupan manis dibibir pria itu. "Itu karena kau menyebalkan, sangat menyebalkan yang membuatku harus berbuat seperti ini." Ucapnya dengan sedikit ketus, karena bagaimanapun, Siena masih kesal pada Diandra sampai detik ini.
Dengan sedikit kesulitan, Siena mencoba turun dari gendongan Diandra, tapi anehnya pria itu malah menahannya dan tidak membiarkannya untuk turun.
"Lepaskan, aku sudah tidak mood untuk menempel padamu." Decaknya kesal, masih mencoba untuk lepas walaupun Diandra tidak akan pernah melepaskannya sedikitpun. Pria itu malah membuka pintu didepannya dan melangkah masuk tanpa membiarkan Siena untuk lepas.
Enak saja ingin lepas begitu saja. Saat di mobil tadi, Siena memaksa duduk diatas pangkuannya selama ia menyetir, mengganggu konsentrasinya dan membuyarkan fokusnya.
Setelah menutup pintu menggunakan kaki, Diandra membawa Siena menuju meja yang biasanya ia pakai untuk mengerjakan sesuatu, lalu mendudukkan perempuan itu disana.
"Diam disini," katanya sebelum kemudian berbalik dan menghampiri lemari dipojok kamar.
Siena hanya diam memperhatikan. Hingga beberapa saat kemudian, Diandra kembali menghampirinya dengan membawa pakaian yang sudah dipilih sebelumnya.
"Ganti pakaianmu dengan ini."
Kepala Siena menunduk, menatap 2 dres yang berada ditangan Diandra. Diraihnya dres berwarna Lilac yang menarik perhatiannya sejak awal, menatapnya cukup lama tanpa kata, sampai-sampai membuat Diandra bertanya-tanya.
"Ada apa? Itu pakaian Ibuku, bukan pakaian wanita lain seperti yang ada didalam kepalamu." Cibirnya saat melihat tatapan sedih Siena yang tertuju pada dres itu. Pasti perempuan itu tengah berpikir macam-macam, apalagi didalam otaknya itu hanya berisikan hal negatif.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrogate Wife [END]
RomanceSiena merasa senang akhirnya bisa menikah dengan seseorang yang ia sukai sejak lama. Namun rasa senangnya itu hilang saat seseorang yang merupakan calon istri dari suaminya yang menghilang, tiba-tiba kembali. "Walaupun Yena sudah kembali, aku tidak...
![Surrogate Wife [END]](https://img.wattpad.com/cover/369209462-64-k27279.jpg)