Surrogate Wife : 26

34.9K 1K 16
                                        

Diandra termenung, bertopang dagu diatas meja dan menatap punggung Siena yang tengah memasak didepannya. Sudah lebih dari 7 hari perempuan itu mengabaikannya, dan terkadang menganggapnya seakan tidak ada.

"Minuman kaleng sudah habis, haruskah aku membelinya?" Diandra angkat suara, mencoba mencairkan suasana yang sangat hening. Tapi, Siena tidak menjawab, perempuan itu sibuk memindahkan masakannya keatas piring.

Menghela nafas panjang, Diandra memilih beranjak dari duduknya dan berjalan lunglai menuju kamar. Perasaan terabaikan ini, perasaan yang sangat tidak asing ini kembali menggerogoti hatinya. Perasaan yang sudah hilang selama 6 tahun ini, kini muncul lagi.

Setelah mengambil dompet dan topinya, Diandra kembali keluar dari dalam kamarnya dan menghampiri Siena lagi. "Aku akan keluar, apa kau mau ikut?" Tanyanya dengan tangan yang meraih sumpit dan mencapit satu ceker ayam pedas yang baru saja Siena simpan diatas meja.

Sembari menunggu jawaban, Diandra menikmati ceker ayam itu dengan kepala yang terus mengangguk. Rasanya enak, sangat pedas hingga membakar lidahnya. Ternyata begini rasa pedas yang levelnya jauh dari seleranya, terasa sangat menantang.

"Masakanmu enak, apa kau tidak memiliki rencana untuk membuka Restoran yang menyediakan segala macam aneka makanan pedas?" Dari awal pernikahan mereka, Diandra kerap kali melihat Siena memasak makanan pedas seperti ini. Apapun bahannya, akan perempuan itu olah menjadi pedas dan membakar lidah.

Tapi anehnya, Siena belum pernah memberikannya makanan pedas seperti itu. Yang perempuan itu berikan padanya hanya dengan level pedas biasa, rasa pedas yang sangat cocok di lidahnya.

"Jika kau mau, aku bisa mencarikan tempat yang cocok untukmu." Lanjutnya lagi setelah menyimpan sumpitnya. Lidahnya terus menjulur keluar, rasa pedasnya benar-benar menyiksa.

"Hwahhh!" Disaat Diandra kelabakan, tiba-tiba Siena menyodorkan air minum padanya. Tanpa menunggu lama, Diandra mengambilnya dan meneguknya hingga tandas.

Dalam diamnya Siena memperhatikan. Beberapa hari ini Diandra menjadi manusia dengan rasa penasarannya yang cukup tinggi. Biasanya pria itu akan acuh dan tidak peduli, tapi sekarang apapun akan pria itu coba hingga merasakannya sendiri.

Contohnya saja saat ini, biasanya Diandra tidak akan pernah tertarik dengan makanan pedas, tapi pria itu malah memakannya dengan ekspresi wajah yang penasaran.

"Diandra."

Merasa namanya disebut, Diandra menatap Siena dengan mata dan bibirnya yang terbuka lebar.

"Jika kau bisa menghabiskan 7 dari ceker ayam itu, aku akan mengabulkan apapun keinginanmu, tanpa terkecuali." Ujar Siena dengan mantap. Sebenernya ia tau Diandra tidak bisa makan pedas, tapi Siena ingin sekali ini saja melihat Diandra uring-uringan karena rasa pedas yang dirasakannya.

"Apapun? Tanpa terkecuali? Bahkan hal yang mungkin kau tidak suka sekalipun?" Tanya Diandra sembari melangkah mendekat, bahkan tanpa segan memojokkan Siena diantara kulkas dan dirinya.

"Sebelum memulainya, aku ingin memberitahukan keinginanku lebih dulu." Diandra berdehem, dan kembali melanjutkan. "Pertama, mulai malam ini kau harus tidur dikamarku. Kedua, kau bebas memelukku kapanpun. Ketiga, kau harus menciumku 5x sehari. Ke empat, kau harus--"

"Apa-apaan itu?!" Dengan cepat Siena menyela, bahkan tangannya mencomot bibir Diandra yang dengan entengnya berceloteh seperti itu tanpa beban. "Aku hanya akan mengabulkan 1 keinginanmu saja."

Dan lagi, mengapa keinginan pria itu malah menguntungkannya? Tidur disatu ranjang yang sama, bebas memeluknya kapan saja dan harus menciumnya 5x sehari? Semua itu jelas keinginan Siena yang selama ini terpendam!!

Surrogate Wife [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang