Surrogate Wife : 15

41K 1.1K 12
                                        

"Rambut panjang hitammu yang tertiup angin."

Siena mengerjap kecil. Apakah Diandra menyukai rambut hitam panjangnya dulu?

"Apa..."

Berdecak kecil, Diandra menyandarkan punggungnya dan menatap langit-langit ruangan sembari memegangi dagunya.

"Saking panjangnya rambutmu dan angin yang bertiup kencang, hingga seseorang yang kebetulan lewat didekatmu harus merasakan tamparan rambut mu itu hingga terjatuh."

Mengingat hal siang tadi, Siena masih saja merasa kesal. Ia kira Diandra akan berkata bahwa rambutnya indah, atau mungkin pria itu menyukai rambutnya. Tapi nyatanya tidak, Diandra masih melanjutkan menceritakan hal memalukan dari dirinya dulu.

Jujur saja, Siena malu saat mendengarnya. Tapi tidak ada sedikitpun di ingatannya tentang semua itu. Apakah otaknya bermasalah hingga tidak mengingat masa kecilnya sendiri? Ataukah karena itu hal memalukan, jadi Siena dengan sengaja melupakannya dulu dan itu berlanjut hingga kini?

"Jika benar apa yang dia bicarakan, wahh betapa memalukannya diriku ini."









••••••••••







Setelah berkemas untuk persiapan pulang besok, Diandra memilih menikmati malam terakhirnya berlibur didalam dapur, ditemani secangkir susu hangat dan ponsel yang ada di genggamannya.

"Aku penasaran, apa yang kalian bicarakan tadi hingga terlihat begitu bahagia?" Tanya Jelio seraya melangkah menghampiri Diandra, mengambil duduk didepan pria itu dan bertopang dagu.

Diandra hanya berdehem singkat, cukup terkejut dengan kedatang Jelio yang tiba-tiba, tidak terdengar sedikitpun suara langkah kakinya atau hawa keberadaan pria itu.

"Hanya bergurau." Setelah cukup lama terdiam, Diandra akhirnya menjawab. Tatapannya kembali fokus pada ponselnya, menatap deretan pesan dari sang Ayah yang meminta Cucu setelah pulang dari liburan ini.

"Sepertinya sudah ada kemajuan ya? Syukurlah, setidaknya Siena tidak merasa di abaikan lagi." Jelio menghela nafas lega, senang rasanya melihat Diandra yang memiliki perubahan terhadap Siena.

"Hm, kemajuan?" Diandra bertanya pada dirinya sendiri. Kemajuan? Apakah mengejek Siena adalah sebuah kemajuan? Ia sudah membuat Siena kembali mengingat masa lalu memalukannya, apakah itu sebuah kemajuan yang bagus?

"Aku hanya mengejeknya, tidak ada maksud lain." Ya memang begitulah adanya, melihat wajah kesal perempuan itu cukup menyenangkan juga.

"Aku tidur dulu, selamat malam." Diandra melenggang pergi setelah menepuk bahu Jelio. Kakinya melangkah menaiki beberapa anak tangga, lalu masuk kedalam kamarnya yang sudah gelap, hanya ada sedikit cahaya diatas nakas yang berasal dari lampu tidur.

Diandra berjalan mendekati ranjang, menaikinya dengan perlahan dan memposisikan dirinya dengan nyaman. Merasakan pergerakan disampingnya, Diandra menoleh dan menatap Siena yang sudah tertidur dengan pulas.

Menghela nafas kecil, Diandra menaruh tangannya diatas kening dan mulai memejamkan matanya.

"Brian, seserakah itukah kau hingga mengambil guling di kamar ini juga?" Gumamnya dan setelahnya masuk kedalam alam mimpi.







••••••••••






Keesokan paginya, Siena menemukan Diandra yang tengah memeluk tangannya dengan erat. Kepala pria itu bersandar pada bahunya, membuat rambutnya yang berantakan mengenai leher dan pipi Siena.

Bukannya senang dengan hal itu, Siena justru merasa kesal karena rambut pria itu mengganggunya. Tangannya yang dipeluk erat semalaman, di pagi harinya kesemutan dan bahkan mati rasa.

Surrogate Wife [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang